Kebiasaan pilih-pilih makanan alias ketika anak menjadi picky eater adalah perihal yang umum terjadi pada masa kanak-kanak. Hampir semua anak mengalami fase menolak makanan baru, apalagi makanan yang sebelumnya mereka sukai. Perilaku ini sering muncul antara usia 1,5 dan dua tahun.
Menurut UNICEF, sebuah studi terhadap lebih dari 4.000 anak menemukan bahwa lebih dari satu dari empat anak berumur 1,5 tahun dan tiga tahun adalah anak yang picky eater.
Namun pada usia enam tahun, hanya sekitar satu dari sepuluh anak yang pilih-pilih makanan. Sebagian besar anak yang ibunya mengatakan mereka pilih-pilih makanan pada usia 1,5 alias tiga tahun, tidak lagi pilih-pilih makanan pada usia enam tahun.
Kebiasaan pilih-pilih makanan dianggap sebagai tahap perkembangan alami yang bakal berlalu dengan sendirinya. Dengan catatan, selama orang tua berhati-hati dalam menanganinya dengan langkah yang suportif untuk mendorong anak menyukai beragam jenis jenis makanan.
Berikut langkah mengenali beragam kemungkinan penyebab anak menjadi picky eater, gimana langkah mengatasinya, dan kapan tanda perlu ke dokter. Simak selengkapnya berikut ini!
Penyebab anak picky eater
Peneliti obesitas dan penulis kitab Healthy Parents, Healthy Kids, Dr. Nick Fuller, mengatakan bahwa ada sains di kembali kenapa anak-anak menjadi picky eater. Balita umumnya mengalami periode pilih-pilih makanan adalah biologi dasar, Bunda.
"Akar perilaku ini dapat ditelusuri kembali ke nenek moyang kita yang berburu dan mengumpulkan makanan, serta perkembangan beragam respons fisiologis untuk memperkuat hidup," ungkapnya, dikutip dari laman resmi The University of Sydney.
Ini termasuk mengembangkan kecenderungan pilih-pilih makanan alias picky eating, untuk menghindari menelan racun potensial.
Selain itu, menurut Fuller, lantaran nenek moyang kita yang berburu dan mengumpulkan makanan sering mengalami periode panjang kekurangan makanan, mereka belajar untuk mencari dan menyimpan makanan berenergi tinggi dan lezat yang ditemukan di alam.
Sementara, mengutip laman Michigan Pediatric Therapy, kebiasaan pilih-pilih makanan biasanya bukan disebabkan oleh satu aspek tunggal, melainkan kombinasi pengaruh fisiologis, psikologis, dan lingkungan. Beberapa penyebab umum anak picky eater meliputi:
1. Sensitivitas sensorik
Anak-anak mungkin sensitif terhadap tekstur, rasa, bau, alias apalagi penampilan makanan tertentu. Hal ini dapat menyebabkan keengganan terhadap makanan dan kebiasaan makan yang selektif.
2. Tantangan motorik mulut
Kesulitan dalam keahlian motorik mulut, seperti mengunyah dan menelan, dapat membikin makanan tertentu susah alias tidak nyaman untuk dimakan.
3. Faktor genetik
Penelitian menunjukkan bahwa genetika mungkin berkedudukan dalam kecenderungan pilih-pilih makanan, lantaran anak-anak dapat mewarisi preferensi rasa alias sensitivitas sensorik tertentu dari orang tua mereka.
4. Tahap perkembangan
Kebiasaan pilih-pilih makanan seringkali lebih umum terjadi selama tahap perkembangan tertentu, seperti masa balita alias awal masa kanak-kanak, ketika anak-anak menegaskan kemandirian dan preferensi mereka.
5. Faktor lingkungan
Dinamika makan keluarga, rutinitas waktu makan, dan kesiapan makanan di rumah dapat memengaruhi kebiasaan makan dan pilihan makanan anak.
6. Faktor emosional
Stres, kecemasan, alias asosiasi negatif dengan makanan, misalnya, pengalaman tidak menyenangkan di masa lalu, dapat berkontribusi pada perilaku pilih-pilih makanan.
Cara mengatasi anak picky eater yang efektif
Ada hal-hal sederhana tetapi efektif yang dapat kita lakukan untuk mengatasi anak picky eater, berikut caranya:
- Libatkan anak dalam persiapan makanan.
- Seimbangkan ragam makanan dan makanan yang sudah familiar. Ini adalah langkah efektif untuk menarik dan mempertahankan minat mereka pada makanan baru, begitu pula dengan memperkenalkan pilihan baru di samping pilihan yang sudah familiar.
- Menyajikan makanan baru dalam porsi yang lebih kecil.
- Ciptakan lingkungan makan yang positif.
- Hilangkan gangguan saat makan, seperti menyimpan perangkat elektronik untuk memastikan anak dapat konsentrasi makan.
- Coba terus, jangan menyerah. Penelitian menunjukkan bahwa dibutuhkan 8-10 kali paparan terhadap buah alias sayuran baru sebelum anak mau menerimanya.
- Tahan kemauan untuk membikin makanan lain. Hal itu justru menciptakan lebih banyak masalah daripada menyelesaikannya.
- Jangan gunakan makanan sebagai bingkisan alias hukuman. Praktik ini hanya menciptakan asosiasi yang tidak sehat dengan makanan sehat.
- Jadilah panutan dan duduk berbareng di meja makan.
Kapan tanda perlu ke dokter?
Dilansir Child Mind Institute, kebiasaan pilih-pilih makanan mulai menjadi masalah serius ketika anak-anak kekurangan gizi alias makan sangat sedikit sehingga sangat membatasi kehidupan mereka.
“Biasanya kita mulai memandang anak-anak yang kesulitan dengan kebiasaan pilih-pilih makanan ketika mereka berumur tujuh alias 8 tahun,” kata Jerry Bubrick, PhD, seorang psikolog klinis yang merawat banyak anak dengan kekhawatiran dan OCD di Child Mind Institute.
Kebiasaan pilih-pilih makanan dapat mencapai tingkat klinis lantaran sejumlah argumen yang berbeda. Beberapa anak mempunyai indra penciuman yang lebih tajam yang membikin mereka merasakan rasa lebih intens daripada kebanyakan orang, yang lain membatasi diet mereka lantaran mereka mempunyai masalah dengan kecemasan.
Apa pun alasannya, semakin lama seorang anak sangat pilih-pilih, semakin susah bagi mereka untuk mencoba makanan baru. Jadi sebelum terlambat, lebih baik konsultasikan ke master dan mahir yang bisa mengatasi ini ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)