Kabar Baik, Penelitian Ungkap Menyusui Berpotensi Kurangi Risiko Gejala ADHD pada Anak

Jul 11, 2026 08:55 AM - 1 bulan yang lalu 21843

Menyusui tak hanya memberikan nutrisi terbaik pada bayi, tetapi juga kemungkinan berkedudukan dalam perkembangan otaknya.

Sebuah penelitian di Norwegia menemukan bahwa bayi yang mendapat ASI eksklusif hingga usia 6 bulan condong mempunyai akibat lebih rendah mengalami indikasi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada masa kanak-kanak.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tidak membuktikan ASI dapat mencegah ADHD secara langsung. Sebab, ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik dan lingkungan.


Mengapa menyusui dikaitkan dengan akibat indikasi ADHD yang lebih rendah?

ASI adalah sumber nutrisi utama pada bayi. ASI secara unik disesuaikan kebutuhan anak dan mengandung banyak komponen yang berfaedah untuk pertumbuhan dan perkembangan otak. Termasuk masam lemak rantai panjang, masam amino, antibodi, dan kuman baik.

Penelitian dari University of Bergen, Norwegia, menunjukkan adanya hubungan antara pemberian ASI eksklusif hingga usia enam bulan dengan akibat indikasi ADHD yang lebih rendah pada anak usia tiga hingga delapan tahun.

Penelitian ini melibatkan sekitar 37.600 family yang mengikuti Norwegian Mother, Father and Child Cohort Study (MoBa).

Dalam penelitian tersebut, para ibu mengisi kuesioner mengenai lama pemberian ASI eksklusif, ASI parsial, serta kapan bayi mulai menerima makanan alias minuman selain ASI. Selanjutnya, peneliti membandingkan informasi tersebut dengan indikasi ADHD yang muncul saat anak berumur tiga, lima, dan delapan tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama bayi mendapatkan ASI eksklusif, hingga usia enam bulan, semakin rendah pula tingkat indikasi ADHD yang dilaporkan pada masa kanak-kanak.

Para intelektual telah lama tertarik mempelajari gimana menyusui memengaruhi perkembangan otak dan sistem kekebalan tubuh bayi. Karena itu, Solberg dan tim meneliti apakah lamanya pemberian ASI juga berangkaian dengan munculnya indikasi ADHD pada anak.

"Kami menemukan bahwa semakin lama seorang anak disusui secara eksklusif hingga enam bulan, semakin rendah tingkat indikasi ADHD pada usia tiga, lima, dan delapan tahun," kata psikiater sekaligus peneliti Berit Skretting Solberg dari University of Bergen, dikutip dari EurekAlert.

Meski mekanismenya belum diketahui secara pasti, para peneliti menduga kandungan nutrisi dalam ASI, seperti masam lemak rantai panjang dan beragam komponen bioaktif lainnya, berkedudukan dalam mendukung perkembangan sistem saraf sehingga dapat memengaruhi kesehatan neuro perkembangan anak.

Peneliti sudah mempertimbangkan aspek genetik

Salah satu tantangan dalam penelitian ADHD adalah besarnya pengaruh aspek keturunan. Peneliti menjelaskan bahwa ibu yang mempunyai indikasi ADHD condong menyusui lebih singkat.

Di sisi lain, bayi yang kelak menunjukkan indikasi ADHD juga dapat mengalami kesulitan saat proses menyusui. "Ini mungkin sebagian menjelaskan hubungan antara pemberian ASI yang lebih rendah dan peningkatan indikasi ADHD pada anak-anak," kata Solberg.

Untuk mengurangi pengaruh aspek tersebut, peneliti melakukan penyesuaian terhadap akibat genetik ADHD, kondisi sosial ekonomi, hingga kajian pada kerabat kandung dalam family yang sama.

"Hasilnya tetap menunjukkan adanya pengaruh perlindungan yang jelas, meskipun berkarakter sedang, dari lamanya pemberian ASI eksklusif terhadap indikasi ADHD di kemudian hari," ujar Solberg.

Apakah ASI bisa cegah ADHD?

Hasil penelitian memang menunjukkan adanya hubungan antara lamanya pemberian ASI eksklusif dan indikasi ADHD yang lebih rendah. Namun, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum membuktikan hubungan karena akibat.

Solberg menjelaskan bahwa ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang dipengaruhi banyak faktor. Selain aspek genetik, kondisi lingkungan, pola asuh, hingga beragam aspek selama kehamilan dan masa awal kehidupan juga dapat berperan.

"Seperti studi observasional lainnya, susah untuk menarik konklusi yang pasti mengenai hubungan karena akibat," ujar Solberg.

Meski demikian, dia menilai hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek selain genetik kemungkinan juga berkontribusi terhadap akibat ADHD.

"Dalam masyarakat kita, aspek keturunan kemungkinan merupakan aspek akibat terkuat ADHD. Namun, studi kami menunjukkan bahwa lamanya menyusui juga dapat membantu melindungi terhadap perkembangan indikasi ADHD pada anak kecil," kata Solberg.

Karena itu, para peneliti menilai tetap diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan gimana ASI dapat memengaruhi perkembangan otak dan apakah hubungan tersebut betul-betul berkarakter kausal.

Tetap semangat, Bunda. Setiap tetes ASI adalah corak kasih sayang terbaik untuk Si Kecil.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya