Kisah Astronaut Bagikan Perjuangan Milki Anak Sembari Bersiap Jalani Misi Ke Luar Angkasa

May 22, 2026 11:10 AM - 1 bulan yang lalu 31027

Jakarta -

Menjadi seorang astronaut mungkin terdengar luar biasa dan penuh prestasi. Namun di kembali itu, rupanya ada perjuangan besar yang juga dirasakan seperti banyak wanita lainnya, ialah perjuangan untuk mempunyai anak.

Astronaut sekaligus peneliti luar angkasa, Kellie Gerardi, membagikan kisah emosionalnya saat berjuang mendapatkan anak kedua sembari mempersiapkan diri menjalani misi ke luar angkasa pada 2026.

Kisah Kellie menarik perhatian banyak ibu lantaran dia dengan jujur menceritakan pengalaman menjalani program IVF alias bayi tabung, keguguran, hingga rasa sedih yang datang berulang kali selama mencoba mengandung lagi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dilansir dari NPR, Kellie mengaku telah mengalami lima kali kehamilan, tetapi hanya satu yang sukses hingga melahirkan putri pertamanya, Delta. Setelah itu, dia dan suami kembali mencoba mempunyai anak kedua, tetapi perjalanan tersebut rupanya jauh lebih susah dari yang dibayangkan.

Jalani program IVF di tengah persiapan misi luar angkasa

Di tengah agenda latihan astronaut yang padat, Kellie memulai program IVF pada akhir 2024. Ia menjalani beragam prosedur medis, mulai dari suntik hormon, pemantauan kesuburan, hingga pengambilan sel telur. Dari proses tersebut, hanya ada satu embrio yang dinyatakan layak untuk ditanamkan. Saat mengetahui dirinya kembali hamil, Kellie merasa sangat senang dan penuh harapan. Pada Februari, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-36, Gerardi menjalani USG terakhir.

Saya pergi ke janji jumpa kelulusan saya, alias yang semestinya menjadi janji jumpa kelulusan saya dari klinik IVF pada pemeriksaan sembilan minggu itu dan dalam janji jumpa itu saya hancur mendengar master dan perawat di ruangan itu memberi tahu saya bahwa tidak ada debar jantung,” kenangnya.

Namun kebahagiaan itu tidak berjalan lama. Saat pemeriksaan kehamilan usia sembilan minggu, master menyatakan debar jantung janin sudah tidak ada. Kellie pun mengalami keguguran. Ia mengaku masa itu menjadi salah satu titik terberat dalam hidupnya. Meski begitu, Kellie memilih bangkit dan tetap melanjutkan perjuangannya.

Setelah meluangkan waktu untuk pulih, Gerardi dan keluarganya memutuskan untuk mencoba lagi. Dan tetap berkomitmen untuk berbagi setiap langkah proses IVF kali ini terutama kegembiraan dan harapannya.

"Tidak ada yang pernah dijamin dalam IVF," kata Gerardi. 

"Saya sadar bahwa ada kemungkinan besar perihal yang sama bakal terjadi lagi, yang bakal sama menghancurkannya, alias transfer embrio tidak berhasil... apa pun itu. Saya tahu risikonya, dan saya tahu bahwa tidak ada yang pasti. Namun, saya tetap membiarkan diri saya tetap berada dalam tingkat harapan, antusiasme, dan optimisme ini," sambungnya.

Ingin wanita tak merasa sendirian

Lewat media sosialnya, Kellie mulai membagikan seluruh proses IVF secara terbuka. Ia memperlihatkan gimana perjuangan menjalani suntik hormon, rasa resah menunggu hasil embrio, hingga kesedihan setelah kehilangan kehamilan.

Menurut Kellie, banyak wanita mengalami infertilitas alias keguguran, tetapi sering merasa kudu menyimpannya sendiri. Karena itu, dia mau lebih banyak wanita tahu bahwa mereka tidak sendirian. Keterbukaan Kellie kemudian mendapat support besar dari para ibu di seluruh bumi yang pernah mengalami perjuangan serupa.

"Hingga saat ini, saya telah mengandung lima kali dan hanya Delta yang menjadi anak saya," katanya. 

"Ini adalah perjalanan yang berat dan ini adalah campuran infertilitas sekunder, di mana saya tahu bahwa saya mungkin bisa mengandung dan membawa kehamilan hingga cukup bulan, tetapi mengalami periode waktu yang lama tidak bisa hamil, ketika saya hamil, mengalami keguguran yang sangat menghancurkan setiap kali," tambahnya.

 Dari kehidupan sebagai astronaut hingga menjadi ibu, Gerardi berbagi kehidupannya secara daring. Video-videonya mendokumentasikan segalanya, mulai dari penelitian ruang angkasanya tentang cairan biomedis dan termodinamika hingga perjalanan berbareng ibu dan putrinya biasanya mengenakan kalung bintang tebal dan sweter bertema luar angkasa dengan bintang, bulan, alias alien berwarna-warni.

Saat ini, dengan Gerardi secara terbuka berbagi perjalanan kesuburannya dan pengalamannya dengan fertilisasi in vitro, perawatan yang mengambil sel telur dan membuahinya dengan sperma di luar tubuh, media sosialnya telah menjadi ruang komunal bagi orang lain yang mengalami perjuangan serupa.

"Ada begitu banyak suka dan duka dalam proses [IVF]," katanya. 

"Pengambilan sel telur, itu adalah pengalaman pertama saya. Dan saya rasa saya sedikit tidak siap secara emosional," tutupnya.

Kesuburan dan bumi antariksa rupanya berkaitan

Menariknya Bunda, Kellie juga menjelaskan bahwa para peneliti sekarang mulai mempelajari hubungan antara bumi antariksa dan kesehatan reproduksi perempuan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan radiasi luar angkasa dan kondisi gravitasi rendah bisa memengaruhi kesehatan tubuh, termasuk sistem reproduksi. Karena itulah, kesehatan wanita menjadi salah satu topik krusial dalam penelitian luar angkasa modern.

Meski menghadapi banyak tantangan, Kellie tetap menjalani latihan astronaut sembari berupaya menjaga kesehatan bentuk dan mentalnya.

Setelah melalui perjalanan IVF yang panjang dan penuh emosi, Kellie akhirnya sukses menyambut kelahiran anak keduanya pada 2026. Banyak orang menyebut bayi tersebut sebagai rainbow baby, ialah bayi yang lahir setelah orang tua mengalami kehilangan kehamilan sebelumnya.

Kisah Kellie menjadi inspirasi bahwa wanita tetap bisa mengejar mimpi besar sembari menjalani perjuangan menjadi ibu. Di kembali pencapaian luar biasa seorang astronaut, rupanya ada air mata, harapan, dan perjuangan yang begitu dekat dengan kehidupan banyak Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya