Hadis: Mendidik Anak Mengikuti Tuntunan Syariat

Apr 22, 2026 11:00 AM - 10 jam yang lalu 514

Pada pembahasan kali ini, kita bakal melanjutkan pembahasan dari kitab “40 Hadits Tentang Tarbiyah dan Manhaj” karya Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah As-Sadhaan hafizhahullah dengan membahas sabda kelima tentang “Mendidik Anak Mengikuti Tuntunan Syariat”,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا, فَقَالُوا: وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Tiga orang laki-laki mendatangi rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menanyakan tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala saya kabarkan kepada mereka (tentang ibadah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ), seakan-akan mereka memandang perkara tersebut begitu sedikit. Mereka berkata, ‘Di manakah (posisi) kita dibanding Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sungguh telah diampuni dosa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lampau dan yang bakal datang.’

Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Adapun aku, maka sungguh saya bakal salat sepanjang malam selama-lamanya.’ Dan salah seorang lainnya berkata, ‘Aku bakal berpuasa sepanjang tahun dan saya tak bakal pernah berbuka (tidak berpuasa).’ Dan seorang lainnya (laki-laki yang terakhir) berkata, ‘Aku bakal menarik diri dari wanita dan saya tidak bakal menikah selama-lamanya (untuk konsentrasi beribadah).’

Lalu datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka, beliau pun bersabda, ‘Apakah kalian yang mengatakan tentang perkara ini dan perkara itu? Ada pun aku, demi Allah, sungguh saya adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan saya adalah orang yang paling bertakwa kepada–Nya (dibanding kalian). Akan tetapi, saya berpuasa dan saya berbuka, saya menegakkan salat dan saya juga tidur, serta saya pun menikahi wanita. Barang siapa yang beralih dari sunahku, ia bukanlah (termasuk) dari golonganku.’” (HR. Bukhari no. 5063, Muslim no. 1401, An-Nasa’i no. 3217, Ahmad no. 13534, dan yang lainnya)

Donasi Kincai Media

Beberapa faidah dari hadis:

1) Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah generasi yang paling semangat mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Generasi yang paling semangat dalam mencontoh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam saja diberikan rambu-rambu batas tatkala semangat dan niat baik yang mereka miliki membikin mereka menyelisihi tuntunan syariat. Batasan ini tentunya bertindak pula untuk umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai akhir zaman.

2) Sesungguhnya yang menjadi tolok ukur bagi suatu ibadah adalah gimana keadaan ibadah tersebut secara kualitas, bukan tentang banyaknya (kuantitas).

3) Komitmen terhadap sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beramal sesuai dengan tuntunan syariat, bukan dengan banyaknya ibadah semata. Amalan yang sedikit, namun bersesuaian dengan tuntunan hukum tentunya jauh lebih utama dibandingkan dengan ibadah yang banyak, namun menyelisihi tuntunan syariat. Seorang pendidik maupun orang tua hendaknya senantiasa menanamkan prinsip ini kepada murid-murid maupun anak-anak mereka. Mengajarkan kepada mereka tata langkah ibadah yang sesuai dengan tuntunan hukum dan senantiasa mengingatkan mereka untuk memperbaiki pondasi dari setiap amalan yang mereka lakukan, yakni niat. Prinsip yang kuat bakal membikin mereka tidak mudah tergiur dengan janji-janji pahala maupun keistimewaan di luar logika yang ditawarkan oleh oknum-oknum yang mau merusak kepercayaan ini dengan menambah syariat yang telah Allah Ta’ala sempurnakan. Allah Ta’ala berfirman,

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

4) Penetapan norma terhadap suatu ibadah berasas logika tidak serta merta menjadikan ibadah tersebut sebagai bagian dari kepercayaan selain dengan adanya persetujuan syariat. Ketika logika menganggap suatu perbuatan itu baik, belum tentu perbuatan itu juga bersesuaian dengan syariat. Lihat, apakah ibadah tersebut ada dalilnya alias tidak, apakah ada dari kalangan salafus shalih yang melakukannya alias tidak, dan lihat pula gimana pendapat para ustadz mengenai ibadah tersebut. Jika ada parameter bahwa ibadah tersebut disyariatkan, maka lakukanlah; jika tidak, maka tinggalkanlah.

