Inspiring Dad: Cerita Ricardo Salampessy Mendampingi Reno Berkarir di Timnas U-20

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 511x dilihat
Inspiring Dad: Cerita Ricardo Salampessy Mendampingi Reno Berkarir di Timnas U-20

Bagikan Postingan

Ricardo Salampessy, legenda sepakbola dari Papua, Mengiringi cara anaknya berkarir di lapangan hijau. Dari bayi hingga bergabung di squad Timnas Junior.

Membesarkan anak lelaki agar tumbuh menjadi sosok yang handal tentu punya tantangannya sendiri. Terlebih jika sang anak memilih untuk berkarir di jalan yang sama dengan sang bapak di bumi olahraga ahli yang penuh dengan tekanan dan sorotan publik.

Inilah cerita inspiratif dari Ricardo Salampessy, legenda sepak bola Indonesia dari Persipura Jayapura, yang memulai karirnya tahun 2006 hingga pensiun di tahun 2023. Beliau sendiri pernah mengiringi kemenangan  tim Papua di PON 2004 dan mengantarkan Persipura sebagai juara Liga 1, tahun 2009, 2011, 2013. 

Ricardo Salampessy teguh mendampingi sang putra, Reno Salampessy, yang kini mulai menapaki jejaknya di lapangan hijau. Dari ikatan emosional yang terbangun di pinggir lapangan hingga metode beliau membimbing Reno menghadapi beban nama besar orang tua, berikut adalah anotasi hangat tentang peran seorang ayah, mentor, dan pelindung.

1. Suka sepakbola sedari kecil

Perjalanan Reno di bumi sepak bola sebenarnya tidak pernah direncanakan secara terpaksa. Semuanya mengalir begitu alami sejak ia dilahirkan ke dunia.

“Perjalanan Reno memang tidak jauh dari sepak bola. Dia lahir ketika aku sedang dalam masa persiapan pelatnas di Jakarta tahun 2007. Tepatnya, Reno lahir di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2007.

Kecintaannya pada sepak bola sudah kelihatan sejak kecil. Saat usianya baru 1 sampai 2 tahun, hampir semua mainannya adalah bola. Ketika diberikan mainan bentuk lain, dia kurang tertarik dan selalu memilih apa pun yang berhubungan dengan bola.

Pertama kali aku membawanya ke lapangan adalah saat Persipura sedang berlatih. Waktu itu usianya baru sekitar 2 tahun, dan dia kelihatan ceria sekali eksis di dalam lapangan. Mulai dari situ, aku melihat dia punya passion di sepak bola. Setelah itu, ke mana pun aku pergi berlatih berbareng Persipura, dia selalu mau ikut. Dari sinilah aku percaya bahwa dia memang memiliki passion dan keinginan yang kuat di sektor sepak bola.”

2. Membangun bonding Ayah dan Anak di pinggir lapangan

Bagi seorang atlet ahli dengan agenda laga tandang (away match) dan pemusatan latihan yang padat, waktu berbareng famili adalah hal yang sangat mahal. Di tengah kekurangan waktu tersebut, Ricardo dan sang istri memiliki pembagian peran yang saling melengkapi.

“Kalau untuk mengasuh secara langsung, jujur memang cukup sulit karena waktu aku lebih banyak di perjalanan—baik itu berbareng Tim Nasional maupun Persipura. Waktu aku berbareng Reno tidak terlalu banyak, sehingga di sini istri yang memungut peran besar tersebut.

Namun, ketika tim balik eksis di Jayapura, aku tentu mencoba menghabiskan waktu berbareng Reno. Saat latihan sehari-hari, aku selalu mengikutkan dia ke lapangan. Hal itu membikin hubungan aku dan Reno semakin erat. Apalagi ketika diajak ke lapangan, tanpa paksaan sama sekali, justru dia sendiri yang sangat mau ikut—baik itu saat latihan di lapangan maupun dalam aktivitas tim lainnya.

Hal tersebut menjadi momen kebersamaan aku berbareng Reno di masa pertumbuhannya, sehingga terbangun ikatan emosional yang sangat baik antara kami berdua. Walaupun di rumah jarang berjumpa karena padatnya aktivitas, hubungan kami sebagai bapak dan anak justru makin terjalin erat di lapangan.”

3. Menjadi Ayah sekaligus mentor: Menjawab Beban Nama Besar

Ketika Reno memutuskan untuk berjalan serius ke bumi sepak bola profesional, rasa bangga seorang bapak tentu membuncah. Namun di sisi lain, Ricardo tidak memungkiri adanya rasa cemas akan bayang-bayang nama besar yang mesti dipikul oleh sang anak.

“Ketika muncul keinginan dari dirinya untuk menjadi seorang pemain profesional, tentunya aku cukup senang. Saya mencoba menata jalannya dan membagikan pengalaman-pengalaman yang pernah aku lalui kepadanya.

Namun, tentunya ada rasa cemas juga. Ada beban tersendiri yang dia tanggung karena secara tidak langsung nama besar orang tua akan terseret ketika dia mengawali kariernya. Itu menjadi salah satu kecemasan saya: apakah dia bisa melewati hal tersebut? Sebab, tidak banyak anak dari mantan pesepak bola yang terlibat langsung di bumi sepak bola bisa melewati fase itu.

Sebagai orang tua sekaligus mentornya, aku selalu memberikan motivasi, wejangan, dan nasihat ketika dia mengalami situasi sulit yang sebenarnya pernah aku alami dulu. Saya memberikan pandangan tentang sepertiapa metode menghadapi masa-masa sulit tersebut.”

4. Membuktikan diri lewat kerja keras

Ujian terberat bagi anak seorang legenda sering kali datang dari perspektif pandang publik. Tudingan tentang “hak istimewa” maupun keberadaan anak di dalam tim karena aspek sang bapak adalah hal yang kerap tak terelakkan. Namun, Reno berhasil menjawab keraguan tersebut dengan pembuktian di lapangan.

“Puji Tuhan, dia bisa melewati fase pertama itu ketika terlibat langsung di sepak bola profesional. Sebagai orang tua, tentu aku merasa bangga melihat perkembangannya, meski di awal-awal rasa cemas itu cukup dominan karena adanya penilaian publik.

Apalagi mengingat posisi aku sebagai pelatih dan dia ada di dalam tim, banyak orang sempat berpikir keberadaannya di dalam tim adalah karena saya. Tapi puji Tuhan, dia bisa melewati masa-masa itu dengan sangat baik dan membuktikan bahwa kehadirannya di dalam tim memang murni karena kapasitas yang dia miliki.”

Dari kisah Ayah Ricardo Salampessy, kita belajar bahwa mendampingi harapan anak tidak mesti selalu dengan metode mendikte. Kadang, peran terbaik seorang bapak adalah dengan menjadi ruang yang terlindungi untuk anak mengeksplorasi minatnya, datang di setiap proses tumbuh kembangnya meskipun dalam kekurangan waktu, serta menjadi tempat bersandar saat sang anak mesti menghadapi kerasnya bumi luar.

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads