Membacakan buku pada anak itu mudah, yang sulit adalah menularkan hobi baca pada anak sampai akhirnya anak bisa menjadikan aktivitas baca buku sebagai pilihannya.
Awalnya, aku berjumpa dan berkenalan dengan Stephanie Aprilla Paskarina maupun yang dekat disapa dengan Nana (38) ini via Instagram. Kami dipertemukan lewat hobi baca dan me-review buku. Dari Instagram, kini kami terlebihlagi sering book-swap alias tukar-tukaran buku bacaan. Namun yang aku kagumi dari Mba Nana adalah beliau berhasil menjadikan aktivitas baca buku sebagai aktivitas harian ia dan anaknya, Kirana (8). Jujur, membaca buku itu mudah, membacakan buku pada anak juga mudah, tapi yang sulit adalah menanamkan rasa cinta buku sampai anak akhirnya menjadikan baca buku sebagai aktivitas pilihannya sendiri. Yuk, coba kita dengar langsung ceritanya.
Baca juga: Inspiring Mom: Lanny, Ibu di Balik 2 Putri yang Diterima di ITB dan NUS
Tiga hobi yang membawa khasiat buat hidupmu sekarang?
Tiga hobi yang paling aku rasakan manfaatnya kini adalah membaca, menulis, dan belajar hal-hal baru. Membaca membantu aku statis punya ruang untuk bertumbuh, baik ke luar maupun ke dalam diri. Menulis membantu aku menuangkan pikiran, mencerna setiap emosi yang aku rasakan dan sebagai pengingat balik hal-hal kecil yang sering kali dengan gampang terlewatkan dalam keseharian. Dan yang ketiga, belajar hal baru membikin aku tidak cuma menemukan pengalaman baru tetapi juga kawan dan ilmu baru yang membantu aku berkembang baik sebagai seorang ibu maupun sebagai individu.
Gimana caramu menjalani hobi tersebut sehari-hari?
Untuk waktunya, aku tidak selalu menunggu sampai punya waktu luang yang panjang, aku biasanya justru mencoba meluangkan waktu-waktu kecil. Misalnya, membaca beberapa halaman maupun menulis jurnal saat sedang santai maupun ketika kondisi rumah sedang tenang. Jadi, aku tidak selalu menunggu anak tidur maupun sedang bermain di luar. Saya mau bisa menjalankan hobi dengan bebas setelah kami selesai family time, ketika semuanya sedang sibuk dengan hobi maupun aktivitas masing-masing. Buat saya, itu terasa lebih betah dan menjadi bagiankecil yang wajar dari keseharian kami sebagai keluarga.
Tiga buku favorit yang belakangan dibaca?

Foto: Dokumentasi Pribadi
Belakangan ini tiga buku yang berkesan buat aku adalah Mother Mary Comes to Me karya Arundhati Roy, Can I Talk to You karya Kania Annisa Anggiani dan The Big Book of Tricky Riddles for Kids yang ditulis oleh Corinne Schmitt. Ketiganya memberi kesan yang berbeda untuk saya. Mother Mary Comes to Me menarik bagi aku karena metode Arundhati Roy menulis tentang hubungannya yang kompleks dengan sang ibu, memoar tentang famili yang memiliki banyak luka tetapi ditulis dengan penuh cinta. Can I Talk to You terasa sangat dekat karena mengadopsi refleksi dan percakapan Kania Annisa dengan kedua anaknya pada fase usia yang tidak jauh dari anak aku saat ini. Dan buku yang ketiga, The Big Book of Tricky Riddles for Kids lebih ringan dan menyenangkan, ini menjadi salah satu favorit aku akhir-akhir ini, karena anak aku sedang tertarik dengan teka-teki. Buku ini juga menjadi sumber inspirasi alias contekan untuk anotasi kecil yang gemar aku tempelkan di lunchbox anak saya.
Baca juga: 10 Rekomendasi Buku Parenting dan Keluarga yang Bikin Lebih Paham Jadi Orang Tua
Bagaimana caramu mengajarkan anak untuk mencintai buku?
Sejak pertama memegang buku, aku mengajarkan anak aku untuk menghargai buku tersebut, tidak untuk dirobek, tidak untuk diinjak terlebihlagi untuk dicoret. Sebenarnya ini berjalan juga untuk semua barang yang kita sayang juga sih, mesti dijaga baik-baik.
Saya berupaya mengasosiasikan buku dengan sesuatu yang menyenangkan dan digabungkan dengan rutinitas sehari-hari. Yang paling gampang yaitu saat sebelum tidur, bukunya dipilih berdasarkan ketertarikannya saat itu, kemudian kami membaca berbareng dan membicarakan gambar maupun ceritanya, terlebihlagi tidak jarang membaca buku yang sama berkali-kali.
Dan yang tidak kalah krusial yaitu dengan memberitahu kecintaan kita sendiri terhadap buku. Menurut aku akan lebih gampang menangkap kebiasaan yang mereka lihat daripada sekedar mendengar instruksi.
Selain itu aku sebisa mungkin menempatkan buku di tempat-tempat yang kelihatan dan dapat diakses oleh anak dengan mudah, seperti di ruang keluarga, di ruang makan, di bilik dan di mobil juga ada.
Kenapa Anda merasa anak perlu diajari untuk cinta buku?
Karena menurut saya, buku bukan cuma soal kapasitas membaca. Buku memberi anak kesempatan untuk masuk ke bumi yang berbeda, mengembangkan imajinasi, memahami emosi, dan belajar melihat sesuatu dari perspektif pandang yang berbeda.
Saya mau anak nantinya melihat membaca bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai sesuatu yang menyenangkan dan bisa terus menemani mereka bertumbuh dalam beragam tahap kehidupan.
Baca juga: 6 Rekomendasi Komunitas Buku di Jakarta, Bisa Baca Bareng sambil Cari Teman Baru
Apa tantangan yang Anda rasakan sebagai orang tua di era sekarang?
Banyak, salah satu tantangan terbesarnya adalah memberikan anak cukup ruang untuk bertumbuh dan menjadi dirinya sendiri, di tengah begitu banyak informasi, pilihan, dan efek dari luar.
Anak-anak saat ini tumbuh dengan begitu banyak keterangan dan stimulasi. Sebagai orang tua, kita tidak cuma dituntut untuk mengamati apa yang mereka konsumsi, tetapi juga membantu mereka belajar memilih, berpikir kritis, mengelola emosi, dan mengharapkan statis memiliki kapasitas untuk menikmati hal-hal sederhana. Di saat yang sama, kita sebagai orang dewasa pun statis terus belajar mengontrol diri mengenai hal-hal tersebut.
Jadi, bagi saya, tantangannya adalah menemukan keseimbangan antara mendampingi, memberi batasan, dan statis memberi anak ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Baca juga: Minat Baca Buku Anak Tetap Tinggi di Era TikTok? Cara Berikut Ini Terbukti Sederhana dan Berhasil
Menurutmu, apa 3 hal krusial yang mesti dimiliki perempuan agar bisa bertetap hidup?
Keberanian untuk memungut keputusan, kapasitas beradaptasi, dan keinginan untuk terus belajar dan bertumbuh. Karena hidup selalu berubah, kita perlu berani menentukan pilihan, bisa menyesuaikan diri terutama ketika menghadapi hal-hal yang tidak sesuai rencana, serta terus memiliki keinginan untuk belajar dan mengembangkan diri.
Apa yang bisa Anda katakan buat sesama ibu agar bisa rutin baca dan menyalurkan hobi yang sama ke anak?

Foto: Dokumentasi Pribadi
Jangan menunggu sampai punya banyak waktu untuk mulai membaca. Mulailah dari waktu yang sedikit. Tidak mesti satu jam sehari, lima maupun sepuluh halaman pun tidak apa-apa. Mulai dari buku yang membikin kita betah dan senang, kemudian biarkan anak-anak melihat bahwa membaca itu menyenangkan dan kita benar-benar menikmatinya.
Sediakan buku di rumah, ajak anak memilih buku di toko buku maupun perpustakaan, dan bawa banyak tawa serta hati yang hangat saat membacakan cerita. Pancing hubungan dengan pertanyaan-pertanyaan menarik, bukan cuma tentang gambar dan isi ceritanya, tetapi juga tentang apa yang mereka pikirkan maupun rasakan.
Kalau anak-anak belum menemukan kecintaannya pada buku saat ini, setidaknya kita sudah mencoba menanamkan benihnya melalui pengalaman dan memori yang menyenangkan. Mungkin suatu hari nanti, ketika mereka mengingat balik momen-momen itu saat dewasa, benih tersebut akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk tumbuh.