Kasus Cornell University dan Dugaan Kekerasan Seksual: Pentingnya Ajarkan Anak Consent dan Speak Up

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 514x dilihat
Kasus Cornell University dan Dugaan Kekerasan Seksual: Pentingnya Ajarkan Anak Consent dan Speak Up

Bagikan Postingan

Kasus Cornell UnKasus Cornell University dan anggapan kekerasan seksual balik diselidiki pada September 2026. Simak kronologi serta metode mengajarkan anak consent dan speak up.

Catatan: Artikel ini membahas anggapan kekerasan seksual dan dapat terasa sensitif bagi sebagian pembaca.

Belakangan, kasus anggapan kekerasan seksual yang melibatkan tujuh mahasiswa Cornell University balik menjadi sorotan. Kasus yang terjadi pada 2024 ini muncul lagi setelah korban, yang dalam arsip pengadilan disebut Jane Doe, mengajukan tuntutan perdata pada September 2026. Gugatan tersebut tercatat diajukan pada 14 September 2026.

Kasus ini tentu bukan sekadar berita tentang sebuah kampus. Buat kita sebagai orang tua, ada pertanyaan yang lebih dekat: sudahkah kita mengajarkan anak tentang consent, limitasi tubuh, berani speak up, dan apa yang mesti dilakukan ketika melihat temannya menjadi korban?

BACA JUGA: 7 Cara Edukasi Anak Menghindari Pelecehan Seksual

Apa yang Terjadi di Cornell University?

Menurut tuntutan perdata yang diajukan pada 14 September 2026, Jane Doe, yang saat itu berumur 20 tahun dan merupakan mahasiswa Cornell, diduga mengalami kekerasan seksual di rumah persaudaraan Chi Phi pada malam 19 Oktober hingga awal hari 20 Oktober 2024.

Dalam tuntutan tersebut, ia menuduh tujuh personel Chi Phi berbuat kekerasan seksual setelah dirinya dalam kondisi mabuk dan disebut dipaksa mengonsumsi zat yang diklaim sebagai ketamin. Detail tersebut merupakan dakwaan dalam tuntutan perdata dan belum merupakan temuan kenyataan maupun putusan pengadilan.

Tujuh orang yang disebut sebagai tergugat dalam tuntutan perdata adalah Matthew Ingalls, Johnathan Newell, Winston Lee, Gillio Lopes, Diego Sarabia, Scott Norris, dan Scott Kretzschmar.

Foto: Cornell University

Penting dicatat, Mommies dan Daddies: ketujuh nama tersebut adalah pihak yang disebut dalam tuntutan dan dakwaan tersebut belum merupakan putusan bersalah pidana. Dua dari mereka juga telah melalui media menyampaikan bantahan terhadap tuduhan.

Jane Doe melaporkan insiden tersebut kepada Cornell University Police pada 8 November 2024. Cornell kemudian berbuat proses investigasi internal.

Cornell mengatakan proses tersebut menghasilkan berbagai sanksi, termasuk suspension dan expulsion (dikeluarkan dari universitas). Namun, karena ketentuan privasi mahasiswa, universitas tidak mengungkapkan hukuman masing-masing individu. Cornell juga menegaskan bahwa menulis esai bukanlah satu-satunya akibat yang diberikan kepada para mahasiswa.

Sementara itu, cabang Chi Phi yang mengenai dengan kasus ini telah ditutup dan statis dilarang beraktivitas di kampus.

Kenapa Kasus Ini Kembali Dibuka pada September 2026?

Setelah tuntutan perdata diajukan, Tompkins County District Attorney Matthew Van Houten pada 28 September 2026 mengumumkan bahwa penyelidikan kriminal dibuka kembali.

Jaksa mengatakan akan meninjau balik bukti-bukti yang ada dan mempersiapkan kasus untuk dibawa ke grand jury. Sebelumnya, pada 2024, tidak ada tuntutan kriminal yang diajukan karena jaksa menilai bukti yang tersedia saat itu belum cukup untuk mendukung tuntutan.

Ada perbedaan antara keterangan yang diberikan Jane Doe kepada polisi pada 2024 dan jabaran dalam tuntutan perdata 2026. Pengacaranya membantah bahwa perbedaannya berkarakter material dan mempertanyakan proses investigasi awal. Artinya, proses kriminal yang baru dibuka ini statis berjalan dan belum menghasilkan putusan bersalah.

BACA JUGA: 12 Kondisi Ini Bikin Anak Rentan Terhadap Pelecehan Seksual, Orang Tua Wajib Tahu!