5) Islam mengajarkan untuk senantiasa mencari kepastian dari sebuah kabar, tidak serta merta menelan mentah-mentah sebuah buletin tanpa berupaya mengetahui kebenarannya. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui berita tiga orang laki-laki yang hendak menyelisihi syariat-Nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  memastikan terlebih dulu apakah mereka betul-betul mengatakan perihal itu, barulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan kekeliruan mereka. Sebagai seorang pendidik maupun orang tua, hendaknya kita mencontoh apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dalam mendidik para sahabat radhiyallahu ’anhum. Jangan hanya konsentrasi pada kesalahan murid-murid ataupun anak-anak yang kita dengar maupun ketahui dari orang lain saja, bakal tetapi fokuslah untuk menanyakan kepada mereka kebenaran dari buletin tersebut. Ketika mereka mengakuinya, tanyakan argumen mereka melakukan perbuatan itu, kemudian luruskanlah. Berikan pula apresiasi atas kejujuran mereka, arahkan mereka dengan baik dan jangan lupa untuk mendoakan hidayah kepada mereka.

6) Tugas orang tua maupun pendidik bukan hanya mendukung segala yang anak-anak ataupun murid-murid mereka mau lakukan, meskipun nampaknya perihal tersebut baik. Orang tua maupun pendidik tidak hanya berkedudukan sebagai suporter, melainkan sebagai pemandu arah. Tatkala kita mendapati siswa alias anak yang perilaku maupun pemikirannya menyelisihi syariat, langkah mengarahkannya haruslah dengan penuh hikmah sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tuntunkan.

Berikut ini tahapan yang dapat dilakukan:

  • Mengambil hati mereka, membangun hubungan yang baik sebelum melakukan perbaikan. Connection before correction. Konsep ini yang menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pengikut dengan loyalitas yang tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membangun kedekatan dengan para sahabatnya.
  • Membangun komunikasi efektif dua arah dengan membujuk berdiskusi.
  • Memberikan keteladanan maupun contoh yang nyata. Sebagaimana di dalam sabda ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keteladanan dalam bersungguh-sungguh mengikuti hukum sebelum beliau menasihati para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

7) Bolehnya menyebut kelebihan maupun kebaikan diri sendiri untuk kemaslahatan, bukan dalam rangka menyombongkan diri. Sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan dalam sabda yang mulia ini, tujuannya agar para sahabat radhiyallahu ‘anhum tersadar bakal kekeliruan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling bertakwa di antara seluruh manusia saja berpuasa dan juga berbuka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salat, bakal tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki waktu untuk beristirahat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikah dengan wanita. Maka apakah layak bagi seorang hamba menganggap bahwa dirinya bakal mencapai derajat yang lebih mulia dengan melakukan amalan-amalan yang menyelisihi hukum Nabi-Nya?

8) Setiap ibadah yang menyelisihi syariat, maka semuanya tertolak, baik lantaran mendapat tambahan maupun pengurangan. Ketahuilah bahwa ketika seseorang menambah alias mengurangi syariat, maka sejatinya dia sedang merendahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa tidaklah sempurna, sehingga perlu ditambah ataupun dikurangi. Selain itu, perilaku menambah maupun mengurangi ini menyelisihi firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Maidah ayat ke-3 yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Allah Ta’ala  telah menyempurnakan kepercayaan ini.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Baca juga: “Reward and Punishment” dalam Mendidik Anak

***

Penulis: Putri Idhaini

Artikel Kincai Media

Referensi:

  1. ‘Arba’una Haditsan fii Tarbiyati wa al-Manhaj, Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah As-Sadhaan hafidzahullah.
  2. Terjemahmatan.com
  3. Quran.kemenag.go.id
  4. Dorar.net/h/xW5oH5KH
Selengkapnya