Hadis: Memberikan Perhatian Kepada Anak

Apr 28, 2026 11:00 AM - 7 jam yang lalu 362

Pada pembahasan kali ini, kita bakal melanjutkan pembahasan dari kitab “40 Hadits Tentang Tarbiyah dan Manhaj” karya Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah As-Sadhaan hafizhahullah dengan membahas sabda keempat tentang “Memberikan Perhatian kepada Anak”.

عَنْ مَالِكِ بْنِ الحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ يَوْمًا وَلَيْلَةً, وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيمًا رَفِيقًا, فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدِ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا -أَوْ قَدِ اشْتَقْنَا- سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا, فَأَخْبَرْنَاهُ, قَالَ: ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ, فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ- وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لاَ أَحْفَظُهَا- وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي, فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ, وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu: Kami datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saat itu kami adalah para pemuda yang berumur sebaya. Kami tinggal di sisi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 20 hari 20 malam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat penyayang dan lemah lembut. Tatkala beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengira bahwa kami sangat mendambakan family kami alias kami sangat merindukan (keluarga), beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada kami tentang family yang kami tinggalkan.

Kami pun mengabarkannya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kalian kepada family kalian, tinggalah kalian berbareng mereka, dan ajarkanlah mereka serta perintahlah mereka (untuk salat).” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sesuatu yang saya pernah mengingatnya, namun saya lupa. ‘Salatlah kalian sebagaimana kalian memandang saya salat. Apabila telah datang waktu salat, kumandangkanlah azan dan pilihlah salah seorang pemimpin dari orang yang lebih tua di antara kalian.’ (HR. Bukhari no. 631 dan Muslim no. 674)

Beberapa faidah dari hadis:

Donasi Kincai Media

1) Keutamaan menempuh perjalanan jauh dalam menuntut ilmu.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata dalam syairnya,

غرب عن الأوطان في طلب العلا ○ وسافر ففي السفار خمس فوائد

تَفَرُّجُ هم واكتساب معيشة ○ وعلم وآداب وصحبة ماجد

“Pergilah dari kampung laman untuk mencari kemuliaan. Merantaulah! Karena merantau mempunyai lima faidah. Hilangnya kegalauan, mendapat pekerjaan untuk biaya hidup, mereguk pengetahuan pengetahuan, belajar tata karma, dan memperoleh banyak sahabat”. (Diwan al-Imam as-Syafi’i, hal. 41)

2) Bersungguh-sungguh untuk meraih kemuliaan dalam menuntut pengetahuan sebagaimana yang dilakukan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sebab, tidaklah kemuliaan pengetahuan itu didapat selain dengan tekad yang kuat, kesabaran dalam menghadapi setiap kesulitan tatkala menuntut ilmu, konsistensi dan ketekunan dalam mengambil pengetahuan dari para mahir ilmu. Sebagaimana perkataan Yahya bin Abi Katsir rahimahullah,

لا يُستطاع العلم براحة الجسد

“Ilmu tidaklah bakal didapat dengan raga yang santuy (tidak bersungguh-sungguh).” (Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 348 no. 553)

3) Pada asalnya, tempat menetap seorang penuntut pengetahuan adalah dekat dengan gurunya. Terdapat banyak faedah yang dapat dirasakan oleh seorang penuntut pengetahuan saat dia senantiasa membersamai mahir ilmu, salah satu di antaranya adalah mendapatkan contoh keteladanan nyata dari mahir pengetahuan tersebut.

4) Agungnya adab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kecintaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para penuntut ilmu. Selain itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan sosok yang sangat berkasih sayang terhadap mereka. Hal ini tercermin dalam sikap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menanyakan berita family para sahabat radhiyallahu ’anhum yang sedang menuntut pengetahuan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memerintahkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum untuk kembali kepada family mereka.

5) Agungnya kepintaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdakwah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tak tidak hanya mengajarkan hukum Islam yang agung, namun beliau memberikan porsi perhatian yang cukup terhadap emosi dan keadaan para muridnya. Sehingga mendorong mereka mencintai Nabi dan mencintai pengetahuan yang beliau ajarkan. Sungguh, cinta adalah salah satu pondasi terkuat bagi kebaikan seorang muslim.

6) Hendaknya bagi setiap orang tua maupun pengajar pengetahuan antusias untuk memberikan perhatian terhadap anak-anak ataupun murid-muridnya dan secara berkala memeriksa keadaan serta emosi mereka. Sebab, perihal ini bakal lebih efektif menyeru hati mereka untuk antusias mengambil pengetahuan dari orang tua ataupun gurunya dan menumbuhkan kecintaan serta minat mereka terhadap ilmu.