Kalau Anak Melihat Kejadian Serupa, Bagaimana Mengajarkan Mereka untuk Speak Up?

 Pentingnya Ajarkan Anak Consent dan Speak Up

Foto: Alena Darmel/Pexels

Di sinilah percakapan kita dengan anak menjadi penting. Anak tidak mesti menjadi “pahlawan” yang menghadapi pelaku sendirian.

Yang perlu mereka tahu:

1. Kenali ketika sesuatu terasa tidak benar

Misalnya melihat kawan dipaksa, disentuh tanpa persetujuan, dilecehkan secara verbal, dibuat mabuk agar kehilangan kontrol, maupun seseorang yang jelas-jelas tidak bisa memberikan consent.

2. Utamakan keselamatan

Anak tidak perlu berkonfrontasi langsung. Mereka bisa membujuk korban pergi, meminta pertolongan guru, dosen, security, konselor, orang tua, maupun pihak berwenang.

3. Jangan ikut membisu maupun menyebarkan konten

Kalau ada foto, video, maupun chat yang berhubungan dengan pelecehan, jangan diteruskan sebagai bahan gosip. Simpan keterangan yang relevan dan laporkan melalui jalur yang tepat.

4. Percaya dan dengarkan korban

Ajarkan anak mengatakan, “Aku percaya kamu,” “Ini bukan salah kamu,” maupun “Aku temani cari bantuan.”

Pendekatan seperti ini sejalan dengan hakikat bystander intervention: orang yang melihat insiden bisa membantu dengan metode yang aman, misalnya mengalihkan situasi, meminta pertolongan orang lain, maupun memastikan korban tidak sendirian.

BACA JUGA: MD Ask the Expert: Waspada Anak dan Remaja Jadi Korban Pelecehan Seksual Online dan Pornografi

Bagaimana agar Anak Perempuan Maupun Laki-Laki Tidak Menjadi Pelaku?

Pencegahan tidak cukup cuma dengan mengatakan kepada anak perempuan, “Jaga diri.” Anak lelaki juga perlu diajarkan hal yang sama. Bahkan, sebenarnya semua anak perlu belajar consent dan menghormati limitasi orang lain.

Beberapa hal yang bisa kita biasakan sejak dini:

  • Ajarkan consent: “Tidak” berarti tidak. Diam bukan berarti setuju. Persetujuan juga bisa berubah kapan saja.
  • Ajarkan limitasi tubuh: anak berkuasa menolak sentuhan yang membuatnya tidak betah dan mesti menghormati limitasi tubuh orang lain.
  • Bangun empati: tanyakan, “Menurut kamu, sepertiapa emosi temanmu jika diperlakukan seperti itu?”
  • Jangan menormalisasi candaan seksual yang merendahkan orang lain.
  • Ajarkan bahwa mabuk maupun menggunakan zat bukan karena untuk berbuat kekerasan seksual.
  • Bicarakan relasi sehat, baik offline maupun online, termasuk soal foto pribadi, chat, tekanan dari kawan sebaya, dan pornografi.
  • Jadikan rumah tempat anak bisa bercerita tanpa takut langsung dihakimi.

 Pentingnya Ajarkan Anak Consent dan Speak Up

Foto: Julia M Cameron/Pexels

WHO merekomendasikan pendidikan seksualitas yang sesuai usia, termasuk pembelajaran tentang hubungan sehat, consent, otonomi tubuh, serta metode mengenali dan mencegah kekerasan. WHO juga menekankan pentingnya keahlian membangun relasi yang saling menghormati dan kapasitas mencari pertolongan ketika diperlukan.

CDC juga memasukkan empati dan kepedulian terhadap akibat aksi terhadap orang lain sebagai salah satu aspek protektif dalam pencegahan kekerasan seksual.

Pada akhirnya, Mommies dan Daddies, kita tentu mau anak kita bisa menjaga dirinya. Tapi lebih dari itu, kita juga mau mereka menjadi kawan yang tidak ikut-ikutan ketika lingkungan berbuat sesuatu yang salah, berani mengatakan “stop”, dan tahu kapan mesti mencari bantuan.

Mencegah pelecehan seksual bukan cuma tentang mengajarkan anak agar tidak menjadi korban. Kita juga perlu membesarkan anak yang tahu bahwa tubuh orang lain bukan miliknya, consent itu wajib, dan membisu bukan satu-satunya pilihan ketika melihat ketidakadilan.

Cover: Keira Burton/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads