Pernah merasa sudah minta maaf, tetapi orang di depan Anda malah semakin kesal? Bisa jadi, tanpa sadar Anda menggunakan kalimat terburuk untuk minta maaf yang terdengar seperti pembelaan.
Padahal, Anda mungkin betul-betul mau memperbaiki hubungan dan menyelesaikan masalah. Karena itu, yuk, cek beberapa kalimat berikut dari Bolde agar Anda tahu langkah meminta maaf yang terasa lebih tulus dan tidak menyudutkan orang lain.
“Aku minta maaf jika Anda merasa begitu”

Membuat Perasaan orang Lain Jadi Masalah/Foto: Magnific
Bayangkan seseorang sudah menunjukkan Anda bahwa ucapanmu menyakitkan. Lalu, alih-alih mengakui tindakan tersebut, Anda menjawab, “Aku minta maaf jika Anda merasa begitu.”
Masalahnya, Anda sebenarnya tidak meminta maaf atas tindakanmu. Fokusnya justru bergeser kepada emosi orang tersebut, seolah-olah reaksinya yang perlu dipertanyakan.
Coba ubah menjadi, “Aku minta maaf lantaran sudah mengatakan itu. Aku mengerti kenapa Anda terluka.” Dengan begitu, Anda mengakui tindakan sekaligus dampaknya.
“Aku minta maaf, tapi…”

Maaf dengan Alasan/Foto: Magnific
“Aku minta maaf, tapi Anda juga nggak mendengarkan aku.”
Nah, jika sudah begini, kata “maaf” tadi terasa seperti pembuka menuju pembelaan. Penjelasan setelah kata “tetapi” justru sering menjadi bagian yang paling terdengar.
Kalau memang mau menjelaskan situasinya, berikan permintaan maaf terlebih dulu tanpa embel-embel pembenaran. Setelah suasana lebih tenang, barulah Anda bisa membicarakan perspektif pandangmu.
“Aku kan nggak bermaksud begitu”

Tidak Mengakui Kesalahan/Foto: Magnific
Mungkin memang Anda tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Namun, ketika seseorang sudah terluka, menjelaskan niat jelek yang sebenarnya tidak ada bukanlah perihal utama.
Daripada berakhir di “aku nggak bermaksud begitu”, Anda bisa mengatakan, “Itu memang bukan niatku, tetapi saya sadar perkataanku tetap menyakitimu.”
Kamu tidak perlu menganggap dirimu sebagai orang jahat untuk mengakui kesalahan. Cukup tunjukkan bahwa Anda memahami akibat dari tindakanmu.
“Aku hanya jujur”

Menggunakan Kejujuran Sebagai Tameng/Foto: Magnific
Pernah mengatakan sesuatu yang terlalu tajam, lampau berlindung di kembali kalimat, “Aku hanya jujur”? Kalau iya, coba berakhir sejenak dan pikirkan langkah penyampaiannya.
Masalahnya mungkin bukan pada kejujurannya, melainkan gimana Anda menyampaikannya. Kamu tetap bisa jujur sekaligus mempertimbangkan emosi orang lain.
Coba katakan, “Aku semestinya menyampaikannya dengan lebih hati-hati. Maaf, ya.” Singkat, tetapi jauh lebih bertanggung jawab.
“Kamu terlalu berlebihan”

Tidak Menggunakan Kalimat yang Empatik/Foto: Magnific
Kalimat ini sering muncul spontan ketika pertengkaran mulai memanas. Sayangnya, menyebut seseorang berlebihan justru membikin mereka sibuk memihak perasaannya.
Akhirnya, pembicaraan bergeser dari masalah sebenarnya menjadi perdebatan tentang apakah reaksinya pantas. Padahal, Anda tidak kudu menentukan apakah perasaannya “terlalu besar” untuk bisa meminta maaf.
Coba tukar dengan, “Aku nggak menyadari jika tindakanku berakibat sebesar itu. Aku minta maaf.” Ini membikin percakapan terasa lebih terbuka dan manusiawi.
Jadi, jika selama ini langkah meminta maaf Anda tetap sering disertai “tapi”, pembelaan, alias menyalahkan reaksi orang lain, coba pertimbangan lagi. Kadang, kalimat terburuk untuk minta maaf justru muncul lantaran kita terlalu sibuk menjelaskan diri sendiri.
Permintaan maaf yang tulus tidak kudu panjang alias dramatis. Kamu hanya perlu berani mengakui kesalahan, memahami dampaknya, dan menunjukkan bahwa Anda betul-betul mau memperbaikinya.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)