Wanita Aceh berbusana budaya menaburkan kembang dan menyiramkan air saat berkunjung dalam rangka memperingati Hari Pahlawan di situs sejarah Makam Pahlawan Nasional Laksamana Malahayati, di perbukitan desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, kabupaten Aceh Besar, Aceh, Senin (9/11/2020). Laksamana Malahayati, seorang wanita Aceh yang mempunyai sekitar 2.000 pasukan Inong Bale (wanita janda) dan sejumlah armada kapal perang yang berjuang mengusir Belanda pada masa Kesultanan Aceh Darussalam (1585-1604) itu ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh presiden Joko Widodo pada 6 November 2017.
Kincai Media , JAKARTA -- Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya diwarnai oleh peran kaum laki-laki. Sejumlah Muslimah turut tampil sebagai tokoh krusial yang mengabdikan hidupnya demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa, baik melalui jalur perlawanan fisik, pendidikan, maupun dakwah.
Salah satu nama yang paling dikenal adalah Raden Ajeng Kartini. Lahir di Jepara pada 21 April 1879, Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan. Ia memperjuangkan kesetaraan kewenangan perempuan, khususnya dalam memperoleh pendidikan di tengah kuatnya budaya patriarki pada masa itu.
Bertepatan dengan Selasa (21/4/2026), masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini, hari kelahiran sang pahlawan kemerdekaan. Momentum ini menjadi pengingat bakal kemajuan dan potensi luar biasa yang dimiliki wanita Indonesia.
Selain Kartini, sosok Cut Nyak Dhien juga menjadi simbol keberanian wanita Nusantara. Lahir di Aceh pada 1848, dia terjun langsung ke medan perang melawan kolonialis Belanda. Keberadaannya bisa membangkitkan semangat juang rakyat Aceh dalam melawan kolonialisme.
Nama lain yang tak kalah krusial adalah Rasuna Said. Tokoh asal Sumatera Barat ini dikenal vokal memperjuangkan hak-hak wanita serta mendorong keterlibatan wanita dalam perjuangan kemerdekaan. Ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1974.
Dari Sulawesi Selatan, ada Opu Daeng Risaju yang juga dikenal dengan nama Famajjah. Meski tidak mengenyam pendidikan formal, dia aktif dalam pergerakan politik melalui Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) dan memobilisasi rakyat untuk melawan kolonialis Belanda.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·