Diare yang Tidak Diobati Selama Hamil Bisa Memicu Keguguran, Ini Kata Pakar

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Jul 09, 2026 11:05 AM 24338

Diare selama mengandung sering dianggap sebagai keluhan yang normal. Keluhan ini kerap dikaitkan dengan perubahan hormon, Bunda.

Banyak ibu mengandung percaya jika diare bakal sembuh dengan sendirinya. Mereka juga meyakini bahwa kondisi ini tidak bakal membahayakan kehamilan dan janin.

Lantas, benarkah diare adalah kondisi normal yang dialami ibu selama hamil?


Melansir dari laman Healthwise Punch, diare selama kehamilan rupanya tidak boleh dianggap remeh sebagai penyakit ringan alias indikasi kehamilan normal. Pasalnya, diare yang terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi, memicu kontraksi, mengakibatkan persalinan prematur, dan keguguran.

Banyak master menjelaskan bahwa diare dapat disebabkan oleh perubahan hormonal selama kehamilan, infeksi, makanan dan air yang terkontaminasi, intoleransi makanan, kebiasaan makan yang buruk, dan reaksi terhadap multivitamin dan obat-obatan. Ibu mengandung yang terkena diare bisa kekurangan nutrisi dan cairan yang dapat memengaruhi kondisi tubuh dan janin di dalam kandungannya.

Meskipun diare sering kali ringan dan berkarakter sementara, kondisi ini dapat berjalan lebih dari satu hari dan disertai muntah, demam, sakit perut, keluar darah di feses, penurunan gelombang buang air kecil, hingga kelemahan mungkin disebabkan oleh infeksi. Keluhan diare dengan penyerta tersebut memerlukan perhatian medis segera, Bunda.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), selama bagian diare, air dan elektrolit (natrium, klorida, kalium, dan bikarbonat) lenyap melalui feses, muntah, keringat, urine, dan pernapasan. Ketika cairan tersebut tidak digantikan, seseorang yang mengalami diare bisa dehidrasi.

"Diare selama kehamilan biasanya ringan dan sementara, dan tidak boleh diabaikan ketika terjadi, untuk mencegah dehidrasi," kata guru besar obstetri dan ginekologi di University of Ibadan, Oyo State, Christopher Aimakhu.

Menurut Aimakhu, diare dapat terjadi lantaran keracunan makanan, kandas menjaga kebersihan makanan dan tangan, perubahan hormonal selama kehamilan, reaksi terhadap suplemen alias multivitamin, khususnya unsur besi, serta jangkitan seperti gastroenteritis alias jangkitan bakteri.

Aimakhu mengatakan bahwa diare berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi dan merangsang kontraksi rahim, yang bisa memicu persalinan prematur dan keguguran.

"Usus dan rahim adalah organ berotot. Jika usus bergerak sigap dan terjadi relaksasi, pengaruh yang sama dapat terjadi pada rahim. Jika tidak hati-hati, diare dapat menyebabkan ancaman keguguran alias persalinan prematur," ungkapnya.

Dehidrasi lantaran diare dapat dicegah dengan menggantikan cairan yang hilang. Salah satunya adalah meningkatkan asupan air dan menghindari makanan yang dapat memicu buang air besar lebih lanjut.

"Pastikan minum banyak air. Pastikan juga makanan baik-baik saja dan bergizi. Pilih makanan yang tawar alias padat, seperti nasi, roti, dan makanan rendah serat. Pisang bisa membantu. Kemudian, hindari makanan yang dapat memicu alias menyebabkan diare, seperti susu dan yogurt," ujar Aimakhu.

Penting untuk mengetahui tanda dehidrasi

Saat hamil, Bunda tak hanya perlu memahami akibat diare, tapi juga tanda dehidrasi. Tanda-tanda ini dapat meliputi pusing, rasa haus yang berlebihan, penurunan gelombang buang air kecil, kram perut, demam, dan lidah kering, serta keluarnya darah alias lendir dalam feses. Bila mengalami tanda-tanda itu, Bunda kudu segera mendapatkan penanganan medis ya.

"Jika pusing, sangat haus, buang air mini sedikit, itu adalah tanda-tanda dehidrasi. Kemudian jika ibu mengandung mengalami sakit perut alias kram, lantaran usus sudah kering, dia mungkin mengalami masalah. Ketika buang air besar sangat banyak dan terdapat darah alias lendir dalam fesesnya, dia juga kudu memeriksakannya," kata Aimakhu.

Cara mengatasi diare saat kehamilan

Para ginekolog terkemuka menekankan bahwa para ibu mengandung yang mengalami diare kudu tetap terhidrasi, mengonsumsi makanan tawar dan rendah serat. Mereka juga dilarang untuk mengobati diri sendiri alias mengandalkan pengobatan rumahan jika gejalanya berlanjut.

Diare saat mengandung memang dapat diatasi dengan obat. Tapi, meskipun ada beberapa pengobatan untuk diare, pilihan yang tepat pada akhirnya berjuntai pada gejala, apakah dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Sebelum mengonsumsi obat, ibu mengandung juga perlu berkonsultasi dengan master ya. Dokter mungkin menyarankan Bunda untuk bersabar dan memandang apakah kondisinya bakal membaik. Ya, dalam beberapa kasus, diare selama kehamilan dapat sembuh dengan sendirinya, tanpa perlu pengobatan.

Namun, jika diare betul-betul mengganggu, master mungkin bakal menyarankan untuk mengonsumsi loperamide atau bahan aktif yang umumnya dianggap kondusif digunakan selama kehamilan. Penelitian lain menunjukkan bahwa probiotik juga dapat membantu. Demikian seperti dikutip dari The Bump.

Demikian serba-serbi diare dan kaitannya dengan keguguran menurut pakar. Semoga info ini berfaedah ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Selengkapnya
Diare yang Tidak Diobati Selama Hamil Bisa Memicu Keguguran, Ini Kata Pakar
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting