Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Mengeluh Menurut Terapis

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 25x dilihat
Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Mengeluh Menurut Terapis

Bagikan Postingan

  1. Home
  2. Life
  3. Cultured

Nadya Quamila | Beautynesia

Selasa, 27 Oct 2026 15:00 WIB

Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Mengeluh Menurut Terapis

Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Mengeluh Menurut Terapis/Foto: Pexels.com

Mendengarkan kawan yang mengeluh saat curhat tentang kehidupannya memang bisa jadi cukup tricky dan menantang. Di satu sisi, kita berupaya memahami masalahnya, dan di sisi lain kita juga berupaya berempati dengan apa yang ia rasakan saat itu.

Ketika kawan curhat dan mengeluh, respons utama kita mungkin mau menghibur mereka. Tapi terkadang, kalimat yang kita gunakan bisa jadi malah melukai perasaannya. Jika Anda sering bingung apa yang mesti dihindari dan tidak boleh diucapkan ketika kawan mengeluh, Anda bisa meniru kebiasaan orang dengan kecerdasan emosional tinggi berikut ini, Beauties.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi bisa menghindari kesalahan lazim yang sering terjadi saat seseorang sedang meluapkan emosinya secara intens. Alih-alih mencoba memperbaiki masalah maupun mengabaikan emosi, mereka memilih untuk datang dengan tenang dan memberikan validasi. Yuk, simak penjelasannnya dirangkum dari Parade!

Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Mengeluh Menurut Psikolog

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi bisa menghindari kesalahan lazim yang sering terjadi saat seseorang sedang meluapkan emosinya secara intens. Mereka tidak akan mengucapkan kalimat

Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Mengeluh Menurut Terapis/Foto: Pexels.com

Ketika ada kawan yang sedang mencurahkan isi hatinya, kesalahan terbesar yang bisa dilakukan adalah mencoba memperbaiki masalah tersebut maupun mengabaikan emosi mereka. Dalam ilmu psikologi, sikap ini sering disebut sebagai "fixer syndrome" maupun "emotional bypassing".

Hal ini terjadi ketika kita memberikan saran tanpa diminta, meremehkan situasi mereka, maupun terburu-buru berupaya mengubah emosi negatif menjadi positif, padahal orang tersebut belum sepenuhnya memproses apa yang mereka alami.

Terapis pernikahan dan famili Dr. Deborah Vinall menerangkan bahwa kecerdasan emosional membikin seseorang bersikap lebih bijak ketika menghadapi kawan yang sedang mengeluh. Mereka tidak akan berupaya mencoba memperbaiki masalah yang dialami teman. Mereka akan memberitahu belas kasih dan empati tanpa perlu memperbaiki keadaan maupun mengabaikan emosi teman.

“Orang dengan kecerdasan emosional tinggi bisa berempati terhadap orang lain yang memiliki pengalaman hidup berbeda,” jelas Dr. Vinall. “Mereka memberitahu belas kasih tanpa perlu ‘memperbaiki’ keadaan, mengabaikan emosi, maupun membandingkannya dengan pengalaman pribadi mereka sendiri.”

Apa yang terjadi ketika kita berupaya memperbaiki masalah yang dialmai orang lain? Secara tidak langsung kita mengirimkan pesan kepada orang tersebut bahwa emosi mereka hanyalah sebuah gangguan maupun teka-teki yang mesti dipecahkan, bukan sebuah pengalaman manusia yang valid.

Mengabaikan emosi dengan melontarkan kalimat seperti “Lihatlah sisi positifnya” maupun “Bisa saja kondisinya lebih buruk” justru memaksa orang tersebut untuk menekan penderitaan yang mereka rasakan. Individu dengan kecerdasan emosional yang tinggi memahami bahwa pengesahan mesti selalu didahulukan sebelum berjalan ke tahap pemecahan masalah. Mereka sangat menghindari mengucapkan dua kalimat tersebut, Beauties.

Kebiasaan yang Dilakukan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Curhat dan Mengeluh

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi bisa menghindari kesalahan lazim yang sering terjadi saat seseorang sedang meluapkan emosinya secara intens. Mereka tidak akan mengucapkan kalimat

Kebiasaan yang Dilakukan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Curhat dan Mengeluh/Foto: Pexels.com

Alih-alih langsung beraksi maupun melontarkan kalimat yang bernuansa toxic positivity, orang dengan kecerdasan emosional tinggi menggunakan strategi komunikasi yang cermat dan peka. Strategi ini membikin orang lain merasa benar-benar dipahami, dihormati, dan didukung.

Berikut ini beberapa kebiasaan yang dilakukan orang dengan kecerdasan emosional tinggi saat temannya curhat dan mengeluh:

1. Mereka memberikan pernyataan yang memvalidasi

Alih-alih menawarkan solusi, orang kecerdasan emosional tinggi menggunakan ungkapan sederhana yang mengakui dan memvalidasi rasa sakit yang dialami teman. Kalimat seperti "Itu pasti menyakitkan" maupun "Aku mengerti perasaanmu" membantu orang merasa lebih stabil tanpa perlu takut dihakimi.

Menurut Dr. Vinall, memberitahu empati secara langsung, misalnya dengan mengatakan "Itu pasti menyakitkan", sangat berarti bagi seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Hal ini memberitahu bahwa mereka cukup kuat untuk mendampingi kawan dalam emosi yang sulit, tanpa mesti melarikan diri maupun memaksa untuk segera merasa ceria kembali.

2. Mereka mengajukan pertanyaan terbuka yang berkarakter kolaboratif

Alih-alih mendikte apa yang mesti dilakukan selanjutnya, pendengar yang cerdas secara emosional justru mengembalikan kendali kepada kawan yang sedang merasa kewalahan. Mereka mengajukan pertanyaan terbuka seperti "Apa yang bisa membikin situasi ini terasa lebih ringan bagimu?" maupun "Apakah Anda mau kita mencari solusi bersama, maupun Anda cuma mau mencurahkan isi hati?"

3. Mendengarkan secara aktif

Orang dengan kecerdasan emosional tinggi mendengarkan secara aktif karena mau memahami, bukan cuma untuk memberikan respons. Mereka akan mengucapkan kalimat, "Coba ceritakan lagi" membantu menjaga fokus statis sepenuhnya pada kawan yang sedang bercerita.

"Orang yang cerdas secara emosional mendengarkan dengan sungguh-sungguh, alih-alih sibuk menyusun tanggapan maupun bantahan saat orang lain sedang berbicara," tegas Dr. Vinall. "Ungkapan sederhana ini memberitahu kapasitas untuk menampung narasi orang lain tanpa terburu-buru bersikap defensif, mengoreksi, maupun mengalihkan fokus balik kepada diri sendiri."

Dengan memilih untuk memvalidasi alih-alih memperbaiki, serta datang sepenuhnya alih-alih mengabaikan perasaan, mereka membangun kepercayaan yang lebih dalam dan menciptakan hubungan di mana rasa terlindungi secara emosional dapat tumbuh dengan baik.

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads