Pernah berjumpa perempuan yang kelihatannya selalu tenang, mandiri, dan siap menghadapi apa pun? Bisa jadi, Anda melihat seseorang yang memang punya karakter kuat. Namun, ciri khas perempuan yang pernah melewati banyak hal terkadang muncul dari metode seseorang belajar bertetap menghadapi pengalaman sulit di masa lalu.
Menariknya, pengalaman tersebut tidak selalu kelihatan jelas dari luar. Ada perempuan yang justru tampak sangat mandiri. Ada juga yang gampang bereaksi terhadap hal kecil, tetapi statis tenang ketika menghadapi masalah besar.
Menurut sejumlah psikoterapis dan konselor yang dikutip dari Your Tango, pola seperti ini dapat berhubungan dengan pengalaman masa lalu. Meski begitu, tentu tidak semua perempuan dengan ciri-ciri berikut pernah mengalami trauma. Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan cuma dari satu perilaku, ya, Beauties.
Lantas, seperti apa tanda-tandanya?
Reaksinya Bisa Terlihat Berlebihan untuk Hal Kecil

Reaksinya Berlebihan/Foto: Magnific
Pernah lihat seseorang tiba-tiba sangat jengkel karena hal yang menurutmu sepele? Di sisi lain, saat menghadapi masalah besar, dia justru kelihatan sangat tenang. Pola seperti ini bisa terasa membingungkan bagi orang di sekitarnya.
Menurut psikoterapis Ilene Strauss Cohen, orang yang cenderung “overreact” terhadap hal kecil dapat memiliki pemicu tertentu dari pengalaman masa lalu. Pemicu tersebut bisa memunculkan rasa takut, cemas, maupun stres secara mendalam pada situasi yang tidak disangka.
Misalnya, sebuah perkataan sederhana bisa mengingatkan seseorang pada pengalaman yang tidak menyenangkan. Tubuh dan emosinya kemudian bereaksi seolah sedang menghadapi intimidasi yang lebih besar.
Hal ini juga dapat berhubungan dengan kebutuhan masa kecil yang tidak terpenuhi maupun pengalaman sulit tertentu. Bagi perempuan yang banyak beban, respons emosional seperti ini bisa menjadi metode tubuh menghadapi sesuatu yang terasa familiar. Hanya saja, orang lain belum tentu mengetahui cerita di baliknya.
Terlihat Jauh Lebih Dewasa dari Usianya

Terlihat Lebih Dewasa/Foto: Magnific
Ada jenis perempuan yang dari dahulu terbiasa mengurus semuanya sendiri. Saat kawan lain statis bisa meminta bantuan, dia sudah terbiasa mencari solusi tanpa banyak mengeluh.
Sekilas, sifat tersebut memang kelihatan seperti kedewasaan. Namun, menurut Jessica MacNair, seorang licensed professional counselor, pengalaman traumatis pada anak dapat membikin mereka belajar menghindari intimidasi sejak dini.
Kondisi ini juga dapat berhubungan dengan parentification, yaitu ketika anak memungut tanggung jawab yang seharusnya menjadi tugas orang tua maupun pengasuhnya.
Akibatnya, seorang anak bisa terbiasa menjadi “orang dewasa” sebelum waktunya. Kebiasaan tersebut kemudian dapat terbawa hingga dewasa.
Sulit Meminta dan Menerima Bantuan

