Gelisah Karena Takut Berdosa Dan Berutang Budi? Ini Cara Menyikapinya

Apr 15, 2026 11:24 AM - 2 minggu yang lalu 17849
Gelisah Karena Takut Berdosa dan Berutang Budi? Ini Cara MenyikapinyaGelisah Karena Takut Berdosa dan Berutang Budi? Ini Cara Menyikapinya

Tanya Ustadz

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya merasa takut keluar malam lantaran cemas seperti berhutang budi kepada orang yang sudah memasang alias bayar lampu penerangan jalan di kampung. Saya juga takut jika ada orang yang melakukan baik kepada saya dan keluarga, misalnya memberi makanan alias informasi.

Selain itu, saya sangat takut melakukan salah kepada orang lain, baik sengaja maupun tidak. Saya sudah berupaya menebus semuanya, seperti membaca Allahummaghfir li wa lahu jika merasa bersalah, mengucapkan Jazakallah jika diberi kebaikan, mendoakan mereka, apalagi kadang bersedekah.

Namun saya tetap merasa tersiksa dengan emosi takut bersalah dan takut berhutang budi. Saya cemas semua pahala kebaikan saya bakal mengalir kepada orang yang pernah saya zalimi dan kepada semua orang yang pernah melakukan baik kepada saya selamanya. Mohon penjelasannya, Ustadz. (Sri, Perempuan, 42 tahun)

Jawaban

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih atas pertanyaannya. Perasaan takut melakukan salah, takut menzalimi orang lain, apalagi merasa tidak lezat menerima kebaikan adalah tanda hati yang tetap hidup dan mau menjaga diri di hadapan Allah. Namun perlu dipahami bahwa Islam adalah kepercayaan yang penuh kasih sayang dan keseimbangan, bukan kepercayaan yang membikin seseorang hidup dalam ketakutan terus-menerus.

Rasa takut menzalimi orang lain adalah sikap yang baik dan menunjukkan keimanan. Rasulullah bersabda:

اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Artinya; “Takutlah kalian terhadap angan orang yang dizalimi, lantaran tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, jika rasa takut itu berlebihan hingga membikin tidak tenang, selalu cemas, dan susah menjalani kehidupan sehari-hari, maka perihal itu tidak lagi baik. Kondisi seperti ini bisa termasuk was-was yang berasal dari setan dan perlu dilawan, bukan diikuti.

Terkait kekhawatiran bahwa semua pahala kebaikan bakal beranjak kepada orang lain, perihal itu tidak sepenuhnya benar. Dalam Islam, pahala tetap menjadi milik orang yang beramal. Dosa bisa diampuni jika seseorang sudah bertobat dengan sungguh-sungguh, dan Allah tidak bakal menzalimi hamba-Nya.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا

Artinya; “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah. Dan jika ada kebaikan, Allah bakal melipatgandakannya.” (QS. An-Nisa: 40)

Jika seseorang pernah melakukan salah, lampau dia menyesal, berupaya meminta maaf, dan bertobat kepada Allah, maka dosa tersebut dapat diampuni. Dalam kondisi seperti itu, pahala kebaikan yang dilakukan tetap menjadi miliknya dan tidak lenyap begitu saja.

Adapun perpindahan pahala kepada orang yang dizalimi memang bisa terjadi, tetapi itu dalam kondisi ketika kezaliman belum diselesaikan, seperti belum meminta maaf alias belum bertobat.

Jika seseorang sudah berupaya memperbaiki kesalahan, alias kesalahan itu terjadi tanpa sengaja, apalagi tidak jelas kepada siapa kesalahan itu terjadi, maka tidak ada argumen untuk takut bahwa semua pahalanya bakal habis. Justru rasa takut dan penyesalan itu merupakan tanda adanya tobat dalam diri.

Jika emosi takut ini terus muncul secara berlebihan hingga mengganggu ketenangan hidup, apalagi dalam hal-hal yang wajar seperti menerima kebaikan orang lain, maka besar kemungkinan itu termasuk was-was. Rasulullah bersabda:

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَ ذَلِكَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ

Artinya; “Setan datang kepada salah seorang di antara kalian lampau berkata: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ hingga akhirnya berkata: ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Maka jika sampai di situ, mintalah perlindungan kepada Allah dan berhentilah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagai penutup, dapat dipahami bahwa takut melakukan salah adalah perihal yang baik, tetapi tidak boleh berlebihan. Tidak semua pahala bakal beranjak kepada orang lain, apalagi jika seseorang sudah bertobat.

Oleh lantaran itu, cobalah menjalani hidup dengan lebih tenang, tetap melakukan baik, dan serahkan urusan pahala serta dosa kepada Allah yang Maha Adil dan Maha Penyayang. Wallahu a’lam.

Selengkapnya