Jakarta -
Menjadi orang tua bukan tentang selalu berbuat segala sesuatu dengan sempurna, Bunda. Namun, tanpa disadari ada beberapa pola pengasuhan yang sering kali dianggap wajar dan 'sempurna' oleh orang tua, namun rupanya bisa berakibat kurang baik pada evolusi emosi anak.
Ya, kebiasaan parenting paling beracun rupanya sering dilakukan orang tua saat mendidik anak-anaknya. Bila tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut bisa memudarkan rasa cinta dan merusak hubungan dengan anak di kemudian hari.
Lantas, apa saja kebiasaan parenting yang paling beracun menurut psikolog? Simak penjelasannya berikut ini ya, Bunda!
Kebiasaan parenting yang beracun
Melansir dari halaman Times of India, berikut beberapa kebiasaan parenting paling beracun menurut psikolog klinis Dr. Shefali Tsabary:
1. Pengorbanan rupanya tameng penyamaran
Salah satu pola pengasuhan yang paling beracun adalah memproyeksikan fantasi, harapan, dan keinginan yang tidak terpenuhi pada anak. Kemudian, orang tua menolak untuk bertanggung jawab.
Orang tua sering kali membingkai sikap mengontrol sebagai bentuk pemberian tanpa pamrih, dan frustrasi dianggap sebagai pengorbanan. Mereka sering bersikeras menganggap semua yang dilakukan demi anak-anak.
Pola pengasuhan seperti ini sangat sulit untuk ditentang karena dari luar tampak mulia. Orang tua mungkin mengatakan mereka telah mengorbankan segalanya, bekerja tanpa henti, menderita dalam diam, dan membangun hidup mereka di tengah anak-anak.
Tetapi, ketika pengorbanan itu digunakan sebagai utang emosional, anak tidak lagi dibesarkan dengan baik. Anak diharapkan untuk menyelesaikan kesuksesan yang tidak bisa diraih oleh orang tuanya. Dalam situasi seperti ini, cinta mulai terasa bersyarat.
2. Orang tua memberikan beban ke anak-anaknya
Banyak orang tua tanpa disadari membebankan banyak hal pada anak-anaknya. Nah, anak-anak yang dibesarkan dalam kondisi seperti ini sering kali tumbuh dengan emosi bersalah karena memiliki preferensi sendiri, Bunda.
Anak mungkin belajar membaca situasi sebelum memahami diri mereka sendiri. Mereka menjadi ahli dalam menyenangkan orang lain, mencapai tujuan, dan menghindari konflik, tetapi luar dengan keinginan mereka sendiri.
Bagian yang paling menyakitkan adalah anak sering dituduh tidak tahu bersyukur jika mereka menolak. Hal itu pada akhirnya membikin kebutuhan alas anak akan otonomi terdengar seperti penghianatan.
Seiring waktu, kondisi ini dapat menciptakan kecemasan, kebencian, dan keinginan untuk menyenangkan orang lain. Rasa percaya diri anak pun sedikit demi sedikit menjadi terkikis.
3. Orang tua tidak jujur dengan dirinya sendiri
Pola asuh yang sehat tidak membutuhkan kesempurnaan, tapi kejujuran. Kejujuran yang tanpa filter dapat menciptakan ruang yang sangat dibutuhkan dalam membesarkan anak, Bunda.
Anak-anak seperti diberikan kebebasan untuk menjadi diri mereka sendiri dan menikmati masa kecilnya, alih-alih cuma menjadi wadah yang dipenuhi penyesalan dan frustrasi dari orang dewasa. Selain itu, kejujuran juga memberikan pelajaran penting, yaitu cinta dan perhatian ikhlas yang tidak pernah disertai hutang emosional.
Ingat ya, bentuk pengasuhan yang paling merusak tidak cuma ditandai dengan kekakuan maupun tekanan berlebih, tetapi jika ada manipulasi terselubung terhadap keberadaan anak dengan kedok pengorbanan. Di waktu bersamaan, orang tua mengharapkan rasa terima kasih atas kerugian yang terjadi pada anaknya.
Demikian tiga kebisaan parenting yang paling beracun menurut psikolog. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)