Prof. Burhanuddin Muhtadi: Membaca Pergeseran Religiusitas dan Tantangan Ormas IslamKincai Media – Ada sebuah keresahan menarik yang dilemparkan Profesor Burhanuddin Muhtadi dalam bincang santuy di kanal YouTube UINSIGHT. Ia menyentil satu tesis yang cukup memutar otak para pegiat keislaman: “Iman di Ujung Zaman.” Kalimat ini bukan sekadar ramuan obrolan alias titel yang provokatif, melainkan sebuah sirine keras yang ditarik dari tumpukan informasi empiris mengenai nasib keberagamaan kita di tengah gempuran modernitas.
Lahir dan ditempa dalam tradisi intelektual “Mazhab Ciputat”, Prof. Burhan tidak lagi berbincang soal kepercayaan dalam koridor “apa yang seharusnya”, melainkan “apa yang sebenarnya terjadi” di lapangan. Ia mencoba memotret wajah Islam di Indonesia yang sekarang sedang berdiri di persimpangan jalan sebuah titik krusial yang bakal menentukan ke arah mana mobilitas umat ini di masa depan.
Mitos Pluralisme dan Gap Basis Massa
Hal krusial lain yang disoroti Prof. Burhan adalah soal “Mitos Pluralisme”. Kita sering berasumsi bahwa ormas Islam moderat seperti Nahdlatul Ulama (NU) sudah sepenuhnya toleran lantaran memandang sikap para tokoh elitnya. Namun, informasi riset menunjukkan adanya ketimpangan yang nyata antara apa yang dibicarakan di tingkat atas dengan kondisi di tingkat bawah.
Meski para pengurus pusat alias tokoh intelektual gencar menyuarakan prinsip tasamuh (toleransi) dan tawazun (keseimbangan), riset ini menemukan bahwa sikap sebagian massa di akar rumput rupanya belum tentu sejalan. Tingkat intoleransi di level pedoman sering kali tetap cukup tinggi, apalagi tidak jauh berbeda dengan golongan Islam lainnya.
Realitas ini menjadi catatan krusial bagi sistem kaderisasi ormas Islam di Indonesia. Ada kesan bahwa obrolan mengenai moderasi berakidah lebih banyak berakhir sebagai konsumsi elit di forum forum umum alias seminar, namun belum efektif menyentuh masyarakat di tingkat desa, langgar, maupun pesantren-pesantren kecil. Narasi besar tersebut tampaknya tetap susah menembus sekat-sekat sosial di lapisan terbawah.
Pergeseran Gen Z: Dari Sajadah ke Media Sosial
Persoalan lain yang tidak kalah krusial adalah tren menurunnya minat religiusitas di kalangan generasi Z. Data saat ini memperlihatkan kecenderungan anak muda yang lebih nyaman berpadu di organisasi hobi, organisasi olahraga, alias aktivitas lingkungan hidup dibandingkan masuk ke dalam organisasi keagamaan formal.
Bagi generasi ini, otoritas kepercayaan tradisional seolah kehilangan relevansinya jika tidak bisa memberikan jawaban atas kegelisahan eksistensial mereka. Fokus mereka hari ini lebih tertuju pada ekspresi diri (self-expression) serta isu-isu global, seperti perubahan iklim.
Jika ormas Islam tetap saja berkutat pada urusan internal alias terjebak dalam perebutan kepentingan politik praktis sebagaimana sindiran Prof. Burhan tentang “tarik tambang” kepentingan maka bukan tidak mungkin rumah ibadah kita di masa depan bakal bernasib sama dengan banyak gereja di Eropa. Bangunannya berdiri megah secara fisik, namun sunyi lantaran ditinggalkan oleh generasinya sendiri.
Ekoteologi: Jalan Baru Dakwah
Lantas, langkah apa yang perlu diambil oleh umat Islam? Kuncinya terletak pada keahlian beradaptasi. Islam kudu mulai masuk ke dalam narasi Green Islam alias ekoteologi. Fakta bahwa 87% anak muda meletakkan perhatian besar pada perubahan suasana adalah kesempatan sekaligus tantangan. Jika dakwah bisa mengintegrasikan rumor lingkungan hidup sebagai bagian integral dari iman, maka Islam bakal tetap relevan di mata generasi baru.
Langkah transformasi IAIN menjadi UIN yang dulu diinisiasi oleh Prof. Azyumardi Azra merupakan contoh nyata ijtihad intelektual agar pengetahuan kepercayaan tidak terjebak dalam eksklusivitas.
Saat ini, tanggung jawab generasi sekarang adalah meneruskan ijtihad tersebut dengan merambah ruang digital secara serius. Literasi media sosial dan pendekatan pada sisi humanis menjadi langkah krusial untuk menjangkau mereka yang selama ini merasa berjarak dengan lembaga agama.
Ke depan, kepercayaan tidak boleh sekadar menjadi tempat pelarian ketika seseorang mengalami kesulitan ekonomi. Agama semestinya datang sebagai kompas moral bagi masyarakat yang sudah sejahtera secara materi. Tanpa adanya transformasi langkah pandang ini, dikhawatirkan ketaatan hanya bakal berhujung sebagai angka-angka statistik di atas kertas tanpa mempunyai pengaruh nyata bagi kehidupan pengikutnya.
Daftar Pustaka
- Muhtadi, Burhanuddin. (2026). Dari Politik Sampai Gagasan Pembaharuan, Di Mana Umat Islam Harus Mengambil Jalan?.
- Azra, Azyumardi. (2005). Reinvensi Masyarakat Madani: Modernisasi dan Islam di Indonesia. Kompas.
- Fauzi, A. (2021). Ekoteologi Islam: Dialektika Agama dan Lingkungan Hidup di Era Antroposen. Jurnal Studi Agama-Agama.
- Muhtadi, Burhanuddin. (2020). The Myth of Pluralism: Religious Exceptionalism and Intolerance in Indonesia. Contemporary Southeast Asia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·