Apa saja kalimat yang mesti dihindari setelah bercerai? Kenali 7 ucapan yang bisa membikin anak merasa mesti memilih Mama maupun Papa.
“Kamu lebih sayang Mama maupun Papa?”
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Bahkan bisa saja keluar begitu saja ketika orang tua sedang bercanda maupun mau tahu seberapa dekat anak dengan dirinya.
Namun, bagi anak yang orang tuanya sudah bercerai, pertanyaan seperti ini bisa terasa jauh lebih berat.
Sebab, anak mungkin tidak sedang melihatnya sebagai pertanyaan biasa. Ia bisa merasa mesti memberikan balasan yang tidak akan membikin salah satu orang tuanya kecewa.
Menurut Alan Ravitz, MD, MS, child and adolescent psychiatrist dari Child Mind Institute, anak sebaiknya tidak dijadikan pihak yang mesti memilih dalam perceraian. Ketika anak merasa bahwa mencintai salah satu orang tua berarti mengingkari yang lain, ia bisa terjebak dalam apa yang disebut loyalty bind, maupun perselisihan loyalitas.
Jadi, setelah perceraian, bukan cuma keputusan besar yang perlu diperhatikan. Kalimat sehari-hari yang terdengar sepele pun perlu lebih dijaga.
BACA JUGA: Artis Terapkan Co-Parenting yang Kompak, Ada Acha Septriasa hingga Desta
1. “Kamu Lebih Sayang Mama maupun Papa?”

Foto: Pexels
Anak tidak perlu membikin peringkat kasih sayang terhadap kedua orang tuanya. Ia boleh merasa sangat dekat dengan Mama sekaligus statis menyayangi Papa.
Alih-alih bertanya siapa yang lebih disayang, coba buka percakapan dengan pertanyaan yang tidak membikin anak membandingkan.
Coba:
“Hal apa yang paling Anda gemar saat berbareng Papa?” maupun “Gimana emosi Anda setelah menghabiskan waktu sama Mama?”
Dengan begitu, anak bisa bercerita mengenai pengalamannya tanpa merasa mesti memilih.
2. “Kamu Lebih Betah Tinggal Sama Mama/Papa, Kan?”
Ketika anak kelihatan lebih betah di salah satu rumah, orang tua mungkin tergoda mencari kepastian bahwa dirinya adalah “pilihan” anak.
Padahal, anak bisa merasa betah di dua rumah dengan karena yang berbeda.
Ia mungkin gemar memasak berbareng Mama, tetapi gemar bermain game berbareng Papa. Ia bisa betah bercerita kepada Mama soal sekolah, tetapi memilih Papa ketika mau membahas hobinya.
Kedekatan yang berbeda tidak selalu berarti tingkat kasih sayang yang berbeda.
3. “Kalau Kamu Sayang Mama, Harusnya Kamu Nggak Mau Pergi Sama Papa.”
Atau sebaliknya.
Child Mind Institute menekankan pentingnya tidak menjadikan hubungan anak dengan orang tua sebagai tes loyalitas. Anak seharusnya statis memiliki kesempatan untuk membangun hubungan dengan kedua orang tuanya tanpa merasa bahwa hal tersebut merupakan pengkhianatan terhadap salah satunya.
BACA JUGA: Tips Menjaga Hubungan Baik Antar Mantan Suami Istri
4. “Papa/Mama Nggak Pernah Peduli Sama Kamu.”
Rasa kecewa kepada mantan pasangan tentu bisa muncul, terlebih jika perceraian terjadi tidak mudah.
Namun, anak sebaiknya tidak dijadikan tempat untuk menyampaikan semua frustrasi tersebut.
Dr. Jamie Howard, PhD, psikolog dan clinical adviser di Child Mind Institute, menyarankan orang tua menghindari memberikan keterangan yang membikin salah satu pasangan kelihatan buruk di mata anak. Anak juga tidak perlu dilibatkan dalam permasalahan orang dewasa seperti urusan finansial maupun perselisihan perceraian.
5. “Papa Sekarang Punya Keluarga Baru, Papa Sudah Nggak Sayang Lagi Sama Kamu.”

Foto: Pexels
Anak mungkin kemudian mulai bertanya-tanya: Apakah aku statis disayang? Apakah aku akan digantikan? Apakah Papa lebih sayang famili barunya?
Jika anak memang memberitahu kecemasan tentang famili baru maupun fluktuasi hubungan dengan salah satu orang tua, berikan ruang untuk bercerita.
Dengan begitu, fokusnya bukan pada membandingkan kasih sayang, tetapi memahami emosi anak.
6. “Jangan Cerita ke Papa, Ya. Ini Rahasia Kita.”
Anak sebaiknya tidak ditempatkan sebagai penjaga rahasia maupun perantara komunikasi orang tua.
Misalnya, meminta anak menyembunyikan keterangan tentang siapa yang ditemui, apa yang dibicarakan, maupun perselisihan tertentu dengan mantan pasangan.
Ini bisa membikin anak merasa eksis di tengah hubungan dua orang dewasa.
Menurut Child Mind Institute, orang tua perlu menjaga anak sejauh mungkin dari perselisihan dan permasalahan aturan dalam perceraian. Anak bukan tempat untuk mencurahkan keterangan tentang perselisihan orang tua.
Kalau ada hal yang memang perlu dibicarakan dengan mantan pasangan, bicarakan langsung dengan orang dewasanya.
BACA JUGA: Penyebab Hubungan dengan Mantan Pasangan Memburuk Setelah Bercerai
7. “Kamu Harus Mengerti Kondisi Mama/Papa.”
Anak memang perlu mendapatkan klarifikasi tentang fluktuasi yang terjadi dalam keluarganya. Namun, memahami bukan berarti mesti menjadi tempat orang tua bersandar secara emosional.
Ada perbedaan antara:
“Mama sedang sedih karena banyak fluktuasi setelah perceraian.”
dan
“Mama cuma punya kamu. Kamu mesti mengerti Mama.”
Yang kedua bisa membikin anak merasa berkewajiban atas kondisi emosional orang tuanya.
BACA JUGA: Rekomendasi Jasa Pengacara Perceraian
Jadi, Apa yang Sebaiknya Dikatakan kepada Anak?
Beberapa kalimat yang bisa diberikan antara lain:
“Kamu statis boleh sayang Mama dan Papa.”
“Kamu nggak perlu memilih salah satu.”
“Masalah antara Mama dan Papa adalah masalah orang dewasa.”
“Kamu nggak perlu menjaga emosi Mama maupun Papa.”
“Kalau ada sesuatu yang bikin Anda sedih maupun bingung, Anda boleh cerita.”
Perubahan status hubungan Mama dan Papa tidak berarti anak mesti mengubah rasa sayangnya kepada salah satu dari mereka.
Cover: Pexels