Fobia Hamil Kian Marak, Media Sosial Disebut Jadi Pemicu Utamanya

Jul 02, 2026 08:50 AM - 1 bulan yang lalu 32588

Kehamilan sering dianggap sebagai momen yang membahagiakan bagi banyak perempuan. Namun, di kembali berita senang tersebut, ada sebagian wanita yang justru mengalami ketakutan berlebihan terhadap kehamilan dan proses melahirkan.

Fenomena ini dikenal sebagai tokophobia, ialah rasa takut ekstrem terhadap kehamilan alias persalinan. Belakangan, kekhawatiran ini disebut semakin sering muncul seiring meningkatnya paparan cerita negatif tentang kehamilan di media sosial.

Dikutip dari BBC, studi sebelumnya memperkirakan bahwa 14 persen perempuan di seluruh bumi mengalami tokofobia, eksternal. Tokofobia berbeda dengan emosi gugup tentang kehamilan alias persalinan, yang bagi banyak wanita adalah perihal normal, menurut badan kebaikan bayi, Tommy's. Perempuan dengan tokofobia parah dapat melakukan tindakan ekstrem untuk menghindari kehamilan. 


Selain itu, dikutip dari Mental Health Foundation (dari tahun 2013) melaporkan bahwa terdapat 8,2 juta kasus kekhawatiran di Inggris, dengan perempuan berumur 16-24 tahun nyaris tiga kali lebih mungkin didiagnosis menderita gangguan kekhawatiran daripada pria.

Bagaimana tidak Bunda, seperti media sosial FB misalnya. Ada grup unik yang menampung banyak cerita para ibu hamil. Dan kebanyakan ceritanya tentang pengalaman persalinan mereka yang mengerikan.

Catriona Jones, seorang pengajar kebidanan di Universitas Hull, percaya bahwa semakin banyak wanita mengembangkan fobia ini lantaran para ibu baru berbagi kisah mengerikan tentang persalinan secara online. Orang tua baru sering berbagi pengalaman mereka di forum online, seperti Mumsnet, dan di grup pribadi di situs media sosial seperti Facebook.

"Jika Anda masuk ke forum Mumsnet mana pun, ada wanita yang menceritakan kisah persalinan mereka - 'Oh, itu mengerikan', 'itu seperti pertumpahan darah', 'ini dan itu terjadi'. Saya pikir itu bisa sangat menakutkan bagi wanita untuk terlibat dan membacanya," kata Catriona dikutip dari BBC.

Apa itu tokophobia?

Tokophobia adalah kondisi ketika seseorang mengalami ketakutan intens terhadap kehamilan, melahirkan, alias hal-hal yang berangkaian dengan proses menjadi ibu.

Rasa takut ini berbeda dengan rasa resah normal yang umum dialami ibu hamil. Pada tokophobia, kekhawatiran dapat terasa sangat kuat hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, hubungan, apalagi keputusan seseorang untuk mempunyai anak.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica, tokophobia dapat dialami oleh wanita yang belum pernah mengandung (tokophobia primer) maupun wanita yang pernah mengalami pengalaman persalinan traumatis (tokophobia sekunder).

Media sosial membikin seseorang bisa mengakses beragam cerita kehamilan hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, tidak semua konten yang beredar memberikan gambaran yang seimbang.

Banyak wanita lebih sering menemukan cerita tentang:

  • Proses melahirkan yang sulit,
  • Komplikasi kehamilan,
  • Pengalaman keguguran,
  • Rasa sakit saat persalinan,
  • Trauma setelah melahirkan.

Paparan berulang terhadap cerita negatif ini dapat membikin otak lebih konsentrasi pada kemungkinan jelek dibandingkan kebenaran bahwa banyak kehamilan dan persalinan melangkah dengan baik.

Sebuah studi tentang penggunaan media sosial dan kesehatan mental menunjukkan bahwa konsumsi konten tertentu secara berlebihan dapat meningkatkan kecemasan, terutama ketika seseorang terus membandingkan dirinya dengan pengalaman orang lain.

Seorang master yang dikutip dalam pemberitaan BBC menyebut bahwa ketika seseorang mencari info tentang persalinan di internet, mereka bisa menemukan banyak cerita menakutkan yang membikin proses melahirkan terlihat lebih menyeramkan. 

Penelitian dalam ilmu jiwa menunjukkan manusia mempunyai kecenderungan alami yang disebut negativity bias, ialah lebih mudah mengingat info negatif dibanding positif. Dampaknya: calon ibu bisa merasa “melahirkan itu berbahaya”, padahal secara statistik kebanyakan persalinan melangkah kondusif dengan support medis.

Algoritma media sosial bisa membentuk 'lingkaran ketakutan'

Salah satu perihal yang sering tidak disadari adalah langkah kerja algoritma. Ketika seseorang sering menonton konten tentang kehamilan berisiko, komplikasi, alias cerita persalinan traumatis, platform dapat merekomendasikan lebih banyak konten serupa.

Akibatnya, seseorang bisa merasa seolah-olah kejadian jelek tersebut jauh lebih sering terjadi daripada kenyataannya. Padahal, pengalaman setiap ibu berbeda. Cerita satu orang tidak selalu menggambarkan kondisi semua perempuan.

Tanda-tanda seseorang mengalami tokophobia

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Merasa panik setiap kali membahas kehamilan,
  • Takut berlebihan terhadap proses persalinan,
  • Mengalami kekhawatiran hingga susah tidur,
  • Menghindari pemeriksaan alias pembicaraan tentang kehamilan,
  • Merasa tidak bisa menghadapi kehamilan meskipun sebenarnya mau mempunyai anak.

Pada beberapa kasus, ketakutan ini bisa membikin seseorang menunda kehamilan alias memilih untuk tidak mempunyai anak.

Bagaimana mengelola rasa takut terhadap kehamilan?

Bunda yang merasa takut menghadapi kehamilan bisa mencoba beberapa langkah berikut:

1. Pilih info dari sumber terpercaya

Tidak semua info di internet mempunyai dasar medis. Lebih baik mencari info dari tenaga kesehatan seperti master kandungan alias bidan.

2. Batasi konsumsi konten yang memicu kecemasan

Mengatur waktu menggunakan media sosial dan memilih konten yang lebih edukatif dapat membantu menjaga kesehatan mental.

3. Ceritakan kekhawatiran kepada pasangan alias tenaga profesional

Rasa takut yang dipendam bisa terasa semakin besar. Diskusi dengan pasangan alias psikolog dapat membantu mengelola kecemasan.

4. Ingat bahwa setiap pengalaman kehamilan berbeda

Cerita negatif memang nyata, tetapi bukan berfaedah semua ibu bakal mengalami perihal yang sama.

Kehamilan bukan hanya tentang risiko, tapi juga dukungan

Ketakutan terhadap kehamilan bukan berfaedah seseorang tidak siap menjadi ibu. Banyak aspek yang dapat memengaruhi rasa cemas, mulai dari pengalaman pribadi, cerita orang lain, hingga paparan info yang terus-menerus.

Dengan info yang tepat, support dari orang terdekat, serta pendampingan medis, calon ibu dapat menjalani kehamilan dengan lebih tenang.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya