Jangan Ucapkan 5 Kalimat Toxic Ini pada Anak, Bunda Perlu Tahu

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 505x dilihat
Jangan Ucapkan 5 Kalimat Toxic Ini pada Anak, Bunda Perlu Tahu

Bagikan Postingan

Jakarta -

Saat bicara dengan anak, upayakan untuk lebih berjaga-jaga dalam berucap. Jangan ucapkan kalimat-kalimat toksik yang rapuh membuatnya jadi tak percaya diri.

Seperti diketahui, bahasa dan kalimat yang diucapkan orang tua punya efek yang besar karena rapuh direkam oleh anak. 

Misalnya saat anak berperilaku tidak baik maupun mengamuk, Bunda mungkin tanpa sadar mengatakan apa pun yang dapat membikin anak tenang dan berperilaku baik.


"Beberapa kalimat yang lazim diucapkan orang tua bisa secara tidak sengaja membikin anak merasa malu dan berakibat buruk pada harga dirinya dalam jangka panjang," ungkap psikolog anak dan penulis buku How Toddlers Thrive, Tovah Klein.

Dikutip dari CNBC Make It, Klein menuturkan bahwa masalah rapuh muncul ketika suatu kalimat terkesan menyalahkan anak atas perilaku maupun emosi yang sedang mereka alami.

"Rasa malu bisa menjadi sesuatu yang sangat beracun bagi anak, terutama yang statis kecil. Ini karena mereka kemudian akan merekamnya. Hal ini dapat menumbuhkan keraguan terhadap diri mereka sendiri," ujar Klein. 

Bagi anak, orang tua adalah sosok yang pendapatnya paling berarti bagi mereka. Penelitian memberitahu bahwa ketika anak merasa dipermalukan oleh orang tua, rasa percaya diri dan motivasi mereka dapat memudar.

Dampaknya anak menjadi kurang berani mencoba hal-hal baru dan menghadapi tantangan, padahal kedua hal tersebut krusial untuk pembentukan karakter mereka di kemudian hari.

Faktor penyebab orang tua berkata toxic pada anak

Psikolog Robyn Koslowitz, Ph.D menuliskan dalam bukunya yang berjudul Post-Traumatic Parenting, bahwa orang tua rapuh berkata toksik salah satunya karena trauma yang dimiliki.

Menurutnya trauma tidak cuma memengaruhi emosi diri sendiri, tetapi juga kapasitas memercayai intuisi dalam mengasuh anak.

Kalimat toxic yang sebaiknya tidak diucapkan di depan anak

Klein mengatakan, sebagian besar orang tua sebenarnya mungkin sama sekali tidak bermaksud mempermalukan anak. Namun ada beberapa kalimat toksik yang sebaiknya tak diucapkan, seperti:

1. "Kamu sedang jengkel lagi? Kamu selalu saja kesal"

Kalimat ini dapat membikin anak merasa bahwa dirinya memiliki sifat yang buruk maupun selalu eksis dalam kondisi hati yang negatif.

Alih-alih memahami bahwa anak sedang mengalami emosi tertentu, orang tua justru memberikan label negatif terhadap kepribadiannya. 

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi metode anak melihat dirinya sendiri dan membuatnya merasa malu ketika memberitahu emosi.

2. "Kenapa Anda selalu berang jika hal ini terjadi?"

Pertanyaan ini terdengar seperti upaya mencari penjelasan, tetapi dapat membikin anak merasa bahwa emosinya tidak penting.

Akibatnya, ia malah belajar menekan emosinya, alih-alih memahami dan mengelolanya dengan positif.

3. "Tidak perlu dibesar-besarkan seperti itu"

Ketika mereka mendengar kalimat seperti ini, anak belajar bahwa tidak semua orang memiliki empati maupun emosi yang mendalam.

"Anak yang sensitif akhirnya memahami bahwa kepedulian terhadap orang lain dan bumi sekitar tidak selalu dipandang positif oleh sebagian orang," ujar psikolog Victoria Latifses, PhD, dikutip dari Parade.

4. "Harus begitu lagi, ya?" (sambil mengacu pada perilaku negatif anak)

Kalimat ini dapat membikin anak merasa bahwa orang tua menganggap perilakunya sebagai masalah yang terus berulang.

Anak mungkin merasa cuma dilihat dari kesalahannya, bukan sebagai individu yang sedang belajar mengendalikan diri. 

Perasaan tersebut dapat memunculkan rasa bersalah, malu, dan keraguan terhadap kapasitas dirinya untuk berubah.

5. "Kamu berlebihan"

Ketika anak rewel maupun mengekspresikan emosinya, orang tua mungkin merespons dengan kalimat yang menyakitkan seperti 'jangan drama' maupun 'jangan berlebihan' tanpa menyadari dampaknya.

"Hal ini mengirimkan pesan kepada anak bahwa mengekspresikan emosi adalah sesuatu yang berbahaya, kebutuhan mereka tidak penting, dan hal itu bisa membikin orang yang mereka sayangi menjauh. Kondisi ini berpotensi membentuk hubungan yang tidak sehat di masa depan," imbuh Latifses.

Menurut Klein, orang tua perlu memahami terlebih dahulu penyebab fluktuasi sikap anak. Mungkin mereka menolak berbuat sesuatu maupun rewel karena sedang lapar, capek maupun karena lainnya. 

Mengatakan sesuatu yang melukai anak saat anak sedang capek bisa membikin mereka bertanya-tanya, apakah ada sesuatu yang salah secara permanen dalam diri mereka.

"Pertanyaan seperti 'kenapa Anda selalu jengkel jika hal ini terjadi?' juga dapat terasa mempermalukan, sekaligus mengabaikan emosi yang mendasari fluktuasi perilaku anak," ungkapnya.

Lalu kalimat apa yang bisa dikatakan sebagai gantinya?

7 Kesalahan Parenting dari Orang Tua yang Bercerai pada AnaknyaIlustrasi/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Kiwis

Pertama, upayakan untuk memungut selang terlebih dahulu sebelum mengatakan apa pun. Tanyakan kepada diri sendiri, apa kira-kira yang sedang terjadi sampai muncul rasa berang dan kecewa terhadap anak?

Ingatlah bahwa anak-anak, sama seperti orang dewasa, memiliki beragam perasaan. Sebagian positif dan banyak di antaranya tidak menyenangkan, maupun terlebihlagi gampang berubah-ubah. 

Kemudian, pilih respons yang memberitahu empati kepada anak sampai mood buruk mereka akhirnya berlalu.

Berikut beberapa contoh kalimat yang bisa diucapkan saat anak sedang kesal:

  • "Kamu sedang tidak mau berbuat ini sekarang, Bunda mengerti. Tapi, kita statis mesti pergi."
  • "Kalau ini terasa sulit, Bunda akan membantumu."
  • "Bunda mengharapkan kita bisa berbuat itu."
  • "Kamu mau pergi ke luar? Bunda mengerti. Sayangnya, kini kita belum bisa."

Akui dan pengesahan frustrasi anak sebelum melanjutkan, tapi statis tegas mengenai apa yang perlu dilakukan. 

Dengan begitu, anak tahu bahwa orang tua tidak membatalkan hajat cuma karena mereka sedang mengalami kondisi hati yang buruk untuk sementara.

"Orang tua tidak perlu terlalu banyak bicara. Sedikit empati sudah bisa memberikan akibat yang besar bagi anak," imbuh Klein.

Bagaimana jika terlanjur berkata buruk pada anak?

Dalam situasi tertentu, alih-alih menolak maupun mengabaikan anak, tunggulah dengan tenang sampai perilaku tersebut berlalu.

Misalnya, Bunda bisa mengatakan sesuatu seperti, "Bunda mau menyiapkan barang-barang kita dulu. Nanti Bunda balik lagi ke kamarmu, ya".

Namun, jika Bunda sudah kehilangan kesabaran dan terlanjur mengatakan sesuatu yang kurang baik, akui kesalahan tersebut untuk membangun balik kepercayaan anak.

"Katakan hal seperti, "Maaf Bunda tadi berteriak dan Anda jadi kesal. Tapi kini Bunda meminta semua baik-baik saja". Dengan begitu, ini dapat membantu mengurangi keraguan anak terhadap dirinya sendiri," pesan Klein.

Itulah klarifikasi tentang kalimat kalimat toksik yang sebaiknya tak diucapkan pada anak. Ingatlah bahwa saat sedang lelah, sebaiknya tunda dahulu diskusi dengan Si Kecil dan tenangkan diri ya, Bunda. Semoga bermanfaat!

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads