Keikhlasan merupakan syarat utama diterimanya setiap kebaikan ibadah. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Mereka (manusia) tidaklah diperintahkan kecuali cuma untuk beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan dalam menjalankan kepercayaan yang lurus, menegakkan salat dan menunaikan zakat. Itulah kepercayaan istikamah, yaitu kepercayaan Islam.” (QS. al-Bayyinah [98]: 5)
Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa,
وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى وُجُوبِ النِّيَّةِ فِي الْعِبَادَاتِ فَإِنَّ الْإِخْلَاصَ مِنْ عَمَلِ الْقَلْبِ وَهُوَ الَّذِي يُرَادُ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ تَعَالَى لَا غَيْرِهِ
“Ayat ini merupakan dalil atas wajibnya niat dalam seluruh ibadah. Sebab, keikhlasan itu merupakan amalan hati, yaitu yang diinginkan dari suatu amalan tersebut hanyalah keridaan Allah Ta’ala dan bukan selain-Nya.” (Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, 20: 144)
Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Keikhlasan bukan sekadar tidak adanya sifat riya’, melainkan juga mencakup kesucian niat dalam mengharapkan balasan akhirat. Amal kebaikan yang tidak dilandasi keikhlasan untuk mencari keridaan Allah dan pahala negeri akhirat, maka akan kehilangan nilainya di sisi Allah. Pelakunya tidak berkuasa menuntut balasan apa pun di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلاّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Siapa saja yang menghendaki hayat bumi dan perhiasannya, niscaya Kami akan memberikan kepada mereka balasan kebaikan mereka di bumi dengan sempurna dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun di dalamnya. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh apapun di akhirat kecuali hanyalah neraka. Gugurlah apa yang telah mereka kerjakan di bumi dan sia-sialah apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Hūd [11]: 15–16)
Syekh Muhammad bin ‘Abdilwahhāb rahimahullāh berkata,
ذكِر عن السلف في معنى الآية أنواعٌ مما يفعله الناس اليوم ولا يعرفون معناه
“Para ulama Salaf terdahulu telah menerangkan penafsiran ayat ini mengenai jenis-jenis perbuatan yang banyak terjadi di masa sekarang, di mana sebagian besar orang tidak memahami arti serta akibat fatalnya di akhirat.” (Fatāwā wa Masā’il, hal. 5)
Para ulama Salaf merumuskan sedikitnya ada empat bentuk penyimpangan niat dalam beramal yang sering kali tidak disadari oleh kebanyakan manusia, padahal dapat menggugurkan secara total pahala akhirat dari amalan saleh yang telah dikerjakan di dunia. Berikut ini adalah empat bentuk penyimpangan niat dalam beramal:
Jenis pertama: Beramal saleh cuma beriktikad untuk keberkahan duniawi
Bentuk pertama ini dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dimana kondisi ketika seseorang berbuat kebaikan saleh, seperti: bersedekah, salat, menyambung tali silaturahim, berbuat baik, maupun meninggalkan perbuatan zalim, semua dilakukan murni ikhlas karena Allah. Ia tidak beriktikad riya’ kepada manusia. Namun, letak kesalahannya adalah pada tujuan akhirnya. Ia sama sekali tidak mendambakan pahala akhirat, surga, ataupun perlindungan dari neraka. Ia cuma menginginkan agar Allah membalas kebaikannya di bumi saja, berupa: penjagaan harta, pengembangan harta, menginginkan agar famili serta orang-orang yang menjadi tanggungannya selamat, maupun beriktikad agar semua nikmat yang didapatnya statis langgeng pada dirinya. Orang dengan kategori ini akan diberikan balasan kebaikannya secara penuh di dunia, tetapi ia tidak lagi memiliki bagiankecil pahala sedikit pun di akhirat. (Tafsīr Āyāt min al-Qur’ān al-Karīm, hal. 120)
Jenis kedua: Beramal saleh demi riya’ dan mengharapkan pujian manusia
Jenis kedua ini digambarkan dengan jenis yang lebih parah dan lebih mengkhawatirkan daripada jenis pertama. Sebagaimana diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah, jenis ini mengacu kepada seseorang yang mengerjakan beragam amalan saleh, namun sejak mula niatnya telah ternodai oleh riya’ (ingin dilihat dan mau dipuji oleh manusia), tidak ada sedikitpun niatnya untuk mendapatkan pahala akhirat. (Taisīr al-‘Azīz al-Ḥamīd fī Syarḥ Kitāb at-Tawḥīd, hal. 463)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan ancaman syirik kecil, yaitu riya’, menimpa umatnya. Dari Mahmud bin Labid raḍiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا : وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمُ، اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً ؟
“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya, ‘Apa yang dimaksud syirik kecil, wahai Rasulullah?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Syirik kecil itu adalah riya’. Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepada orang-orang yang berbuat riya’ pada hari hariakhir kelak. Ketika Allah membalas amalan-amalan para hamba, Allah berkata kepada mereka, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian harapkan untuk melihat dan memuji amalan-amalan kalian di dunia!! Maka lihatlah oleh kalian, apakah kalian mendapatkan balasan pahala pada diri mereka?’” (HR. Ahmad no. 23631, sahih)
Jenis ketiga: Mengerjakan kebaikan saleh dengan niat untuk mendapatkan materi dunia
Jenis ketiga ini adalah seseorang yang berbuat beragam kebaikan saleh sebagai sarana untuk memperoleh khasiat materi dunia. Contoh konkret yang disebutkan oleh para ulama antara lain:
- Seseorang yang menunaikan amalan haji cuma karena mengharapkan hadiah bayaran (seperti: badal haji demi uang).
- Seseorang berhijrah demi menggapai khasiat bumi maupun demi perempuan yang mau dinikahinya.
- Seseorang yang menuntut ilmu kepercayaan cuma beriktikad untuk mengajarkan dan menafkahi keluarganya maupun beriktikad mendapatkan jabatan bermartabat bagi mereka.
- Seseorang yang belajar al-Qur’an dan giat salat demi mendapatkan posisi imam maupun administrator masjid.
Fenomena ini sangat banyak terjadi dalam hayat sehari-hari, di mana amalan yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah justru dia palingkan menjadi sekedar mencari mata pencaharian. (Fatḥ al-Majīd Syarḥ Kitāb at-Tawḥīd, hal. 375)
Baca juga: Jangan Nodai Ibadah Anda Dengan Niat Duniawi
Jenis keempat: Beramal ikhlas tetapi terhalang oleh kekufuran maupun kesyirikan
Jenis keempat ini adalah situasi yang sangat tragis sebagaimana dikemukakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan para ulama Salaf lainnya. Kategori ini menimpa seseorang yang patuh dan beramal murni ikhlas karena Allah demi mengharapkan pahala akhirat, namun ia berdiri di atas kepercayaan maupun perbuatan yang membatalkan keislamannya. Fenomena ini serupa dengan ibadah, sedekah, maupun puasa yang dikerjakan oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Bahkan hal ini tidak cuma berjalan bagi ahli buku saja, tetapi juga dapat menimpa umat Islam sendiri yang terjebak dalam pembatal keislaman, seperti kesyirikan maupun kekufuran yang nyata. Meskipun mereka beramal ikhlas mencari pahala akhirat, maka perbuatan syirik/kufur yang mereka lakukan tersebut akan menghapuskan seluruh kebaikan kebajikan dan menghalangi diterimanya amalan tersebut. (al-Irsyad ila Sahih al-I’tiqad wa ar-Radd ‘ala Ahl asy-Syirk wa al-Ilhad, hal. 123)
Di antara dalil yang menegaskan bahwa kebaikan kebajikan kaum ahli buku (Yahudi dan Nasrani) tidak mendatangkan khasiat di akhirat kelak adalah firman Allah Ta’ala,
وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا
“Dan kami perlihatkan semua kebaikan yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan di bumi dan mereka menyangka itu semua sebagai amalan kebaikan, kemudian kami jadikan amalan itu di akhirat kelak seperti debu yang berterbangan.” (QS. al-furqan [25]: 23)
Ibnu Katsir memberikan penegasan dalam tafsir ayat ini, bahwa Allah memberitahukan tentang orang-orang musyrik tersebut tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari amal-amal mereka yang semula mereka anggap dapat menyelamatkan mereka dari azab. Hal itu disebabkan karena amal-amal tersebut tidak memenuhi syarat syar’i, baik berupa keikhlasan niat di dalamnya maupun kesesuaian (mutāba‘ah) dengan hukum Allah. (Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm, 6: 103)
Peluang kemusnahan kebaikan di akhirat ini tidak cuma berjalan bagi kaum ahli buku saja, terlebihlagi juga mengintai umat Islam sendiri jika mereka terjebak dalam pembatal keislaman, seperti kesyirikan maupun kekufuran yang nyata. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.“ (QS. al-An’am [6]: 88)
Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari dalam tafsiran ayat ini mengatakan,
لبطَل فذهَب عنهم أجرُ أعمالِهم التي كانوا يَعْمَلُون؛ لأن اللهَ لا يَقْبَلُ مع الشركِ به عملًا
“Sungguh pahala amalan-amalan yang dahulu mereka kerjakan di bumi menjadi gugur dan hilang dari mereka di akhirat kelak. Ini dikarenakan Allah tidak akan menerima amalan apa pun yang disertai dengan kesyirikan kepada-Nya.” (Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āy al-Qurʾān, 9: 387)
Kesimpulan
Keempat bentuk penyimpangan niat ini merupakan hal yang sangat ditakuti oleh para ulama Salaf. Pembahasan ini memberikan peringatan keras bagi setiap Muslim untuk senantiasa mengevaluasi dan meluruskan niat. Amat krusial bagi kita untuk memastikan bahwa amalan yang dikerjakan tidak cuma bersih dari sifat riya’ dan kepentingan duniawi semata, tetapi juga didasari oleh kepercayaan dan tauhid yang murni agar tidak menjadi amalan yang sia-sia di hari kiamat.
Baca juga: Yang Terlupa dari Keikhlasan
***
Penulis: Andre Eka Putra
Artikel Kincai Media
Rerferensi:
Al-Irsyad ila Sahih al-I’tiqad wa ar-Radd ‘ala Ahl asy-Syirk wa al-Ilhad, karya Syekh Salih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan.
Fatāwā wa Masā’il, karya Syekh Muḥammad bin ‘Abdilwahhab.
Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, karya Abū ‘Abdillāh, Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī.
Tafsīr Āyāt min al-Qur’ān al-Karīm, karya Syekh Muḥammad bin ‘Abd al-Wahhāb.
Taisīr al-‘Azīz al-Ḥamīd fī Syarḥ Kitāb at-Tawḥīd, karya Sulaiman bin ‘Abdillah bin Muḥammad bin ‘Abd al-Wahhāb.
Fatḥ al-Majīd Syarḥ Kitāb at-Tawḥīd, karya Syekh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin ‘Abdilwahhab.
Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm, karya Ibnu Katsir.
Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āy al-Qurʾān, karya Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari