Kesalahan Pola Asuh Orang Tua Yang Jadi Penyebab Utama Anak Depresi

May 22, 2026 03:20 PM - 1 bulan yang lalu 30803

Belakangan ini, kasus depresi pada remaja kian meningkat. Selain aspek traumatis dan psikologis, rupanya pola asuh juga dapat memengaruhi kondisi tersebut. Karenanya, krusial untuk kenali kesalahan pola parenting yang jadi penyebab depresi pada anak.

Dalam sebuah podcast, guru besar dari New York University, Scott Galloway, menyebut akibat depresi pada remaja hingga dewasa berangkaian erat dengan pola asuh tertentu. Menurutnya, pola parenting menjadi dasar dalam membentuk kesehatan mental anak di kemudian hari.

Ia merujuk pada penelitian dari psikolog sosial, Jonathan Haidt, dan guru besar psikologi, Jean Twenge. Pada penelitian sebelumnya, kedua mahir tersebut menemukan adanya peningkatan yang signifikan mengenai depresi pada remaja dalam beberapa tahun terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Untuk memahaminya lebih lanjut, simak penjelasan mengenai kesalahan pola parenting yang jadi penyebab depresi menurut mahir berikut ini, Bunda.

Kesalahan pola parenting yang dapat menjadi penyebab depresi

Menurut Galloway, selain media sosial, pola parenting buldoser menjadi aspek utama yang mendorong masalah ini. Dalam pola asuh tersebut, orang tua condong menyingkirkan semua kesulitan anak, yang justru sangat merugikan perkembangan mental mereka.

Sekilas, pola asuh ini memang terlihat sebagai corak perhatian, Bunda. Namun dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu perkembangan emosional dan mental anak sehingga akibat depresi dan gangguan mental lainnya semakin besar.

“Apapun masalahnya, orang tua langsung turun tangan untuk membereskan semuanya. Kita mau hidup anak terasa mudah dan tanpa hambatan, padahal anak yang sering diselamatkan tidak bisa menjadi kuat saat menghadapi kesulitan,” kata Galloway dikutip dari Today.

Galloway menyebut anak dengan pola parenting buldoser condong lebih sensitif. Oleh lantaran itu, merasakan pengalaman yang kurang menyenangkan, seperti ditolak, gagal, kecewa, hingga patah hati, sangat krusial untuk melatih mental di masa depan.

Gaya pengasuhan dan akibat depresi pada anak

Sejalan dengan Galloway, penelitian lain mengenai pola parenting, sepakat bahwa penyebab depresi sering kali berakar dari aspek tersebut. Maka dari itu, langkah orang tua berinteraksi, merespons emosi, dan mendidik berkedudukan besar dalam membentuk kondisi psikologis anak.

Studi terbatas yang dilakukan tahun 2021 menemukan bahwa parenting yang terlalu keras, kritis, dan sering menghukum juga dapat meningkatkan akibat depresi. Tak hanya anak yang selalu dilindungi, anak yang sering mendapat tekanan pun mempunyai akibat serupa.

Anak yang sering mendapat tekanan dan beban bakal lebih mudah merasa insecure, cemas, dan susah mengelola emosi. Selain itu, kebiasaan orang tua yang hanya konsentrasi terhadap perihal negatif pada anak dapat memperburuk kondisinya.

Sementara itu, pola asuh yang stabil alias otoritatif justru membantu anak merasa lebih kondusif secara emosional. Anak-anak yang diasuh dengan dengan style parenting ini condong lebih mandiri, mengandalkan diri sendiri, dan mudah beradaptasi.

Dampak pola asuh yang tepat ini tidak hanya dirasakan saat anak tetap kecil, Bunda. Hingga mereka dewasa pun, mereka bakal jauh lebih percaya diri, bisa mengelola stres, mempunyai keahlian sosial yang baik, dan handal saat menghadapi masalah.

4 Jenis parenting anak 

Setiap orang tua dapat menentukan pola asuh yang sesuai dalam membesarkan anak. Namun, secara umum, terdapat empat jenis parenting yang paling sering diterapkan, serta dampaknya terhadap perkembangan anak.

Berikut penjelasanya yang dikutip dari saran seorang psikoterapis dan konselor klinis, Ales Zivkovic, MSc (TA Psych), CTA(P), PTSTA(P):

1. Gaya pengasuhan otoritatif

Pengasuhan ini mengedepankan kehangatan dan support emosional, komunikasi yang terbuka, patokan yang jelas serta fleksibel. Melalui style ini, anak tidak hanya diberi batasan, tetapi juga dijelaskan mengenai patokan agar mereka memahaminya.

Gaya pengasuhan ini paling direkomendasikan oleh sejumlah ahli. Sebab, anak tak hanya mendapatkan kritik, tetapi juga belajar memahami dan mengelola emosinya sehingga mereka condong lebih terkontrol dan mandiri.

2. Gaya pengasuhan otoriter

Berbeda dengan otoritatif, style ini lebih menekankan patokan dan kepatuhan anak yang ketat, Bunda. Tak jarang orang tua yang menerapkan pola asuh ini lebih banyak menuntut, memberikan aturan, dan terlalu mengontrol anak.

Dampak dari style pengasuhan otoriter membikin anak menjadi kurang percaya diri, susah mengambil keputusan, dan susah mengekspresikan emosi. Dalam jangka panjang, kondisi ini menimbulkan akibat masalah kesehatan mental, seperti kekhawatiran dan depresi.

3. Gaya pengasuhan permisif

Gaya pengasuhan permisif condong membebaskan anak untuk melakukan banyak hal. Orang tua tidak memberikan pengarahan serta patokan yang jelas, pakem, dan justru lebih mengikuti kemauan anak.

Akibat dari pola pengasuhan ini, anak menjadi susah mengontrol diri, kurang disiplin, dan berjuntai pada orang lain. Hal ini juga bakal berakibat pada kehidupan anak di masa depan, terlebih kehidupan sosialnya.

4. Gaya pengasuhan neglectful

Neglectful merupakan style pengasuhan yang tidak melibatkan orang tua secara langsung. Artinya, parenting ini mempunyai tingkat partisipasi alias keikutsertaan orang tua terhadap kehidupan anak yang sangat rendah, baik secara emosional maupun perhatian.

Parenting ini condong kurang memperhatikan anak sehingga mereka lebih sering mengurus diri sendiri. Orang tua biasanya hanya datang secara bentuk tanpa melibatkan emosional. Akibatnya, anak yang diasuh mempunyai masalah emosional di kemudian hari.

Demikian penjelasan mengenai pola asuh yang dapat menjadi penyebab depresi pada remaja hingga dewasa. Semoga info ini bermanfaat, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya