Hari Pertama Anak Sekolah: Kenali Ciri-Ciri Separation Anxiety Sesuai Usia

Jul 13, 2026 08:50 AM - 1 bulan yang lalu 19717

Di hari pertama anak sekolah, mereka rentan rewel lantaran mengalami fase separation anxiety. Apa itu dan gimana ciri-cirinya sesuai usia anak?

Perlu dipahami oleh orang tua bahwa hari pertama masuk sekolah merupakan momen besar bagi anak. Wajar jika sebagian anak merasa cemas, menangis, alias susah berpisah dengan orang tua.

Hal ini lantaran mereka sedang menghadapi lingkungan, orang, dan rutinitas yang betul-betul baru. Ya, kekhawatiran berpisah alias separation anxiety menjadi salah satu bagian normal dari perkembangan anak. 


Namun dengan persiapan yang tepat dan support yang konsisten dari sekitar, anak diharapkan bisa beradaptasi dan merasa lebih nyaman menjalani kegiatan di sekolah.

Apa itu separation anxiety?

Menurut praktisi pendidikan anak usia dini, Katrina Green, bagi anak sumber utama kekhawatiran saat mulai masuk sekolah adalah lantaran mereka sama sekali tidak tahu apa yang bakal mereka hadapi.

"Mereka telah menghabiskan 3-4 tahun pertama kehidupannya mempelajari patokan dan rutinitas dalam keluarga. Karena itu, mereka betul-betul belum mengenal patokan maupun rutinitas baru yang bakal mereka temui di sekolah," ungkap Green, seperti dikutip dari Parents.

Ia menyarankan orang tua untuk meluangkan waktu sebelum hari pertama sekolah untuk membantu anak beradaptasi secara bertahap.

Ciri-ciri separation anxiety sesuai usia

Separation anxiety bisa terjadi dalam beragam rentang usia anak, apalagi sejak usia dini. Berikut ciri-ciri separation anxiety sesuai usia anak seperti dikutip beragam sumber:

1. Bayi

Dikutip dari Healthy Children, separation anxiety mulai berkembang setelah bayi memahami konsep object permanence (kesadaran bahwa suatu barang alias orang tetap ada meskipun tidak terlihat).

Begitu bayi menyadari bahwa Bunda betul-betul pergi saat tidak terlihat, mereka mungkin bakal merasa gelisah.

Meskipun beberapa bayi mulai menunjukkan pemahaman tentang object permanence dan separation anxiety sejak usia 4 hingga 5 bulan, sebagian besar mengalami kekhawatiran yang lebih kuat sekitar usia 9 bulan.

2. Balita

Banyak anak tidak mengalami separation anxiety saat tetap bayi, tetapi mulai menunjukkannya ketika berumur sekitar 15 hingga 18 bulan. Perpisahan biasanya menjadi lebih susah ketika anak lapar, lelah, alias sedang sakit.

Seiring berkembangnya kemandirian pada masa balita, mereka menjadi semakin sadar bakal adanya perpisahan dengan orang tua. Akibatnya, reaksi mereka saat berpisah bisa berupa tangisan keras dan susah ditenangkan.

3. Usia prasekolah

Bagi anak yang belum pernah berguru sebelumnya, konsep 'sekolah' tetap terasa abstrak. 

Mereka menganggap sekolah sebagai tempat dengan patokan baru, rutinitas baru, dan juga orang-orang baru yang belum dikenal. Semua ini tidak dapat diprediksi dan membikin mereka tak merasa aman.

Sebagian anak prasekolah juga tetap mengalami separation anxiety yang berkepanjangan, dan perihal ini sepenuhnya normal.

Anak usia awal yang mengalami kekhawatiran terhadap sekolah dapat menunjukkan beragam gejala. Misalnya sering membicarakan ketakutannya terhadap sekolah dan terus-menerus meminta kepastian untuk ditemani.

Selain itu, mungkin bisa muncul keluhan bentuk seperti sakit perut alias sakit kepala, apalagi mengamuk saat Bunda bersiap pergi.

4. Usia sekolah dasar

Kecemasan berpisah pada anak usia sekolah dasar dapat disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah tekanan dari tuntutan belajar di kelas.

Sistem pendidikan saat ini mungkin terasa terlalu 'menuntut' bagi sebagian anak, apalagi di usia yang semakin muda.