7) Ketahuilah bahwa perhatian orang tua maupun pembimbing terhadap anak-anak ataupun muridnya tidak boleh hanya sebatas hubungan transaksional belajar mengajar semata, bakal tetapi mencakup pengetahuan tentang keadaan dan emosi mereka, meskipun secara global. Sebab, manusia adalah makhluk yang tak hanya terpengaruh oleh otak mereka saja, namun juga perasaan. Semakin kita bisa mengambil hati anak-anak maupun siswa kita, semakin mudah bagi kita untuk mempengaruhi mereka dalam kebaikan dan mengarahkan mereka menuju jalan hidup yang lebih baik. Fokus kita bukan hanya mau selalu didengar dan dipahami, namun kita juga kudu berupaya mendengar dan memahami. Fokus kita tak hanya membangun keahlian intelektual semata, namun membangun hubungan dan hubungan yang sehat terhadap mereka.

8) Kerusakan para pemuda seringkali disebabkan oleh kurangnya perhatian, cinta, dan support dari orang-orang terdekat. Betapa banyak anak muda yang tersesat langkah hanya lantaran mengejar perhatian yang salah arah. Betapa banyak anak muda yang meninggal rasa hanya lantaran dahaga bakal rasa cinta yang tak terpenuhi segera. Betapa banyak anak muda yang memilih rentan hanya lantaran tidak adanya support yang membikin mereka merasa utuh. Pemuda adalah aset berbobot bagi umat. Sudah semestinya kita semua berasosiasi untuk menjadi sosok yang kondusif dan nyaman bagi hati dan raga mereka untuk pulang. Jangan menganggap bahwa perhatian, cinta, dan support yang kita curahkan kepada mereka adalah proses buang-buang waktu saja, ini semua adalah proses pembelajaran berbobot bagi mereka kelak di masa depan.

9) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang sangat antusias menunaikan kewenangan kepada setiap yang berkuasa mendapatkannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan kewenangan murid-muridnya dengan sangat baik sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan hak-hak keluarganya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan kewenangan murid-muridnya atas perhatian dengan sebaik mungkin sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan hak-hak mereka atas ilmu.

10) Hendaknya seorang penuntut pengetahuan memperhatikan pendidikan untuk keluarganya, sebagaimana perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam sabda ini. Karena mereka adalah orang-orang yang paling berkuasa dan paling utama atas pengetahuan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

– ثَلاثةٌ لهم أجرانِ: رَجُلٌ مِن أهلِ الكِتابِ آمَنَ بنَبيِّه وآمَنَ بمُحَمَّدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، والعَبدُ المَملوكُ إذا أدَّى حَقَّ اللهِ وحَقَّ مَواليه، ورَجُلٌ كانَت عِندَه أَمَةٌ فأدَّبَها فأحسَنَ تَأديبَها، وعَلَّمَها فأحسَنَ تَعليمَها، ثُمَّ أعتَقَها فتَزَوَّجَها، فلَه أجرانِ

“Tiga orang yang bagi mereka dua pahala: (1) Seorang laki-laki dari kalangan mahir kitab, dia beragama kepada Nabinya ‘alaihissalam dan beragama kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, (2) Seorang hamba sahaya, andaikan dia menunaikan kewenangan Allah Jalla Jalaaluh dan kewenangan tuannya, (3) Seorang laki-laki yang mempunyai budak perempuan, dia mendidiknya dan membaguskan pendidikan terhadapnya, dia mengajarinya dan membaguskan pengajaran terhadapnya, kemudian dia membebaskannya dan menikahinya, maka baginya dua pahala….” (HR. Bukhari no. 97 dan Muslim no. 154)

Jika seseorang diberikan ganjaran yang besar atas pengajaran terhadap budak yang dimilikinya, maka gimana kiranya dengan pengajaran yang dia lakukan kepada anak-anak dan keluarganya di rumah? Bukankah lebih besar lagi? Bukankah lebih agung lagi? Tidakkah kita menginginkannya?

Tentunya langkah menyampaikan pengetahuan kepada family haruslah disertai dengan keteladanan, hikmah, dan kelemahlembutan, senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Jalla Jalaaluh selalu mendoakan, serta tidak memaksakan hidayah kepada mereka. Allah Jalla Jalaaluh berfirman,

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk.” (QS. Qashash: 56)

11) Idealnya, pengajaran terhadap pengetahuan tidak hanya sebatas perkataan, namun juga perbuatan (keteladanan).

12) Di antara keagungan pengetahuan adalah kebermanfaatan yang selalu menyertai pemiliknya. Ilmu itu senantiasa berfaedah bagi pemiliknya baik dalam keadaan safar maupun hadirnya, baik ketika dia berbareng family maupun sendirinya, pengetahuan bakal senantiasa meliputinya dengan kebermanfaatan dalam beragam keadaan.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Baca juga: Hadis: Pentingnya Niat dalam Mendidik Anak

***

Penulis: Putri Idhaini

Artikel Kincai Media

Referensi:

  1. ‘Arba’una Haditsan fii Tarbiyati wa al-Manhaj, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhaan hafidzahullah.
  2. Terjemahmatan.com
  3. Dorar.net/h/aGcTSZdD, Dorar.net/h/Lwbdd2Tw
  4. Merantaulah, Ustadz Setiawan Tugiono, B.A., M.HI, 2020.
  5. Shamela.ws
  6. Ilmu Tidak Didapatkan dengan Tubuh yang Santai, dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK, 2018.
  7. Quran.kemenag.go.id
Selengkapnya