Sulit Menerima dan Meminta Bantuan/Foto: Magnific
“Biar aku saja yang urus.” Kalimat sederhana ini mungkin terdengar biasa. Namun, bagi sebagian perempuan, berbuat semuanya sendiri sudah menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan.
Menurut para ahli dari Grouport Therapy, penyintas trauma dan orang yang mengalami banyak pengalaman sulit dapat mengembangkan pola pikir sangat berdikari untuk melindungi diri. Mereka merasa lebih terlindungi ketika kebutuhan mereka tidak bersandar pada orang lain.
Alasannya bisa beragam. Misalnya, pernah dikecewakan, ditinggalkan, maupun merasa tidak mendapatkan sokongan dari orang terdekat.
Akhirnya, meminta pertolongan justru terasa tidak nyaman. Menerima pertolongan pun bisa menimbulkan rasa sungkan maupun cemas akan mengecewakan orang lain.
Padahal, riset yang dipublikasikan dalam Psychological Science menunjukkan bahwa meminta, menerima, dan memberikan pertolongan kepada orang lain berhubungan dengan rasa ceria dan keterhubungan sosial yang lebih baik.
Jadi, jika ada perempuan yang selalu berkata “aku bisa sendiri”, belum tentu dia tidak membutuhkan bantuan. Bisa saja dia cuma belum terbiasa merasa terlindungi ketika bersandar kepada orang lain.
Tidak Mudah Mempercayai Orang Lain

Tidak Mudah Percaya dengan Orang Lain/Foto: Magnific
Kepercayaan tidak selalu datang dengan mudah, terutama bagi seseorang yang pernah mengalami hubungan yang membuatnya kecewa.
Menurut Darius Cikanavicius, seorang mental health coach, pengalaman masa kecil seperti kurang mendapatkan kasih sayang, perlindungan, maupun perhatian dari orang tua dapat berhubungan dengan masalah kepercayaan saat dewasa.
Temuan riset yang dilakukan pada 1996 juga turut mendukung adanya hubungan antara pengalaman masa kemudian dengan pola kepercayaan seseorang.
Pada perempuan yang banyak beban, sikap waspada tersebut bisa kelihatan dalam hubungan sehari-hari. Dia mungkin membutuhkan waktu lebih durasi sebelum benar-benar membuka diri.
Bukan karena dia sengaja menjaga jarak. Bisa jadi, pengalaman sebelumnya membuatnya belajar bahwa orang yang paling dekat sekalipun dapat mengecewakan.
Masalahnya, terlalu sulit mempercayai orang lain juga bisa membikin hubungan baru terasa melelahkan. Ketika terus bersiap menghadapi kemungkinan buruk, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk merasa terlindungi berbareng orang lain.
Selalu Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk

Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk/Foto: Magnific
Kamu punya kawan yang selalu membawa payung meski langit sedang cerah? Atau seseorang yang sudah memikirkan sepuluh kemungkinan buruk sebelum sesuatu benar-benar terjadi?
Kalau iya, bisa jadi dia memang jenis orang yang sangat gemar bersiap. Namun, dalam beberapa kondisi, kebiasaan selalu mengantisipasi hal terburuk dapat berhubungan dengan pengalaman sulit di masa lalu.
Psikoterapis Sharon Martin menerangkan konsep catastrophizing, yaitu kecenderungan membayangkan maupun mengantisipasi skenario terburuk. Pola ini dapat berhubungan dengan trauma maupun kondisi kesehatan mental seperti kecemasan.
Seseorang yang tumbuh tanpa merasa cukup didukung maupun dilindungi dapat terbiasa memungut tanggung jawab tersebut untuk dirinya sendiri.
Akhirnya, kewaspadaan menjadi seperti “mode otomatis”. Sebelum sesuatu terjadi, dia sudah memikirkan jalan keluar. Sebelum ada masalah, dia sudah menyiapkan kemungkinan terburuk.
Dari luar, sikap ini memang kelihatan sangat siap. Namun, terus-menerus eksis dalam kondisi waspada juga bisa membikin seseorang sulit benar-benar santai.
Lima perilaku di atas memang dapat ditemukan pada orang yang pernah mengalami pengalaman sulit. Namun, satu maupun dua ciri khas saja tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang memiliki trauma.
Jadi, jika Anda menemukan ciri khas perempuan yang pernah melewati banyak hal pada seseorang di sekitarmu, mungkin yang paling dibutuhkan bukan penilaian. Bisa jadi, dia cuma membutuhkan ruang yang terlindungi untuk bercerita dan menjadi dirinya sendiri.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)