Hadis: Mendidik Anak Dengan Ketakwaan

Mar 06, 2026 11:00 AM - 1 bulan yang lalu 25729

Setelah pembahasan sabda kedua tentang “Pentingnya bersikap setara dalam mendidik anak” dari kitab ringkas berjudul, “40 Hadis tentang Tarbiyah dan Manhaj” yang ditulis oleh Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah As-Sadhan hafizahullah, kita lanjutkan pembahasan sabda selanjutnya tentang “Mendidik anak dengan ketakwaan”,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا، فَالنَّاسُ رَجُلَانِ: بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللَّهِ، وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللَّهِ، وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ، وَخَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ ، قَالَ اللَّهُ: ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾ (الحجرات: 13)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah kepada manusia pada hari pembebasan kota Mekah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan orang-orang jahiliyah dan berbangga-bangga terhadap nenek moyang. Maka manusia terbagi menjadi dua (golongan); orang baik yang bertakwa lagi mulia di sisi Allah dan orang fajir (banyak melakukan maksiat) yang celaka lagi buruk di sisi Allah. Manusia itu adalah keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam, dan Allah menciptakan Adam ‘alaihis salam dari tanah.”

Allah berfirman (yang artinya), ‘Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan Anda dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan Anda berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar Anda saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara Anda di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti’.” (QS. Al-Hujurat: 13) (HR. Tirmidzi no. 3270)

Beberapa faidah dari hadis:

1) Bentuk kesempurnaan kepercayaan Islam adalah menunjukkan kepada jalan-jalan kebaikan (perbuatan terpuji) dan melarang dari segala keburukan (perbuatan tercela).

Donasi Kincai Media

2) Salah satu corak perbuatan tercela yang mengotori hati adalah kesombongan, dan salah satu corak kesombongan adalah berbangga-bangga terhadap nasab dengan merendahkan garis nasab orang lain.

Hendaknya orang tua maupun pendidik memberikan pemahaman unik tentang perkara ini kepada anak-anak alias para peserta didik. Mengajarkan kepada mereka bahwa berbangga-bangga dengan nasab ini adalah perbuatan yang sangat tercela. Selain menjadikan pelakunya terjangkit penyakit kesombongan, perbuatan ini juga bakal mendorong pelakunya untuk malas dalam beramal (jika dia menganggap bahwa nasabnya kepada seseorang yang saleh memberinya agunan masuk surga). Padahal, nasab seseorang tidak berfaedah bagi keselamatannya di alambaka kelak. Sebagaimana anak Nabi Nuh ‘alaihissalam yang tidak selamat dari balasan Allah Ta’ala dikarenakan dia tidak beragama dan tidak alim terhadap perintah Allah Ta’ala, meskipun dia adalah anak dari seorang Nabi yang dijamin masuk surga.

3) Beberapa langkah untuk mengatasi kesombongan:

  • Mengingat asal usul pembuatan manusia. Nabi Adam ‘alaihissalam, manusia pertama, dia diciptakan Allah Ta’ala dari tanah. Tanah yang saat ini kita injak tempatnya di permukaan bumi, bukan di atas langit. Seluruh manusia adalah keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam yang berasal dari tanah dan bakal kembali ke tanah. Maka, tidak selayaknya bagi manusia untuk meninggi alias bersikap sombong. Terlebih lagi ketika manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dari air mani yang memancar, sesuatu yang andaikan berceceran di sebuah tempat, tentunya membikin orang lain yang melihatnya merasa jijik.

خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ

“Dia diciptakan dari air (mani) yang memancar.” (QS. Ath-Thariq: 6)

Maka, tetap ada argumen yang pantaskah bagi manusia untuk bersikap sombong?

  • Mengingat bahwa kesombongan merupakan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, perbuatan yang sangat dibenci Allah Ta’ala, apalagi termasuk dosa besar.

وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ

“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)

Ingatlah bahwa dosa yang pertama kali muncul kepada Allah Ta’ala adalah kesombongan Iblis, karena kesombongan inilah yang menjadikan Iblis terlaknat selama-lamanya. Tidak ada yang berkuasa untuk sombong selain Allah Ta’ala. Karena hanya Allah Ta’ala saja yang kekayaan-Nya tiada habisnya, kekuatan-Nya tidak ada lemahnya, dan hanya Dia satu-satunya yang kehendak-Nya tiada batasnya. Adapun makluk-makhluk-Nya, tidak layak untuk menyombongkan diri, sedangkan mereka itu ada di bumi ini juga lantaran diciptakan oleh-Nya, mereka bisa hidup dan mempunyai sesuatu juga lantaran kehendak dan rezeki dari-Nya.

  • Melatih diri untuk senantiasa bersikap tawadhu’ (rendah hati), dan mengingat bahwa ganjaran dari sikap tawadhu’ adalah diangkatnya derajat oleh Allah Ta’ala.

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang melangkah di atas bumi dengan rendah hati dan andaikan orang-orang tolol menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)

4) Timbangan keistimewaan seorang manusia di sisi Allah Ta’ala bukanlah nasabnya, melainkan ketakwaan. Semakin bertakwa seseorang, maka semakin mulia kedudukannya di sisi Allah. Begitupun sebaliknya, semakin tidak bertakwa seseorang, maka dia bakal semakin buruk kedudukannya di sisi Allah. Sebagaimana ayat Al-Qur’an yang disebutkan dalam hadis di atas,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara Anda di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

5) Makna dari takwa sebagaimana perkataan sebagian salafusshalih,

التقوى أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله، وأن تدع معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله

“Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala di atas sinar (ilmu) dari Allah Ta’ala dengan mengharapkan pahala (balasan) dari Allah Ta’ala. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala di atas sinar (ilmu) dari Allah Ta’ala karena engkau (merasa) takut terhadap (konsekuensi) balasan dari Allah Ta’ala.”

Hendaknya orang tua maupun pendidik menjadikan prinsipnya dalam mendidik anak-anak adalah “menumbuhkan ketakwaan pada diri anak”, tidak hanya sekadar menuntut anak untuk tunduk alim terhadap patokan ketika mereka berada di hadapan kita saja. Cara mendidik yang keliru bakal menciptakan generasi yang pandai “berpura-pura”. Berpura-pura baik untuk mendapatkan pujian, kasih sayang, alias reward; berpura-pura saleh agar tidak mendapatkan hukuman, dan beragam macam corak kamuflase lainnya.

Apa yang kita harapkan dari hasil pendidikan seperti ini? Pendidikan yang tidak memberikan anak-anak pondasi kokoh dalam melakukan sesuatu, tidak memberikan ruang bagi anak untuk berbincang dan mengetahui apa saja faedah dari melakukan alias meninggalkan sebuah perbuatan. Pendidikan yang menghasilkan generasi patuh, namun rapuh.

Ajarkan kepada anak untuk bersikap ilmiyah, membiasakan mereka untuk berpikir kritis. Mendahulukan pengetahuan sebelum amal. Tumbuhkan kecintaan anak kepada keridaan Allah Ta’ala. Sehingga yang menjadi pendorong mereka untuk melakukan sebuah ibadah dan meninggalkan kemaksiatan itu bukanlah bayang-bayang rasa takut maupun ancaman, melainkan ganjaran pahala dan keridaan Allah Ta’ala.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Baca juga: Bagaimana Mendidik Anak dalam Islam?

***

Penulis: Putri Idhaini

Artikel Kincai Media

Referensi:

‘Arba’una Haditsan fii Tarbiyati wa al-Manhaj, Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhaan hafidzahullah.

https://dorar.net/h/zt3rRotS

حقيقة التقوى, karya Syekh Ibnu Baz rahimahullah.

Jauhilah Sikap Sombong, karya dr. Adika Mianoki, Sp.S., 2010.

Selengkapnya