Anak mungkin mengalami indikasi bentuk seperti sakit kepala, mual, diare, susah tidur, dan sebagainya yang muncul menjelang hari sekolah.

Sebagian anak juga mungkin mengalami school refusal, ialah ketakutan terhadap sekolah yang begitu kuat sehingga mereka tidak dapat dibujuk apalagi untuk memasuki gedung sekolah.

Kalaupun akhirnya sukses sampai di sekolah, mereka mungkin menangis, mengeluhkan beragam rasa sakit, dan susah ditenangkan oleh pembimbing maupun staf sekolah.

Penting untuk diketahui bahwa anak yang mengalami kekhawatiran mengenai sekolah umumnya mengalaminya nyaris setiap hari. Kondisi ini biasanya tidak muncul hanya sesekali lampau menghilang keesokan harinya.

Tips untuk mengatasi separation anxiety

perkembangan emosi anak usia 4 tahunIlustrasi anak menangis/Foto: Getty Images/tylim

Lalu apa saja hal-hal yang bisa dilakukan orang tua untuk bantu mengatasi separation anxiety jelang masuk sekolah? Intip tipsnya berikut ini, Bunda:

1. Lakukan 'ritual' perpisahan yang singkat

Usahakan untuk mempunyai momen berpisah yang berkesan dan bisa menyemangati Si Kecil. Namun, pastikan ritual tersebut dilakukan dengan singkat saja. 

Biasanya, semakin lama Bunda menunda perpisahan, maka bakal semakin lama pula proses transisinya. Kecemasan anak pun bisa semakin meningkat.

2. Bersikap konsisten

Pastikan juga proses mengantar anak dilakukan dengan langkah dan waktu yang sama setiap hari, agar tidak ada perubahan yang tidak terduga.

Rutinitas yang konsisten dapat mengurangi kesedihan saat berpisah, sekaligus membantu anak membangun rasa percaya terhadap kemandiriannya maupun kepada Bunda.

3. Berikan perhatian sepenuhnya

Saat berpamitan, berikan perhatian penuh kepada anak, tunjukkan kasih sayang, dan peluk alias cium mereka.

Setelah itu, ucapkan selamat tinggal dengan sigap meskipun anak menangis alias meminta Bunda untuk tetap tinggal.

4. Tepati janji

Anak bakal semakin percaya diri dan berdikari ketika mereka percaya bahwa Bunda bakal betul-betul kembali menjemputnya sesuai janji. Meski khawatir, sebaiknya hindari menunggu di sekolah alias apalagi mengintip di jendela kelas anak.

Tindakan tersebut justru memperpanjang separation anxiety, apalagi membikin proses perpisahan kudu dimulai dari awal lagi. Perpisahan kedua ini apalagi rentan memicu reaksi yang lebih susah bagi psikis anak.

5. Lakukan persiapan sedini mungkin

Menurut psikiater anak, Sucheta Connolly,  sebisa mungkin sediakan waktu untuk membujuk anak berjamu ke sekolah beberapa hari sebelumnya. Bicarakan berbareng juga rutinitas baru yang bakal dijalani dengan terbuka dan penuh antusias.

Jika anak biasanya kesulitan menghadapi situasi sosial yang baru, cobalah mengatur waktu bermain berbareng beberapa calon kawan sekelas sebelum sekolah dimulai.

6. Bermain peran di rumah

Bunda juga dapat mencoba bermain peran di rumah. Banyak anak sebenarnya sudah siap secara kognitif untuk bersekolah, tetapi tetap kesulitan menyesuaikan diri dalam situasi sosial.

Gunakan boneka tangan alias boneka hewan untuk memperagakan situasi sosial yang membikin anak cemas, misalnya saat pertama kali berjumpa pembimbing alias kawan baru.

7. Validasi emosi anak

Jika kondisi bentuk anak sehat, cobalah membujuk mereka membicarakan emosi dan emosinya.

Akui dan pengesahan emosi mereka, tetapi tekankan bahwa emosi negatif seperti gugup bukan berfaedah mereka tidak bakal menikmati pengalaman di sekolah.

Itulah penjelasan tentang ciri-ciri separation anxiety sesuai usia. Jika Bunda cemas anak belum bisa beradaptasi dan menunjukkan reaksi berkepanjangan, jangan ragu berkonsultasi dengan master anak alias psikolog anak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya