Mengkhawatirkan Bun, 1 dari 50 Ibu Hamil di Negara Ini Idap HIV

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 226x dilihat
Mengkhawatirkan Bun, 1 dari 50 Ibu Hamil di Negara Ini Idap HIV

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kasus HIV pada ibu hamil menjadi perhatian setelah negara Fiji menetapkan HIV sebagai keadaan darurat nasional. Data Joint United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS) memberitahu jumlah infeksi HIV di negara kepulauan Pasifik tersebut meningkat hingga 12 kali lipat dalam 15 tahun terakhir. Kondisi ini juga berakibat pada himpunan ibu hamil, dengan diperkirakan 1 dari 50 ibu hamil di Fiji hidup dengan HIV.

Mengutip halaman Fox59, keterangan terbaru memberitahu sekitar 9.000 orang hidup dengan HIV pada 2025 di negara yang memiliki jumlah penduduk kurang dari satu juta batin itu, menurut badan PBB tersebut.  UNAIDS mengutarakan bahwa cuma 39 persen pasien yang mengetahui status HIV mereka, sementara cuma 22 persen yang mendapatkan pengobatan antiretroviral.

Diperkirakan 1 dari 50 ibu hamil di Fiji hidup dengan HIV

Menteri Kesehatan Fiji, Antonio Lalabalavu  mengatakan 1 dari setiap 60 orang dewasa di negara tersebut menderita HIV, dibandingkan dengan 1 dari 167 orang lima tahun sebelumnya. Sementara itu, di antara perempuan hamil, 1 dari setiap 50 orang diketahui menderita HIV.


“Ini berarti HIV kini telah menjadi krisis nasional dan pemerintah menanganinya sebagai sebuah krisis. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan seperti biasa. Lebih banyak orang di Fiji yang hidup dengan HIV dibandingkan sebelumnya," kata Menteri Kesehatan Fiji, Antonio Lalabalavu dikutip dari halaman Fox59. 

Lalabalavu mengatakan pandemi tersebut telah ditetapkan berstatus sebagai pandemi pada Januari 2025, tetapi ia mengatakan Kabinet memutuskan bulan ini bahwa respons tersebut tidak lagi memadai dan statusnya perlu ditingkatkan menjadi darurat nasional. 

Menurutnya, keputusan itu mengharuskan beragam institusi pemerintah bekerja sama dengan kementerian kesehatan untuk mengatasi masalah tersebut. Ia menambahkan, semakin banyak kasus ditemukan karena upaya pengecekan HIV kini menjangkau lebih banyak orang. Pemerintah mengatakan akan memperluas jasa tes HIV cuma-cuma dan pengobatan cuma-cuma bagi orang yang dinyatakan positif. 

Pemerintah juga akan menyediakan jarum suntik bersih bagi pelanggan narkoba. Namun, stigma terhadap pandemi tersebut statis menjadi persoalan.

"Ini adalah upaya untuk melindungi masyarakat, bukan menghakimi mereka, bukan mengamati mereka, dan bukan mempermalukan mereka," kata Lalabalavu.

Mengapa kasus HIV pada ibu hamil perlu mendapat perhatian?

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan AIDS. Ketika seseorang terinfeksi HIV, virus tersebut menyerang dan melemahkan mekanisme kekebalan tubuh.  Seiring mekanisme kekebalan tubuh melemah, seseorang menjadi lebih berisiko mengalami infeksi yang menakut-nakuti batin dan kanker. Ketika kondisi tersebut terjadi, pandemi ini disebut AIDS.

Mengutip halaman CDC menerangkan bahwa infeksi HIV dapat memengaruhi kesehatan ibu, hasil kehamilan, dan kondisi bayi. Bayi yang lahir dengan HIV dan tidak segera terdiagnosis dapat mengalami evolusi penyakit, termasuk infeksi oportunistik dan komplikasi lain.

Namun, pengecekan HIV pada kehamilan bukan berarti ibu tidak dapat menjalani kehamilan dan memiliki bayi yang sehat. Pengobatan antiretroviral (ART) dapat menurunkan jumlah virus dalam tubuh dan membantu mencegah penularan HIV kepada bayi.

Mengutip halaman Medlineplus, sebagian besar anak yang terinfeksi HIV mendapatkan virus tersebut ketika HIV menular dari ibu yang positif HIV kepada anaknya. Penularan dapat terjadi selama kehamilan, persalinan maupun menyusui.

Hanya darah, air mani, cairan vagina, dan ASI yang telah terbukti dapat menularkan infeksi HIV kepada orang lain.  Namun virus HIV tidak menular kepada bayi melalui kontak biasa, seperti berpelukan maupun menyentuh.

Lalu menyentuh barang yang pernah disentuh oleh orang yang terinfeksi HIV, seperti handuk maupun kain lap.  Kemudian air liur, keringat, maupun air mata yang tidak bercampur dengan darah dari orang yang terinfeksi.

Dampak HIV pada kehamilan dan janin

HIV dapat memengaruhi kesehatan ibu dan bayi sehingga membutuhkan pemantauan medis selama kehamilan. Infeksi HIV dapat memengaruhi kesejahteraan ibu, hasil kehamilan, serta kesehatan anak.

Bayi yang lahir dengan HIV dan tidak segera didiagnosis berisiko mengalami evolusi penyakit, termasuk infeksi oportunistik dan ensefalopati pada usia 1–2 tahun pertama kehidupan. 

Mengutip Baby Center, evolusi terapi HIV membikin AIDS pada anak yang lahir dengan HIV menjadi jauh lebih jarang khususnya ketika terapi antiretroviral digunakan. Pasalnya tanpa terapi antiretroviral (ART), konsekuensi penularan dari ibu ke bayi mencapai 15 persen hingga 45 persen. Karena itu, inovasi HIV sedini mungkin selama kehamilan menjadi bagiankecil krusial dari perawatan ibu dan bayi.

Selain itu, infeksi HIV yang tidak terkontrol menaikkan konsekuensi komplikasi kesehatan pada ibu hamil serta potensi konsekuensi kelahiran prematur maupun bermutu badan lahir rendah. 

Pentingnya tes HIV saat hamil

Tes HIV dianjurkan sebagai bagiankecil dari pengecekan kehamilan.  Semua ibu hamil sebaiknya menjalani tes skrining HIV berbareng dengan pengecekan kehamilan lainnya. Perempuan yang memiliki konsekuensi tinggi terkena HIV sebaiknya menjalani skrining kedua pada trimester ketiga.

Ibu yang belum pernah menjalani tes HIV dapat berbuat tes HIV cepat saat persalinan. Perempuan yang diketahui positif HIV selama kehamilan akan menjalani pengecekan darah secara rutin, termasuk:

  • Jumlah CD4, untuk mengetahui jumlah sel CD4 dalam darah.
  • Tes viral load, untuk mengetahui jumlah virus HIV dalam darah.
  • Tes resistansi, untuk mengetahui apakah virus dapat merespons obat-obatan yang digunakan untuk mengobati HIV.

Sementara pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV perlu menjalani pengecekan untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi HIV. Pemeriksaan ini mendeteksi jumlah virus HIV yang terdapat di dalam tubuh.

Pada bayi yang lahir dari ibu positif HIV, pengecekan HIV dilakukan pada 14 hingga 21 hari setelah lahir. usia 1 hingga 2 bulan dan usia 4 hingga 6 bulan.

Jika hasil dari dua tes memberitahu hasil negatif, bayi dianggap tidak mengalami infeksi HIV. Jika hasil salah satu tes memberitahu hasil positif, bayi dinyatakan terinfeksi HIV. Bayi yang memiliki konsekuensi sangat tinggi terinfeksi HIV dapat menjalani pengecekan sejak lahir.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads