Jakarta -
Tren 'reparenting parents' tengah viral di kalangan orang tua. Tren yang berasal dari China ini dikenal juga dengan istilah 'orang tua yang mendidik diri mereka sendiri', Bunda.
Salah satu contoh dari tren ini adalah saat anak muda mengajari Bunda dan Ayah mereka keahlian modern, seperti mengambil foto selfie. Melalui tren ini, generasi muda berupaya menyembuhkan luka yang mereka warisi dari masa mini dan mendefinisikan kembali nilai tradisional berkhidmat kepada orang tua.
Di media sosial, para kaum muda mengunggah tren ini. Dilansir laman South China Morning Post (SCMP), Selasa (21/7/26), tagar 'reparenting parents' setidaknya telah dilihat nyaris 60 juta kali dan dibahas sebanyak 300.000 kali di satu platform media sosial di China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sama seperti orang tua mereka mengajari mereka langkah berjalan, orang-orang muda dalam tren ini mengajari para tetua tentang langkah hidup modern, seperti memesan makanan melalui aplikasi seluler, mengambil foto selfie, dan mengikuti rutinitas perawatan kulit alias skincare.
Beberapa orang memilih untuk berbagi kegemaran dengan orang tua mereka, seolah-olah mereka adalah teman. Mereka bakal membelikan tiket konser untuk orang tua alias membawakan camilan baru dari perjalanan bisnis.
Sementara itu, beberapa mengatakan bahwa dengan 'reparenting parents', mereka menemukan langkah untuk menyembuhkan luka masa mini akibat pola pengasuhan yang tidak sehat dan untuk berbaikan dengan orang tua mereka.
"Saya tidak tahan dengan omelan ibu saya, tetapi saya kemudian mengerti bahwa dia cemas, dan tidak tahu gimana mengekspresikan kasih sayang lantaran kurangnya pengetahuan tentang pengasuhan anak," kata seorang netizen yang mengikuti tren ini.
Seorang netizen lain mengatakan dirinya sukses memahami perilaku irasional ibunya yang mendorongnya untuk menikah lantaran sang Bunda cemas anaknya kesepian. Alih-alih bentrok dengan sang Bunda, netizen ini memilih untuk berkomunikasi secara tenteram dengan ibunya.
Perempuan lain, yang menggunakan nama panggilan @puernaigai, mengatakan dirinya dulu menyimpan dendam terhadap ibunya lantaran memperlakukannya seperti 'boneka'. Ia kemudian menyadari bahwa ibunya hanya berupaya mengendalikan hidupnya yang penuh ketidakamanan dengan langkah mengendalikan putrinya.
"Saya kudu mengenakan busana merah muda yang dia pilih, berkawan dengan orang-orang yang berprestasi bagus yang dia sukai, dan mempelajari bidang yang menurutnya menjanjikan. Saya tidak bahagia," katanya.
"Saya bakal membantu ibu saya menemukan kembali sosok gadis yang lenyap dalam dirinya," tulisnya.
Selain mengajarkan langkah menikmati hidup, wanita ini juga mendorong ibunya untuk mempelajari keahlian baru, mencoba style hidup yang berbeda, dan percaya pada pendapat bahwa 'tidak apa-apa menjadi orang biasa'.
Ia mengatakan bahwa pola 'reparenting parents' yang diterapkan ke ibunya berhasil. Sang ibu menjadi lebih lembut dan belajar menghargai pilihannya sendiri.
Profesor Peng Huamao dari Fakultas Psikologi di Beijing Normal University mengatakan bahwa bahwa populasi lansia condong takut bahwa penurunan keahlian bentuk mereka dapat menimbulkan rasa tidak sabaran dan sikap meremehkan dari anak-anak mereka.
"Penting bagi anak-anak untuk menghormati peran orang tua mereka yang sudah lanjut usia, dan berkomunikasi dengan mereka secara setara," kata Peng.
Itulah penjelasan tentang tren 'reparenting parents' yang sedang viral di China. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·