Kincai Media – Harga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) menjadi sorotan setelah rilis informasi inflasi terbaru Amerika Serikat (CPI) untuk Maret 2026.
Inflasi tercatat naik ke 3,3 persen secara tahunan, menjadi salah satu level tertinggi dalam nyaris dua tahun terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan biaya daya akibat bentrok geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang Iran.

Ini merupakan informasi CPI pertama sejak bentrok AS-Iran dimulai pada akhir Februari. Kenaikan inflasi mencerminkan akibat langsung dari lonjakan nilai minyak dan gangguan rantai pasok global.
Tak hanya AS, negara lain juga terdampak. Jepang, misalnya, mencatat kenaikan Producer Price Index (PPI) ke level tertinggi dalam empat bulan, seiring naiknya nilai minyak setelah gangguan di Selat Hormuz.
Meski inflasi meningkat, bank sentral diperkirakan bakal berhati-hati dalam meningkatkan suku kembang lantaran akibat memperburuk kondisi ekonomi.
Berdasarkan informasi CME FedWatch, sekitar 98 persen pelaku pasar memperkirakan bahwa The Fed bakal mempertahankan suku kembang di kisaran 3,50 persen – 3,75 persen.
Ekspektasi ini menunjukkan bahwa pasar sudah mengantisipasi kondisi inflasi tinggi dan memilih menunggu stabilitas sebelum perubahan kebijakan moneter.
Baca Juga: Morgan Stanley Resmi Tantang BlackRock di ETF Bitcoin
Dalam kondisi inflasi tinggi, Bitcoin sering dipandang sebagai aset lindung nilai (hedge).
Jika narasi ini kembali menguat, permintaan terhadap Bitcoin berpotensi meningkat, yang juga dapat mendorong kenaikan nilai Ethereum dan aset mata duit digital lainnya.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$ 72.233, sementara Ethereum berada di kisaran US$ 2.220.
Secara teknikal, Bitcoin membentuk pola bull flag pada diagram 4 jam. Pola ini biasanya menjadi sinyal kelanjutan tren naik setelah fase konsolidasi.
Jika breakout terjadi, Bitcoin berpotensi naik sekitar 6,8 persen menuju area US$ 77.000, yang menjadi level tertinggi sejak awal Februari.
Indikator pendukungnya, ialah ADX menunjukkan tren naik yang kuat
RSI berada di level 67 (bullish momentum).
Selain itu Ethereum juga menunjukkan pola serupa, namun sudah lebih dulu melakukan breakout. Jika level resisten sukses berubah menjadi support, ETH berpotensi naik sekitar 9 persen menuju US$ 2.400.
Indikator teknikal memperkuat skenario ini adalah RSI Crossover bullish dan Golden cross pada MA 50 dan MA 150.
Disclaimer: Semua konten yang diterbitkan di website Kincai Media ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan yang telah tayang di Kincai Media bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata duit digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Kincai Media tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·