Cukupkah Rp10 Ribu untuk Makan Bergizi Anak? Ini Penjelasan Ahli

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 2 menit 517x dilihat
Cukupkah Rp10 Ribu untuk Makan Bergizi Anak? Ini Penjelasan Ahli

Bagikan Postingan

Lembaga Southeast Asian Ministers of Education Organitation-Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO-RECFON) merilis hasil kajian mengenai kondisi gizi anak di Indonesia. Temuan tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pemerintah mengenai pemenuhan gizi anak.

Selain memetakan kondisi gizi, SEAMEO RECFON menyusun rekomendasi menu makanan bergizi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Kajian tersebut menyatakan menu makan anak yang bergizi kudu disesuaikan dengan menu lokal di setiap daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON Dr dr Brian Sri Prahastuti yang juga merupakan master nutrisi dari Universitas MH Thamrin menanggapi soal kecukupan anggaran Rp10 ribu per porsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).


Nominal tersebut sebelumnya menjadi perhatian publik lantaran dinilai sebagian pihak susah untuk mencukupi kebutuhan gizi anak. Namun, menurut Brian, pemenuhan gizi tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran dalam corak nominal.

Ia mengatakan pemanfaatan pangan lokal menjadi salah satu aspek krusial dalam menyusun makanan bergizi dengan biaya yang tersedia.

"Ini kayaknya cukup menantang juga ya, lantaran waktu menu dibikin kan belum ada tuh keluar nomor sekian ribu begitu untuk menu MBG," kata Brian dalam konvensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, nilai per porsi menjadi lebih murah lantaran pengolahan dilakukan dalam jumlah yang besar ialah lewat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Meski demikian, andaikan merujuk pada rekomendasi menu bergizi yang disusun berasas pangan lokal, anggaran Rp10 ribu tetap menjadi tantangan untuk menyediakan seluruh menu yang direkomendasikan.

Misalnya untuk menu bergizi anak SD yang ideal di daerah regional Jawa 1, itu bisa berupa nasi goreng komplet, nasi timbel oncom teri alias nasi ulekan udang ramuan Sunda.

Menurut Brian, menu tersebut tidak kudu diterapkan secara persis. SPPG dapat mencari menu lain yang mempunyai kandungan gizi dan komposisi yang setara. "Sebetulnya menu ini kan juga tidak menjadi paksaan juga bahwa kudu seperti ini ya. Tetapi bisa jadi dicari ke apa namanya, penyetaraannya," tutur Brian.

"Yang paling krusial adalah tadi kaitannya bahan pangannya apa, kemudian jika teman-teman memandang di kitab katalog ini adalah menunya itu bukan sesuatu yang apa namanya, bukan sesuatu yang biasa-biasa saja juga," sambung Brian.

Menurut Brian, penyesuaian menu dengan kondisi daerah juga berangkaian dengan penerimaan anak terhadap makanan. Hidangan yang diberikan sebaiknya sesuai dengan selera dan kebiasaan makan masyarakat setempat.

TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads