Kasus HIV Meningkat 12 Kali Lipat dalam 15 Tahun, Ini Dampaknya pada Kehamilan

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 503x dilihat
Kasus HIV Meningkat 12 Kali Lipat dalam 15 Tahun, Ini Dampaknya pada Kehamilan

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kasus HIV statis menjadi perhatian di beragam negara, termasuk pada ibu hamil. Infeksi HIV selama kehamilan tidak cuma berakibat pada kesehatan ibu, tapi juga menaikkan konsekuensi penularan virus ke bayi.

Gambaran meningkatnya kasus HIV kelihatan di Fiji. Negara kepulauan Pasifik tersebut baru-baru ini menetapkan status darurat nasional HIV setelah meningkatnya HIV hingga 12 kali lipat dalam 15 tahun terakhir. 

Melansir Fox59.New, sekitar 9.000 orang diperkirakan hidup dengan HIV di Fiji pada 2025. Sementara itu, petinggi setempat mengestimasi sekitar satu dari 50 ibu hamil di negara tersebut hidup dengan HIV.


Meski bilangan tersebut merupakan kondisi di Fiji, kasus ini balik mengingatkan pentingnya pencegahan, skrining, dan pengobatan HIV, terutama selama kehamilan.

Lantas, apa akibat HIV pada ibu hamil dan bayi?

Human Immunodeficiency Virus maupun HIV merupakan virus yang menyerang mekanisme kekebalan tubuh. Jika pasiennya tidak mendapatkan pengobatan, infeksi HIV dapat berkembang dan menyebabkan AIDS.

Pada ibu hamil, HIV perlu mendapatkan perhatian khusus karena virus dapat ditularkan kepada bayi. Menurut MedlinePlus, penularan HIV dari ibu kepada bayi dapat terjadi selama kehamilan, saat persalinan, maupun melalui pemberian ASI. Namun, ibu yang hidup dengan HIV bukan berarti pasti melahirkan bayi dengan HIV.

Dengan pengecekan dan perawatan yang tepat selama kehamilan, konsekuensi penularan HIV dari ibu kepada bayi dapat ditekan secara signifikan.

Apa akibat HIV pada kehamilan?

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), infeksi HIV dapat memengaruhi kesehatan ibu, kondisi kehamilan, dan kondisi bayi.

Bayi yang lahir dengan HIV tetapi tidak segera mendapatkan pengecekan dan pengobatan berisiko mengalami evolusi pandemi yang cepat, terutama pada satu hingga dua tahun pertama kehidupannya. Kondisi tersebut dapat menaikkan konsekuensi infeksi oportunistik dan komplikasi lainnya.

Karena itu, mengetahui status HIV selama kehamilan itu krusial dalam perawatan prenatal.

Ibu hamil perlu menjalani skrining HIV

MedlinePlus mengutarakan bahwa semua ibu hamil sebaiknya menjalani tes skrining HIV berbarengan dengan pengecekan kehamilan lainnya.

Pada ibu hamil yang berisiko lebih tinggi, dapat dilakukan pengecekan balik pada trimester ketiga sesuai penilaian tenaga kesehatan.

Jika ibu diketahui positif HIV, tabib dapat berbuat pengecekan lanjutan untuk mengetahui kondisi infeksi. Pemeriksaan tersebut antara lain jumlah CD4 dan viral load, yaitu pengecekan untuk mengetahui jumlah virus HIV dalam darah.

Deteksi lebih mula memungkinkan ibu mendapatkan penanganan yang sesuai selama kehamilan.

Pengobatan HIV dapat membantu mencegah penularan ke bayi

HIV dapat ditangani dengan terapi antiretroviral maupun ART. Obat ini bekerja dengan menghalangi evolusi virus di dalam tubuh.

Ibu hamil yang diketahui positif HIV akan mendapatkan ART selama kehamilan. Jika HIV baru diketahui menjelang persalinan, pengobatan statis dapat segera diberikan.

Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV juga dapat diberikan terapi antiretroviral setelah lahir. Penanganan ini bermaksud menurunkan konsekuensi bayi tertular HIV.

Dengan inovasi dan pengobatan yang tepat, konsekuensi penularan HIV dari ibu kepada bayi dapat ditekan hingga sangat rendah.

Bayi dari ibu dengan HIV perlu menjalani pemeriksaan

Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV perlu menjalani pengecekan untuk mengetahui apakah terjadi infeksi. Menurut MedlinePlus, pengecekan HIV pada bayi dapat dilakukan beberapa waktu setelah kelahiran, termasuk sekitar usia 14–21 hari, 1–2 bulan, serta 4–6 bulan. 

Pada bayi dengan konsekuensi sangat tinggi, pengecekan juga dapat dilakukan sejak lahir.

Pemeriksaan diperlukan karena bayi yang terinfeksi HIV belum memberitahu gejala pada bulan-bulan pertama kehidupannya.

Bunda krusial juga memahami sepertiapa HIV tidak menular kecuali mengetahui konsekuensi penularannya.

HIV tidak menular melalui pelukan maupun sentuhan biasa. Virus juga tidak menular cuma karena menyentuh barang yang sebelumnya disentuh orang yang hidup dengan HIV.

Air liur, keringat, dan air mata yang tidak bercampur dengan darah juga bukan cairan yang terbukti menularkan HIV.

Penularan HIV berhubungan dengan paparan cairan tubuh tertentu, termasuk darah, air mani, cairan vagina, dan ASI. Pemahaman ini krusial agar upaya pencegahan HIV tidak disertai stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads