Ini Kalimat yang Bisa Diucapkan Orang Tua saat Anak Ketahuan Berbohong

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 504x dilihat
Ini Kalimat yang Bisa Diucapkan Orang Tua saat Anak Ketahuan Berbohong

Bagikan Postingan

Ketika anak ketahuan berbohong, orang tua perlu mengucapkan kalimat yang tepat agar mereka tidak merasa 'dijebak'. Nah, seperti apa contohnya?

Dalam situasi demikian, Bunda mempunyai kesempatan untuk kembali menanamkan pemahaman bahwa berbicara jujur selalu menjadi pilihan yang terbaik.

Kejujuran bukan hanya tentang berbicara benar, tetapi juga tentang tanggung jawab dan kepercayaan diri.


Semua ini tidak terbentuk secara instan, melainkan tumbuh melalui contoh langsung dari orang tua dan nilai yang diperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak usia berapa anak mulai bisa berbohong?

Kebiasaan mendusta biasanya mulai muncul sekitar usia 3 tahun. Namun, perihal ini bisa berbeda-beda tiap anak.

Pada tahap perkembangan ini, anak tetap belajar memahami bumi di sekitarnya, termasuk membedakan antara khayalan dan kenyataan.

Mereka juga sedang belajar mengenal tentang konsep 'benar' dan 'salah', sehingga ketidakejujuran tetap dilakukan dengan bercanda. 

Dikutip dari Baby Center, nantinya saat memasuki usia sekitar 5 hingga 6 tahun, anak-anak mulai memahami bahwa mendusta itu perbuatan yang salah.

Berikutnya di usia sekolah, mendusta sudah menjadi perihal yang bisa dipertimbangkan lebih lanjut oleh anak. Sehingga pembentukan perilaku jujur krusial dimulai sejak dini.

Kalimat apa yang bisa diucapkan saat tahu anak sedang berbohong?

Ada kalanya Bunda tidak percaya apakah anak mengatakan yang sebenarnya, tetapi ada pula situasi ketika sudah sangat jelas bahwa dia sedang berbohong.

Ketika menghadapi situasi yang kedua, psikiater klinis di Amerika Seriakt, Tamir Aldad merekomendasikan orang tua menggunakan kalimat yang tepat, yaitu: "Ayah/Bunda sudah tahu apa yang terjadi. Ayah/Bunda hanya mau mendengarnya langsung dari kamu."

Dengan kalimat ini, anak tidak lagi kudu memilih antara mengaku alias menyangkal. Mereka hanya diberi kesempatan untuk berbicara jujur kepada orang tua, yang sudah mengetahui faktanya.

"Kalimat ini menghilangkan kesan bahwa anak sedang dijebak. Orang tua tidak sedang menguji mereka, tetapi membujuk mereka untuk jujur. Perubahan pendekatan ini krusial lantaran mengubah apa yang sebenarnya diminta dari anak," ungkap Aldad, seperti dikutip dari Parade.

Lalu kalimat apa yang sebaiknya dihindari?

Psikolog klinis lainnya dan penulis kitab Hello Baby, Goodbye Intrusive Thoughts, Jenny Yip menyebut ada sebuah kalimat yang sebaiknya dihindari saat orang tua anak sedang berbohong. Kalimat tersebut adalah: "Apakah Anda melakukan ini?".

"Pertanyaan seperti ini dapat membikin anak merasa sedang dijebak. Mereka dengan sigap menyadari bahwa ini bukan sekadar rasa mau tahu, melainkan sebuah ujian. Begitu anak merasa sedang diuji, mereka berakhir memikirkan kejujuran dan mulai memikirkan langkah untuk menghindar," imbuh Yip.

Seiring perkembangan otak anak, mereka belajar mengendalikan impuls, mengatur emosi, dan memikirkan akibat di masa depan.

Sesuatu yang dianggap anak sebagai 'ancaman bahaya' seperti hukuman, kekecewaan, alias kehilangan kedekatan dengan orangtua, dapat memicu perubahan perilaku mereka.

Yip menjelaskan bahwa dalam kondisi demikian, bagian otak yang berangkaian dengan respons memperkuat hidup sering kali mengambil alih sebelum bagian otak yang bekerja menalar mempunyai kesempatan untuk bekerja.

"Daripada mengusulkan pertanyaan yang jawabannya sudah orang tua ketahui, sampaikan apa yang dilihat. Misalnya, 'Bunda memandang lampunya rusak. Bantu Bunda memahami apa yang terjadi'. Cara ini membuka ruang bagi anak untuk menjelaskan, bukan memaksanya untuk menyangkal," pesan Yip.

Aldad menambahkan bahwa anak secara alami condong menghindari balasan jangka pendek dibandingkan akibat jangka panjang. 

Menurutnya, kebanyakan anak bakal memilih mendusta pada saat itu ketika dihadapkan pada pertanyaan yang membikin mereka merasa dijebak.

Jika dibiarkan, seiring waktu anak mulai merasa bahwa mereka sengaja dibuat berada dalam posisi yang salah, bukan diajak untuk berbicara jujur. 

Apa saja yang menjadi penyebab anak berbohong? 

Menurut para psikolog, ada beberapa argumen yang menjadi penyebab kenapa anak tidak berbicara jujur:

1. Takut dihukum

Ketika anak berbohong, argumen paling sederhana yang paling banyak menjadi pemicu ialah mereka tidak mau kena hukuman. Dengan demikian, menyangkal terasa lebih aman.

Sebagian besar ketidakejujuran pada masa kanak-kanak bukan bermaksud untuk memanipulasi, tapi untuk menghindari konsekuensi.

2. Tidak mau mengecewakan orang tua

Anak juga rentan merasa takut mengecewakan orang-orang yang paling mereka sayangi, terutama orang tua.

Misalnya pada anak yang berperasaan sensitif, mereka mungkin menyembunyikan kesalahan lantaran tidak mau mengecewakan orang tua. 

3. Kesulitan menghadapi rasa malu

Rasa malu dapat membikin anak memilih untuk menyimpan sesuatu secara diam-diam. "Anak yang merasa malu condong menyembunyikan kesalahan. Sementara anak yang merasa diterima bakal lebih bersedia memperbaikinya," ujar Yin.

4. Otak anak tetap proses berkembang

Melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Kemampuan otak anak untuk mengendalikan impuls, membikin perencanaan, dan mempertimbangkan akibat jangka panjang, tetap dalam tahap perkembangan.

Tips membangun karakter jujur pada anak

Berikut beberapa langkah krusial yang bisa diterapkan untuk membantu membangun  karakter jujur pada anak:

1. Memberi contoh berperilaku jujur

Anak-anak bakal mempelajari sesuatu lebih mudah dengan mengawasi perilaku orang di sekitarnya. Untuk menumbuhkan sikap jujur, tunjukkan kejujuran dalam hubungan sehari-hari Bunda dengan Si Kecil.

2. Beri kesempatan kedua untuk berbicara jujur

Anak balita sangat mungkin mendusta untuk menghindari hukuman. Alih-alih bereaksi secara keras alias berteriak, cobalah untuk menciptakan ruang di mana mereka merasa kondusif untuk memperbaiki kesalahan tersebut. 

Jika anak mau mengakuinya, apresiasi sembari tetap membahas perilaku yang salah. Ini bakal membantu mereka memahami bahwa meskipun tindakan salah mempunyai konsekuensi, tapi mengatakan yang sebenarnya merupakan pilihan yang tepat.

3. Beri apresiasi saat anak jujur

Dalam momen tertentu, berikan kesempatan untuk mengapresiasi anak ketika mereka berani berbicara jujur, terutama dalam situasi yang sulit.

Mereka perlu tahu bahwa kejujuran merupakan sesuatu yang berbobot dan patut diapresiasi.

Itulah penjelasan tentang kalimat yang bisa diucapkan orang tua saat anak berbohong. Jika perubahan sikap anak susah diarahkan menjadi lebih positif, jangan ragu berkonsultasi ke profesional.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads