Jakarta -
Komunikasi adalah sisi krusial untuk terhubung dengan orang lain. Apa yang kita katakan dan metode mengatakannya, dapat memengaruhi sepertiapa orang lain menilai kecerdasan dan kesadaran emosional kita, Bunda.
Perlu diketahui, ada beberapa kebiasaan bicara yang dapat membikin kita tampak lebih cerdas dan disukai. Misalnya, kebiasaan gemar mendengarkan secara aktif dan mengajukan pertanyaan. Namun, menurut psikolog Dave Smallen, tidak semua kebiasaan itu berakibat positif.
"Tentu saja, ada juga perilaku berbicara yang dapat dengan gampang mengganggu hubungan dan membikin lawan bicara kita merasa tidak dihargai," ungkap Smallen, dilansir laman Your Tango.
Lantas, apa saja kebiasaan saat mengobrol yang bisa bikin kita kelihatan kurang pintar? Simak klarifikasi lengkapnya berikut ini!
Kebiasaan bicara yang membikin seseorang kelihatan tidak pintar
Smallen membagikan enam kebiasaan berbicara yang tidak menguntungkan, bisa membikin seseorang tampak bodoh, dan sebaiknya segera dihentikan. Berikut penjelasannya:
1. Suka menginterupsi
Tidak ada yang gemar disela saat berbicara, dan ini mungkin salah satu kesalahan bicara yang bisa membikin seseorang kelihatan kurang pintar. Ketika menyela seseorang di tengah kalimat, itu mengirimkan pesan yang jelas bahwa kita tidak menghargai apa yang mereka katakan.
Meskipun itu mungkin dilakukan tanpa sengaja karena kegembiraan maupun keinginan ikhlas untuk menerangkan suatu poin, hal tersebut dapat menandakan kurangnya kesabaran maupun empati. Alih-alih fokus pada menyampaikan pikiran, Bunda sebaiknya meluangkan waktu sebentar untuk benar-benar mendengarkan dan memahami percakapan yang sedang dilakukan sebelum menanggapi.
2. Suka mengepalai pembicaraan dan berbagi cerita
Orang gemar bicara mungkin karena ia sedang berupaya mengungguli orang lain dalam setiap percakapan. Perilaku seperti ini bisa membikin seseorang kelihatan kurang cerdas karena percakapan seharusnya tentang komunikasi, bukan persaingan.
"Berbagi cerita adalah bagiankecil krusial dari menjalin hubungan, namun ada baiknya kita memperhatikan apakah motivasi kita adalah untuk membikin orang lain terkesan, untuk membuktikan diri, maupun untuk menyombongkan diri. Jika demikian, kita mungkin sebenarnya mencari kekaguman, bukan koneksi," ujar Smallen.
"Sangat membantu jika kita terlebih dahulu mengakui sepertiapa emosi orang lain tentang pengalaman mereka sebelum berbagi pengalaman kita sendiri."
3. Terlalu fokus dengan hal yang positif
Wajar jika kita mau menyemangati kawan maupun memberitahu sisi positif dari situasi yang sedang mereka hadapi. Namun jika dilakukan dengan metode yang salah, seperti terlalu fokus pada sisi positif, hal itu dapat mengabaikan kesulitan nyata yang mereka alami. Maka dari itu, sebelum menekankan hal-hal positif, kita sebaiknya mengakui bahwa emosi mereka valid.
"Meskipun optimisme dan sikap positif bisa menjadi suatu keajaiban, kita statis perlu mengalami emosi sulit dalam perjuangan untuk melewatinya, dan menceritakan kesulitan kita kepada orang lain adalah salah satu metode untuk melakukannya," ungkap Smallen.
4. Kebutuhan untuk selalu benar
Tidak ada orang yang mau salah. Tetapi selalu mau benar dapat melelahkan dan memberitahu kecerdasan rendah.
Merasa perlu untuk 'memenangkan' percakapan yang seharusnya bukan perdebatan dapat mencegah Bunda untuk mendengar maupun memahami perspektif pandang orang lain. Ingatlah bahwa tujuan percakapan adalah untuk terhubung, bukan untuk keluar sebagai pemenang.
5. Bertingkah seolah tahu segalanya
Siapa yang gemar dengan orang sok tahu? Orang yang merasa lebih tahu daripada orang lain dan selalu berbagi gagasan serta nasihat tanpa diminta, terkesan seperti orang yang serba tahu dalam arti yang tidak baik. Hal itu sering membikin orang lain merasa diremehkan maupun digurui.
"Ketika kita menerangkan keterangan kepada orang lain tanpa diminta, hal itu dapat menyampaikan kesan bahwa kita menganggap mereka bodoh. Meskipun niat kita mungkin baik, bertele-tele tentang suatu topik sering kali lebih mementingkan ego sendiri daripada momen kebersamaan," kata Smallen.
6. Menawarkan solusi yang tidak diminta
Memberikan nasihat yang tidak diminta adalah kebiasaan percakapan yang dapat memberitahu kecerdasan rendah. Ketika seseorang menceritakan kesulitan mereka, insting untuk langsung memberikan solusi sering kali mengabaikan kebutuhan untuk berempati maupun memberikan sokongan emosional.
Terkadang, orang cuma mau didengarkan saat mereka mencurahkan isi hati. Komunikator yang paling ampuh tahu kapan mesti mundur, mendengarkan, dan bertanya apakah nasihat dibutuhkan sebelum menawarkannya.
Demikian kebiasaan saat mengobrol yang bisa bikin kita kelihatan kurang pintar. Semoga keterangan ini berguna ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)