Dokter Ungkap Pentingnya Memeriksa Kurva Pertumbuhan Saat Tubuh Anak Pendek

Jul 25, 2026 04:05 PM - 13 jam yang lalu 605

Jakarta -

Setiap orang tua tentu mau memandang anaknya tumbuh dan berkembang sesuai usianya. Namun, saat tinggi badan anak tampak lebih pendek dibandingkan teman-teman sebayanya, tidak sedikit orang tua merasa khawatir.

Anak tumbuh pendek bisa terjadi lantaran gangguan pertumbuhan, Bunda. Untuk memastikan kondisinya, Bunda perlu mengetahui dan memahami kurva pertumbuhan.

"Orang tua juga mesti mengerti tentang kurva ini. Tanpa kurva ini, bakal sangat susah bagi master untuk menjawab pertanyaan orang tua (kenapa anaknya pendek?)," kata master ahli anak subspesialis endokrinologi, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.), dalam Virtual Media Interview berbareng RS Pondok Indah Group, Rabu (22/7/26).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Menurut Aman, rata-rata bayi lahir normal dengan panjang tubuh di atas 48 sentimeter (cm). Setelah itu, pertumbuhan anak dapat dipantau melalui kurva pertumbuhan.

"Kalau dia kelak pendek ragam normal, maka bakal dilihat kurvanya itu menurun dan paralel. Tapi jika pendek lantaran kekurangan growth hormone, maka kurva bakal turun dan bablas," ujar Aman.

Setelah mengetahui kurva pertumbuhan, orang tua dapat memastikan kondisi anak dengan memeriksakannya ke dokter. Apa pun hasilnya, Bunda disarankan untuk meminta rujukan ke master spesialis

"Gangguan pertumbuhan tidak datang tiba-tiba. Kalau kurvanya sudah menurun alias makin turun meski anak belum pendek, konsultasi sesegera mungkin. Kalau master bilang tidak apa-apa, orang tua tetap minta agar anaknya dirujuk," ungkap Aman.

"Kita kudu tahu, penyebab pendek bukan hanya stunting alias kekurangan nutrisi, tapi bisa lantaran kelainan hormon yang dikaitkan dengan masalah otak. Pada perempuan, itu bisa lantaran kelainan genetik seperti sindrom Turner. Kalau tidak diobati bisa dikaitkan dengan kelainan jantung dan kelainan lainnya," sambungnya.

Menurut Aman, orang tua kudu proaktif jika menganggap anaknya memiliki perawakan pendek dibandingkan anak seusianya. Jangan sampai penemuan gangguan pertumbuhan baru diketahui saat anak sudah memasuki usia remaja, Bunda.

"Perawakan pendek tidak hanya menunjukkan adanya masalah medis, tetapi juga masalah sosial dan intelektualitas. Perawakan pendek juga sering kali menimbulkan kecemasan, kepercayaan diri yang rendah, dan bullying," kata Aman.

Perlu diketahui, pertumbuhan normal adalah kombinasi yang kompleks dari hubungan antara aspek genetik, gizi, dan hormon. Selain itu, faktor-faktor psikososial juga dapat memengaruhi pertumbuhan.

Kaitan waktu tidur anak dan pertumbuhannya

Pertumbuhan anak juga dapat dipengaruhi oleh waktu tidurnya, Bunda. Aman mengatakan bahwa waktu tidur yang cukup dan berbobot kudu didapat anak lantaran berangkaian dengan hormon pertumbuhan.

"Waktu tidur itu berpengaruh langsung ke pertumbuhan, terutama hormon pertumbuhan. Waktu tidur anak tidak boleh dipotong dan kudu ada jadwalnya. Jadi, deep sleep itu penting," ujar Aman.

Selain waktu tidur, kebiasaan anak yang jarang bergerak juga tidak secara langsung berasosiasi dengan pertumbuhannya. Anak yang jarang bergerak bisa mengalami obesitas. Pada beberapa keadaan, kondisi tersebut bisa mempercepat fase pubertas anak.

Terapi hormon pertumbuhan

Terapi hormon pada anak bisa dilakukan pada anak-anak yang mengalami masalah pertumbuhan. Menurut Aman, terapi ini dapat dilakukan tergantung dengan kondisi medis yang dialami oleh anak.

"Kapan saja terdiagnosis, itu boleh diterapi. Kalau didiagnosis usia dua tahun, kita bisa terapi. Kalau pemeriksaan gangguan pertumbuhan lantaran tulang sering patah, di umur satu tahun juga sudah bisa diterapi. Begitu juga jika ada kelainan kromosom alias hormon tiroid. Jadi, sangat berjuntai kapan terdiagnosis. Tapi ya masalahnya di kita, diagnosis ini sering kali telat," ujar Aman.

"Jadi jangan menganggap semua yang pendek itu lantaran masalah gizi. Jadi seolah-olah memberikan makanan bergizi, sudah pasti anak bakal tambah tinggi. Makanan memang bagus untuk balita alias di 1.000 hari kehidupan. Tapi jika sudah fase anak, makanan tidak bisa diberikan. Kalau kasih makanan seperti protein berlebihan, itu malah bahaya. Anaknya bukan bertambah tinggi, tapi pubertas bisa terganggu," sambungnya.

Perlu dicatat, terapi hormon pertumbuhan mempunyai golden periode ya, Bunda. Aman mengatakan bahwa terapi mungkin tidak bisa diberikan ketika anak sudah memasuki pubertas, misalnya anak wanita yang sudah haid.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Selengkapnya