Kemarau Diprediksi Panjang, Kapan Dianjurkan Melaksanakan Sholat Istisqa?  

Jul 21, 2026 09:58 PM - 1 hari yang lalu 1480

Kincai Media ,JAKARTA -- Musim tandus yang diprediksi berjalan lebih panjang pada tahun ini mulai memicu kekeringan di beragam daerah. Sejumlah daerah di Pulau Jawa telah mengalami krisis air bersih, sementara pemerintah daerah berbareng BPBD terus menyalurkan support air kepada masyarakat terdampak. 

BMKG juga memperingatkan bahwa pengaruh El Nino berpotensi membuat musim tandus 2026 lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Curah hujan diperkirakan berada di bawah rata-rata di banyak daerah Indonesia sehingga akibat kekeringan dan kebakaran rimba meningkat hingga akhir tahun, apalagi sebagian dampaknya dapat bersambung ke awal 2027.

Dalam kondisi seperti ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak angan dan ikhtiar, salah satunya dengan melaksanakan shalat istisqa, ialah sholat sunnah untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.

Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, KH. Arwani Faishol menjelaskan, sholat istisqa dianjurkan ketika suatu daerah mengalami kekeringan berkepanjangan, sumber-sumber air mengering, tanaman rusak, alias masyarakat mulai mengalami kesulitan memperoleh air.

Pelaksanaan sholat ini tidak kudu menunggu musibah semakin parah, tetapi dianjurkan ketika kebutuhan bakal turunnya hujan sudah dirasakan masyarakat. 

"Sholat Istisqa tidak semata-mata persoalan kebutuhan air untuk kebutuhan manusia. Tapi istisqa' juga berfaedah untuk menolak mafsadah akibat tidak adanya hujan. Dengan tidak adanya hujan, kondisi tanah tentu bakal beda kan," ujar Kiai Arwani saat berbincang dengan Kincai Media di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).

Al-istisqa' adalah meminta curahan air penghidupan (thalab al-saqaya). Para ustadz fikih mendefinisikan sholat Istisqa sebagai sholat Sunnah muakkadah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan.

"Dengan turunnya hujan ada air kebutuhan manusia. Tapi bisa juga dengan turunnya hujan ini bisa menghindari tersebarnya penyakit akibat panas. Jadi saya memandang sholat istisqa tetap urgen," ucap Kiai Arwani. 

Dasar pensyariatan sholat istisqa berasal dari sunnah Nabi Muhammad SAW. Sholat istisqa dilaksanakan dua rakaat di tanah lapang, tanpa azan maupun iqamah. Setelah shalat, pemimpin menyampaikan khutbah yang berisi rayuan untuk bertakwa, memperbanyak istighfar, dan memohon hujan. Di akhir khutbah, pemimpin dan jamaah memperbanyak angan dengan penuh kerendahan hati.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan, Rasulullah SAW apalagi mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi saat bermohon serta membalikkan posisi selendangnya sebagai simbol angan berubahnya keadaan dari kekeringan menjadi turunnya rahmat Allah berupa hujan.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra disebutkan:

خرج النبي صلى الله عليه وسلم يوماً يستسقي فصلى بنا ركعتين بلا أذان ولا إقامة ثم خطبنا ودعا الله عز وجل وحول وجهه نحو القبلة رافعاً يديه ثم قلب ردائه فجعل الأيمن الأيسر والأيسر الأيمن

Artinya: "Nabi Muhammad SAW keluar rumah pada suatu hari untuk memohon diturunkan hujan, lampau beliau sholat dua rakaat berbareng kita tanpa azdan dan iqamat, kemudian beliau berdiri untuk khutbah dan memanjatkan angan kepada Allah SWT dan seketika itu beliau mengalihkan wajahnya (dari semula menghadap ke arah hadirin) menghadap ke kiblat serta mengangkat kedua tangannya, serta membalikkan selendang sorbannya, dari pundak kanan ke pundak kiri, begitupun ujung sorbannya." (HR Imam Ahmad).

Sebelum melaksanakan sholat istisqa, para ustadz menganjurkan masyarakat memperbanyak istighfar, bertaubat dari dosa, mengembalikan kewenangan orang lain jika ada yang terzalimi, memperbanyak sedekah, serta berpuasa jika memungkinkan. Tujuannya agar angan yang dipanjatkan semakin diijabah oleh Allah SWT.

Para ustadz mengingatkan bahwa sholat istisqa bukan sekadar ritual meminta hujan. Ibadah ini merupakan momentum muhasabah agar manusia menyadari keterbatasannya di hadapan Allah SWT sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama dan menjaga kelestarian lingkungan.

Di tengah ancaman tandus panjang, ikhtiar spiritual melalui sholat istisqa juga perlu dibarengi dengan langkah nyata seperti menghemat penggunaan air, menjaga sumber mata air, serta mendukung upaya mitigasi kekeringan yang dilakukan pemerintah dan masyarakat.

Selengkapnya