Jakarta -
Bunda pernah mendengar seseorang berkata, "Nanti saja", "Aku terlalu lelah", alias "Aku bekerja lebih baik di bawah tekanan?" Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa dalam percakapan sehari-hari.
Namun, jika sering diucapkan berulang kali, sebagian mahir menilai ungkapan tersebut dapat mencerminkan kebiasaan menunda pekerjaan (prokrastinasi) alias kecenderungan menghindari tanggung jawab.
Penting untuk memahami bahwa tidak semua orang yang mengucapkannya betul-betul pemalas. Kurangnya motivasi juga bisa dipengaruhi oleh stres, burnout, gangguan tidur, alias kondisi kesehatan mental tertentu. Karena itu, kalimat-kalimat ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menilai seseorang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menunda-nunda dapat berakibat jelek bagi kesehatan Anda. Dan kita tahu bahwa perihal itu dikaitkan dengan tingkat depresi dan kekhawatiran yang lebih tinggi, dan tentu saja tingkat stres yang lebih tinggi," kata psikolog Fuschia Sirois, PhD, dilansir dari YourTango.
Sebenarnya, apa saja kalimat yang sering dikaitkan dengan kebiasaan tersebut?
Benarkah orang malas mempunyai kalimat khas?
Tidak ada penelitian yang menyatakan bahwa seseorang bisa didiagnosis malas hanya dari kata-kata yang diucapkannya. Namun, psikolog menilai bahasa yang digunakan seseorang dapat mencerminkan pola pikir, motivasi, dan kebiasaan sehari-hari.
Psikolog Fuschia Sirois dan Timothy Pychyl menjelaskan dalam ulasan yang dipublikasikan di Social and Personality Psychology Compass bahwa prokrastinasi lebih berangkaian dengan kesulitan mengatur diri (self-regulation) dan mengelola emosi dibanding sekadar rasa malas.
Karena itu, kebiasaan menunda sering kali dapat tercermin dari argumen alias ungkapan yang diucapkan seseorang secara berulang. Namun, kondisi tersebut tetap perlu dilihat secara menyeluruh dan tidak bisa dijadikan dasar untuk memberi label pada seseorang.
10 Kalimat yang biasa diucapkan orang pemalas
Kalimat-kalimat berikut sering dikaitkan dengan kebiasaan menunda pekerjaan alias menghindari tanggung jawab. Tapi, perlu diingat bahwa mengucapkan salah satu kalimat ini bukan berfaedah seseorang pasti pemalas.
1. "Nanti saja, saya kerjakan belakangan"
Kalimat ini merupakan salah satu yang paling sering ditemui. Menurut Sirois, orang yang menunda pekerjaan sebenarnya tidak selalu malas. Mereka sering menghindari tugas lantaran merasa tidak nyaman, cemas, alias kewalahan saat kudu mengerjakannya.
Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan menunda dapat membikin pekerjaan menumpuk dan meningkatkan tingkat stres menjelang tenggat waktu.
2. "Aku hanya tidak mau melakukannya"
Setiap orang tentu pernah merasa tidak antusias untuk melakukan tugas. Saat seseorang sedang tidak termotivasi, dia mungkin sadar bahwa menolak bakal mengecewakan orang lain. Namun, daripada berpura-pura bersedia, dia memilih mengatakan bahwa dirinya memang tidak mau melakukannya.
Jika argumen tersebut terus digunakan untuk menghindari tanggung jawab maka bisa memengaruhi produktivitas maupun komitmen terhadap orang lain.
3. "Itu terlalu banyak pekerjaan"
Orang sering dicap malas hanya lantaran menghindari tugas. Apalagi jika tugasnya terasa banyak, ini dapat membikin seseorang kehilangan motivasi. Salah satu langkah mengatasinya adalah membagi pekerjaan menjadi langkah-langkah mini agar terasa lebih mudah dimulai.
Jika argumen ini terus digunakan untuk menghindari tanggung jawab, orang lain bisa kehilangan kepercayaan lantaran merasa tidak dapat mengandalkannya.
4. "Orang lain saja yang mengerjakannya"
Orang yang mengatakannya mungkin tidak bermaksud bersikap kasar. Tapi kalimat ini dapat menunjukkan kecenderungan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.
Jika dilakukan berulang kali, kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi kepercayaan dalam hubungan maupun lingkungan kerja.
5. "Aku memang tidak pandai melakukan itu"
Tidak semua orang yang mengucapkan kalimat ini betul-betul tidak bisa alias malas. Pada beberapa situasi, ungkapan tersebut bisa menjadi argumen untuk menghindari tugas yang dianggap susah alias memerlukan upaya lebih.
6. "Buat apa repot-repot?"
Seseorang yang merasa usahanya tidak pernah membuahkan hasil mungkin kehilangan motivasi dan mulai mempertanyakan faedah melakukan suatu pekerjaan.
Jika dibiarkan, pola pikir ini dapat membikin seseorang semakin enggan mencoba.
7. "Aku kerjakan nanti"
Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi jika terus diulang dapat menjadi tanda kebiasaan menunda pekerjaan. Akibatnya, tugas dapat menumpuk dan kudu diselesaikan dalam waktu yang sempit.
8. "Memang begitulah aku"
Ungkapan ini dapat menunjukkan sikap menerima kebiasaan yang kurang baik tanpa berupaya mengubahnya. Padahal, kebiasaan dan perilaku dapat berubah secara berjenjang jika seseorang mau melatihnya secara konsisten.
9. "Aku terlalu capek sekarang"
Rasa capek memang nyata dan tidak boleh diabaikan. Tapi, jika keluhan ini muncul terus-menerus, penyebabnya bisa beragam. Mulai dari kurang tidur, stres, burnout, hingga kondisi medis tertentu. Karena itu, kalimat ini tidak selalu berfaedah seseorang malas.
10. "Aku bekerja lebih baik di bawah tekanan"
Sebagian orang merasa lebih konsentrasi ketika tenggat waktu sudah dekat. Namun, kebiasaan menunda hingga menit-menit terakhir juga dapat meningkatkan stres dan membikin kualitas pekerjaan menjadi kurang optimal.
Meski beberapa kalimat di atas sering dikaitkan dengan kebiasaan menunda pekerjaan, bukan berfaedah orang yang mengucapkannya pasti pemalas. Menurut psikolog Fuschia Sirois, prokrastinasi lebih berangkaian dengan langkah seseorang mengelola emosi saat menghadapi tugas yang terasa susah alias tidak menyenangkan daripada sekadar kemalasan.
Selain itu, kebiasaan menunda juga dapat dipengaruhi beragam aspek lain, seperti stres, burnout, kurang tidur, hingga kondisi kesehatan mental tertentu. Karena itu, krusial untuk memahami penyebab yang mendasarinya sebelum memberi penilaian terhadap seseorang.
Jika kebiasaan menunda mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, alias kegiatan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog alias tenaga kesehatan mental dapat membantu menemukan penyebab sekaligus strategi penanganan yang sesuai.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·