Jakarta -
Kehamilan biasanya menjadi momen yang penuh harapan. Namun, seorang Bunda ini justru kudu menghadapi kondisi langka yang nyaris menakut-nakuti nyawanya. Ia diketahui mengalami kehamilan heterotopik, ialah ketika satu embrio berkembang di dalam rahim, sementara embrio lainnya justru tumbuh di luar rahim.
Kisah tersebut dibagikan melalui Parents. Awalnya, Bunda tersebut mengalami nyeri dahsyat di salah satu sisi perut yang sempat dianggap sebagai gas selama kehamilan. Ternyata, rasa sakit itu disebabkan oleh embrio lain yang berkembang di ovarium dan kemudian mengalami ruptur hingga menyebabkan perdarahan internal.
Sempat dikira hanya sakit lantaran gas
Bunda tersebut sebelumnya menjalani perawatan kesuburan berupa intrauterine insemination (IUI). Pada pemeriksaan kehamilan usia 4, 5, dan 6 minggu, master menemukan satu embrio yang berkembang dengan baik di dalam rahim. Namun, sehari setelah pemeriksaan pada usia kehamilan 6 minggu, dia merasakan nyeri tajam yang datang dan pergi di sisi kanan perut.
Ia kemudian menghubungi tenaga medis. Karena sehari sebelumnya hasil USG menunjukkan kehamilan di dalam rahim dalam kondisi baik, rasa sakit tersebut awalnya dianggap berangkaian dengan gas selama kehamilan.
Sayangnya, nyeri tidak kunjung membaik. Rasa sakit apalagi semakin berat hingga membuatnya kesulitan bergerak. Beberapa jam kemudian, suaminya menemukan sang Bunda dalam kondisi meringkuk kesakitan di tempat tidur dan segera membawanya ke rumah sakit.
Ternyata mengalami perdarahan internal
Di rumah sakit, master kembali melakukan pemeriksaan USG transvaginal. Setelah pemeriksaan yang cukup lama, tim medis menemukan adanya perdarahan internal. Ia kemudian menjalani operasi darurat untuk mencari sumber perdarahan.
Dokter awalnya menduga perdarahan tersebut mungkin berasal dari kista ovarium yang pecah. Namun, saat operasi dilakukan, ditemukan kondisi yang jauh lebih langka. Ternyata terdapat embrio kedua yang menempel pada ovarium. Kehamilan tersebut mengalami ruptur dan menyebabkan perdarahan hebat.
Bunda tersebut akhirnya didiagnosis mengalami kehamilan heterotopik. Menariknya, operasi sukses menyelamatkan kehamilan yang berkembang di dalam rahim sekaligus mempertahankan ovarinya. Tujuh bulan kemudian, dia melahirkan seorang bayi laki-laki dalam kondisi sehat.
Apa itu kehamilan heterotopik?
Kehamilan heterotopik adalah kondisi ketika kehamilan intrauterin dan kehamilan ektopik terjadi secara bersamaan. Artinya, satu embrio sukses menempel dan berkembang di dalam rahim, sedangkan embrio lainnya justru menempel di luar rahim.
Lokasi kehamilan ektopik paling sering berada di tuba fallopi. Namun, dalam kasus yang lebih jarang, embrio dapat berkembang di letak lain seperti ovarium, leher rahim, alias rongga perut.
Pada kasus yang dialami Bunda dalam kisah ini, embrio kedua berkembang di ovarium. Kondisi tersebut sangat rawan lantaran kehamilan di luar rahim tidak dapat berkembang secara normal. Ketika jaringan kehamilan mengalami ruptur, pembuluh darah dapat mengalami perdarahan yang cukup banyak dan berpotensi menakut-nakuti nyawa.
Seberapa langka kehamilan heterotopik?
Kehamilan heterotopik termasuk kondisi yang sangat jarang, terutama pada kehamilan yang terjadi secara alami.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology menyebut nomor kejadian kehamilan heterotopik spontan sekitar 1 dari 30.000 kehamilan. Risiko dapat meningkat pada kehamilan yang menggunakan teknologi reproduksi berbantu seperti IVF.
Studi lain juga menjelaskan bahwa penggunaan teknologi reproduksi berbantu dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan heterotopik. Faktor seperti transfer lebih dari satu embrio dan stimulasi ovarium diketahui berangkaian dengan peningkatan risiko.
Meski demikian, bukan berfaedah setiap Bunda yang menjalani program kehamilan berbantu bakal mengalami kondisi ini. Kehamilan heterotopik juga tetap dapat terjadi pada kehamilan alami. Karena itulah, master perlu mempertimbangkan kondisi ini ketika ibu mengandung mengalami indikasi yang mencurigakan, meskipun USG sebelumnya sudah menunjukkan adanya janin di dalam rahim.
Kenapa kehamilan heterotopik susah dideteksi?
Salah satu tantangan terbesar dalam mendiagnosis kehamilan heterotopik adalah adanya janin yang terlihat berkembang normal di dalam rahim.
Ketika USG menunjukkan kantung kehamilan alias embrio di dalam rahim, kondisi tersebut dapat membikin master maupun pasien merasa lebih tenang. Padahal, keberadaan kehamilan intrauterin tidak otomatis menyingkirkan kemungkinan adanya kehamilan ektopik secara bersamaan.
Sebuah systematic review mengenai kehamilan heterotopik spontan menemukan bahwa nyeri perut merupakan salah satu indikasi yang paling sering muncul. Diagnosis umumnya memerlukan kombinasi pemeriksaan klinis dan USG, terutama USG transvaginal. Karena itu, keluhan nyeri perut yang menetap alias semakin berat selama kehamilan sebaiknya tidak dianggap sepele.
Kenali indikasi kehamilan heterotopik
Gejalanya dapat menyerupai kondisi kehamilan lainnya. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Nyeri perut, terutama pada satu sisi
- Nyeri yang semakin berat alias menetap
- Pusing
- Lemas alias apalagi pingsan
- Perdarahan dari vagina
- Mual dan muntah
- Tanda-tanda kehilangan darah akibat perdarahan internal
Pada kondisi yang sudah menyebabkan ruptur dan perdarahan, ibu dapat mengalami keadaan darurat darurat. Jadi, Bunda yang sedang mengandung dan mengalami nyeri perut hebat, terutama jika disertai pusing, lemas, perdarahan, alias mau pingsan, sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Bagaimana kehamilan heterotopik ditangani?
Penanganan berjuntai pada kondisi ibu, letak kehamilan ektopik, ada tidaknya ruptur alias perdarahan, serta kondisi kehamilan yang berada di dalam rahim. Pada kondisi tertentu, tindakan operasi diperlukan untuk mengatasi kehamilan ektopik dan menghentikan perdarahan. Tujuannya adalah menyelamatkan nyawa ibu sekaligus, jika memungkinkan, mempertahankan kehamilan yang berada di dalam rahim.
Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa pada pasien yang sangat terpilih dan kondisinya stabil, pendekatan konservatif alias observasi dapat dipertimbangkan. Namun, pilihan ini sangat berjuntai pada kondisi klinis dan hasil pemeriksaan sehingga tidak dapat diterapkan pada semua kasus.
Pada kasus Bunda dalam kisah ini, operasi darurat sukses mengatasi kehamilan ektopik yang mengalami ruptur sekaligus mempertahankan kehamilan intrauterin.
Kisah tersebut mengingatkan bahwa adanya janin di dalam rahim bukan berfaedah semua keluhan selama kehamilan pasti normal. Kehamilan heterotopik memang sangat jarang. Namun, kondisi ini dapat menjadi keadaan darurat andaikan kehamilan ektopik mengalami ruptur dan menyebabkan perdarahan internal.
Terlebih bagi Bunda yang menjalani program kesuburan, master mungkin bakal memberikan pemantauan lebih ketat lantaran teknologi reproduksi berbantu diketahui berangkaian dengan peningkatan akibat kehamilan heterotopik.
Yang tidak kalah penting, Bunda juga perlu mendengarkan tubuh sendiri. Jika muncul nyeri yang terasa berbeda dari biasanya, semakin berat, alias disertai pusing, lemas, perdarahan maupun pingsan, jangan ragu segera menghubungi master alias pergi ke akomodasi kesehatan. Jangan menganggap semua nyeri saat mengandung hanya sebagai keluhan biasa, ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)