Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya‘ban, Bid’ah?

Jan 27, 2026 11:25 PM - 3 bulan yang lalu 108449
Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya‘ban, Bid'ah?Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya‘ban, Bid'ah?

Kincai Media –  Pada malam pertengahan bulan Sya‘ban ini, kaum muslimin di Indonesia, lazim mengisinya dengan beragam ibadah seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, zikir, dan angan bersama. Namun, tidak jarang muncul pertanyaan: gimana sebenarnya norma memperingati malam Nisfu Sya‘ban?

Dalam khazanah fikih klasik, para ustadz dari beragam ajaran telah membahas keistimewaan dan norma memperingati malam Nisfu Sya‘ban dengan ibadah. Salah satu ustadz ajaran Hanafi, Ibnu Najim al-Hanafi, secara tegas memasukkan malam Nisfu Sya‘ban ke dalam kategori malam yang dianjurkan untuk dihidupkan.

Simak penjelasan dalam kitab Al-Bahr ar-Ra’iq Syarh Kanz ad-Daqa’iq, Jilid 2, laman 56 yang menyatakan bahwa menghidupkan malam nisfu Sya’ban hukumnhy adalah sunnah:

ومن المندوبات: إحياء ليالي العشر من رمضان، وليلتي العيدين، وليالي عشر ذي الحجة، وليلة النصف من شعبان

Artinya: “Di antara ibadah yang dianjurkan adalah menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, dua malam hari raya, malam-malam sepuluh (awal) bulan Dzulhijjah, dan malam pertengahan bulan Sya‘ban.”

Pandangan serupa juga ditegaskan oleh ustadz ajaran Syafi‘i, Syihabuddin al-Qalyubi, dalam Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala Syarh al-Minhaj, jilid 1, laman 359 menjelaskan bahwa malam Nisfu Sya‘ban termasuk waktu yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan ibadah lantaran menjadi mahal ijabah ad-du‘a (waktu terkabulnya doa).

Simak penjelasan berikut:

يُندَب إحياء ليلتي العيدين بذكرٍ أو صلاةٍ، وأَوْلَاها: صلاة التسبيح، ويكفي مُعظَمُها؛ وأَقَلُّهُ: صلاة العشاء في جماعة، والعزم على صلاة الصبح كذلك، ومثلهما: ليلة نصف شعبان، وأول ليلة من رجب، وليلة الجمعة؛ لأنها مَحَالُّ إجابة الدعاء

Artinya: “Disunnahkan menghidupkan dua malam hari raya dengan zikir alias shalat, dan yang paling utama adalah shalat tasbih. Cukup dilakukan sebagian besarnya, dan yang paling minimal adalah shalat Isya berjamaah serta beriktikad melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Demikian pula halnya malam Nisfu Sya‘ban, malam pertama bulan Rajab, dan malam Jumat, lantaran malam-malam tersebut merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa.”

Berdasarkan keterangan para ustadz mu‘tabar dari ajaran Hanafi dan Syafi‘i, dapat disimpulkan bahwa memperingati dan menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban hukumnya sunnah (mandub). Praktik ini mempunyai dasar yang kuat dalam kitab-kitab fikih klasik dan sejalan dengan tradisi keagamaan yang berkembang di masyarakat Indonesia.

Oleh lantaran itu, menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban dengan beragam corak ibadah merupakan ibadah yang baik dan terpuji, selama dilakukan secara proporsional dan tetap berada dalam koridor hukum Islam. Wallahu a‘lam bisshawab.

Selengkapnya