Banyak Bunda mungkin pernah membujuk ngobrol Si Kecil yang tetap berada di dalam perut. Ada yang membacakan cerita, menyanyikan lagu, membaca doa, alias sekadar bercerita tentang kegiatan hari itu.
Meski terlihat sederhana, kebiasaan ini rupanya berangkaian dengan proses perkembangan otak bayi sejak sebelum lahir. Bayi dalam kandungan bukan hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga mulai belajar mengenali suara, ritme, dan lingkungan di sekitarnya.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada otak bayi ketika sering diajak berkomunikasi?
Bayi sudah bisa mendengar sejak dalam kandungan
Perkembangan indra pendengaran bayi dimulai sejak trimester kedua kehamilan. Sekitar usia 18–25 minggu, struktur telinga dan sistem pendengaran mulai berkembang sehingga janin dapat merespons suara.
Suara pertama yang paling sering didengar bayi adalah bunyi dari tubuh Bunda sendiri, seperti debar jantung, aliran darah, hingga bunyi Bunda saat berbicara.
Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Psychological Science, peneliti mengawasi 60 janin cukup bulan yang diperdengarkan rekaman bunyi ibu alias bunyi wanita asing. Hasilnya menunjukkan bahwa debar jantung janin memberikan respons berbeda ketika mendengar bunyi ibu dibandingkan bunyi orang lain. Respons ini menunjukkan bahwa janin sudah mempunyai keahlian untuk mengenali bunyi yang sering dia dengar selama dalam kandungan.
Artinya, bunyi Bunda yang sering terdengar selama kehamilan bukan sekadar bunyi biasa bagi bayi, tetapi menjadi bunyi yang familiar.
Selain itu, Salah satu penelitian terkenal dilakukan oleh Barbara Kisilevsky dan tim yang meneliti apakah janin dapat mengenali bunyi ibu. Penelitian menunjukkan bahwa menjelang akhir kehamilan, otak bayi sudah bisa memproses bunyi dengan lebih baik. Janin mulai mengenali pola suara, ritme, dan intonasi yang sering didengarnya.
Artinya, ketika Bunda sering berbincang kepada bayi, otaknya sedang menerima rangsangan untuk berkembang.
Suara Bunda membantu bayi mengenali rasa aman
Suara Bunda mempunyai tempat unik bagi bayi lantaran merupakan bunyi yang paling sering terdengar sejak dalam rahim. Ketika Bunda berbincang kepada bayi dengan tenang dan penuh kasih sayang, kegiatan ini juga membantu Bunda membangun keterikatan emosional.
Dalam proses kehamilan, hubungan positif seperti berbincang alias memberikan sentuhan lembut dapat meningkatkan rasa dekat antara ibu dan bayi. Ikatan ini sering disebut sebagai prenatal bonding alias keterikatan sebelum lahir.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Infant and Child Development menemukan bahwa keterikatan Bunda dengan janin selama kehamilan berangkaian dengan hubungan emosional yang lebih kuat setelah bayi lahir.
Artinya, kebiasaan sederhana seperti menyapa bayi setiap hari dapat menjadi bagian dari proses persiapan menjadi orang tua.
Selain itu, beberapa penelitian menemukan bahwa bayi baru lahir dapat menunjukkan respons berbeda ketika mendengar bunyi ibu dibandingkan bunyi orang lain. Hal ini menunjukkan adanya corak pembelajaran sederhana yang sudah dimulai sejak masa kehamilan.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Developmental Science menemukan bahwa bayi baru lahir menunjukkan kegiatan otak yang berbeda ketika mendengar bunyi ibu. Area otak yang berangkaian dengan pemrosesan bunyi dan respons sosial terlihat lebih aktif.
Hal ini menjadi salah satu argumen kenapa banyak bayi lebih mudah merasa tenang ketika digendong alias diajak bicara oleh Bunda setelah lahir.
Otak bayi mulai membentuk dasar keahlian bahasa
Sebelum bayi bisa mengucapkan kata pertama, otaknya sudah mulai mempersiapkan keahlian bahasa.
Selama berada di kandungan, bayi terpapar bunyi manusia setiap hari. Paparan ini membantu otak membangun jaringan yang berangkaian dengan keahlian mendengar dan memahami bahasa.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa janin dapat mempelajari pola bunyi yang berulang, termasuk karakter bahasa yang sering didengarnya selama kehamilan.
Jadi, meskipun bayi belum memahami makna kata-kata Bunda, otaknya mulai mengenali pola komunikasi.
Komunikasi juga membantu ikatan emosional Bunda dan bayi
Mengajak bayi berbincang bukan hanya memberikan stimulasi untuk janin, tetapi juga membantu membangun ikatan emosional antara Bunda dan Si Kecil.
Saat Bunda berbincang dengan penuh kasih sayang, tubuh juga dapat mengalami perubahan positif, seperti meningkatnya hormon oksitosin yang berasosiasi dengan rasa nyaman dan ikatan.
Hubungan emosional yang terbentuk sejak kehamilan menjadi bagian krusial dalam perjalanan menjadi orang tua.
Bunda tidak perlu melakukan perihal unik alias memaksakan diri untuk memberikan stimulasi berlebihan. Hal-hal sederhana sudah cukup, seperti:
- Mengajak bayi berbincang saat beraktivitas
- Membacakan cerita
- Membaca doa
- Mengelus perut sembari berbincang lembut
- Yang paling krusial adalah suasana yang nyaman dan penuh kasih sayang.
- Manfaat membujuk bayi berkomunikasi sejak dalam kandungan
Komunikasi sederhana dengan bayi dapat membantu:
- Mendukung perkembangan sistem pendengaran
- Memperkuat hubungan saraf di otak
- Membantu bayi mengenali bunyi Bunda
- Menjadi dasar perkembangan bahasa
- Membangun kedekatan emosional sejak sebelum lahir
Suara Bunda adalah salah satu perihal pertama yang dikenali bayi ketika dia tetap berada di dalam rahim. Setiap kata lembut yang diberikan menjadi bagian mini dari perjalanan tumbuh kembangnya sejak awal kehidupan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·