Ciri Orang yang Punya Sifat Egois dari Kalimat yang Sering Diucapkan

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 3 menit 506x dilihat
Ciri Orang yang Punya Sifat Egois dari Kalimat yang Sering Diucapkan

Bagikan Postingan

Tahukah Bunda? Psikolog mengatakan pemikiran egois tidak selalu muncul dengan langkah yang jelas. Lebih sering, perihal itu menyelinap ke dalam percakapan melalui kalimat sederhana sehari-hari yang digunakan orang tanpa menyadarinya.

Kalimat ini muncul di tempat kerja, rumah, dan dalam percakapan santai. Secara terpisah, kata-kata tersebut tampaknya tidak berbahaya.

Namun, ketika berulang kali disampaikan, ini secara diam-diam mengubah percakapan menjadi jalan satu arah, namalain satu orang menjadi pusat perhatian.


Mengapa psikolog memperhatikan bahasa?

Dilansir The Economic Times, kepribadian tidak hanya terlihat dalam keputusan besar. Ia juga muncul dalam perilaku mini dan otomatis, terutama dalam berbicara.

Psikolog sosial James W. Pennebaker, seorang guru besar di Universitas Texas, telah menghabiskan bertahun-tahun mempelajari gimana bahasa sehari-hari mencerminkan fokus psikologis.

Penelitiannya, yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Personality and Social Psychology, menemukan bahwa orang yang sering menggunakan kata tukar orang pertama tunggal seperti, “Saya”, “Aku”, dan “Milikku” condong lebih berfokus pada diri sendiri dalam percakapan.

Ini bukan berfaedah mereka sengaja egois. Sering kali, mereka hanya berbincang lantaran kebiasaan. Namun, seiring waktu, pola ini dapat membikin percakapan terasa tidak seimbang, apalagi ketika orang tersebut percaya bahwa mereka sedang bersikap terbuka alias ekspresif.

Ungkapan yang dianggap egois

Beberapa ungkapan yang dikaitkan psikolog dengan pemikiran egois berfokus pada perlindungan diri daripada komunikasi.

Gagasan ini berasal dari karya krusial psikolog Leon Festinger, A Theory of Cognitive Dissonance, yang menunjukkan bahwa orang sangat termotivasi untuk melindungi gambaran dirinya.

Ketika mereka merasa dikritik alias tidak nyaman, mereka sering merespons dengan langkah yang memihak siapa dirinya sebenarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, perihal ini muncul dalam ungkapan seperti “Memang begitulah saya” alias “Saya hanya jujur”.

Penelitian menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan ini sering kali menghentikan percakapan. Pernyataan tersebut menyisakan sedikit ruang untuk umpan kembali alias pemahaman, mengalihkan konsentrasi ke dalam diri sendiri daripada ke arah hubungan.

Logika mengesampingkan emosi

Psikolog klinis juga mempelajari gimana bahasa dapat secara diam-diam mengabaikan emosi orang lain.

Penelitian oleh psikolog James J. Gross, yang diterbitkan dalam Psychological Inquiry, menunjukkan bahwa pengesahan emosional memainkan peran kunci dalam kepercayaan dan komunikasi.

Kalimat seperti “Kamu bereaksi berlebihan” alias “Ini tidak seserius itu” mungkin terdengar tenang alias masuk akal.

Namun, secara psikologis, kalimat tersebut menandakan bahwa emosi pembicara lebih krusial daripada emosi orang lain. Seiring waktu, perihal ini dapat membikin orang kurang bersedia untuk berbagi lantaran mereka mengharapkan emosi mereka diabaikan.

Bagaimana bahasa pengambilan keputusan mengungkapkan prioritas

Pola pikir yang berpusat pada diri sendiri juga terlihat dalam langkah orang berbincang tentang keputusan.

Dalam studi mereka, The Attribution of Responsibility and Valence of Outcomes, psikolog Dale Miller dan Michael Ross meneliti apa yang dikenal sebagai bias mementingkan diri sendiri, kecenderungan untuk menafsirkan situasi dengan langkah yang menguntungkan diri sendiri.

Dalam percakapan sehari-hari, ini muncul dalam kalimat seperti “Itu tidak cocok untuk saya”, terutama ketika digunakan berulang kali tanpa obrolan alias kompromi.

Penelitian ilmu jiwa organisasi menunjukkan bahwa meskipun menetapkan batas itu sehat, memprioritaskan kenyamanan pribadi secara konsisten dapat membebani kerja tim dan hubungan.

Nah, itulah kalimat yang dapat dikenali menjadi karakter orang egois. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads