Kisah Bunda Jalani Kehamilan Yang Traumatis Usai Didiagnosis Plasenta Akreta

Jun 16, 2026 06:00 PM - 1 minggu yang lalu 14189

Jakarta -

Kehamilan umumnya menjadi momen yang penuh angan dan kebahagiaan bagi seorang perempuan. Namun, tidak semua perjalanan menuju kelahiran melangkah mulus.

Seorang Bunda berjulukan Lauren Farrelly mesti menjalani kehamilan kedua yang traumatis usai didiagnosis menderita plasenta akreta. Dokter mendiagnosisnya saat usia kehamilan 31 minggu.

"Itu sangat traumatis lantaran suatu hari saya sedang bekerja dan semuanya baik-baik saja, lampau keesokan harinya kami mengemasi barang-barang dan pindah ke Southampton (untuk menjalani perawatan)," kata Farrelly, dilansir People.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Setelah didiagnosis plasenta akreta, master mengharuskannya untuk menjalani persalinan diri dan operasi besar. Anak keduanya yang diberi nama Nico lahir lima minggu lebih awal. Farrelly setidaknya menjalani operasi selama delapan jam untuk melahirkan putranya di Southampton Hospital, Inggris.

Pengalaman kehamilan kedua ini dianggap begitu traumatis bagi Farrelly. Pasalnya, ketika Farrelly melahirkan anak pertamanya yang berjulukan Thea, dia menjalani persalinan caesar dan tidak mengalami komplikasi apa pun.

Apa itu plasenta akreta?

Plasenta akreta merupakan salah satu komplikasi kehamilan berisiko tinggi, Bunda. Dikutip dari Baby Center, plasenta akreta terjadi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam di tembok rahim.

"Plasenta adalah organ berbentuk pipih yang terbentuk selama kehamilan, yang menempel pada tembok rahim dan terhubung ke bayi melalui tali pusar. Plasenta membantu mengantarkan nutrisi ke bayi," kata master ahli kebidanan dan kandungan, Layan Alrahmani, MD.

"Beberapa menit setelah melahirkan bayi, plasenta biasanya bakal terlepas dari tembok rahim dan ikut keluar. Namun, jika seorang wanita mengalami plasenta akreta, maka plasentanya tetap menempel pada tembok rahim. Hal tersebut dapat menyebabkan pendarahan hebat," sambungnya.

Plasenta akreta menjadi komplikasi yang lebih umum terjadi seiring dengan meningkatnya nomor operasi caesar selama 30 tahun terakhir. Riwayat operasi caesar sebelumnya juga merupakan salah satu aspek akibat plasenta akreta, Bunda.

Tanda dan indikasi plasenta akreta

Plasenta akreta seringkali tidak menimbulkan gejala. Tak heran jika Bunda Farrelly tidak mengetahui kondisi ini sampai memeriksakannya ke dokter.

Dalam beberapa kasus, master dapat memandang tanda-tandanya dalam pemeriksaan USG. Selain itu, munculnya perdarahan memek selama trimester ketiga juga dapat menjadi tanda peringatan.

"Jika master mencurigai wanita mengalami plasenta akreta, USG alias MRI mungkin bakal dilakukan untuk mencoba memandang gimana posisi plasenta di tembok rahim," ungkap Alrahmani.

Faktor akibat plasenta akreta

Penyebab spesifik plasenta akreta tetap belum diketahui, Bunda. Namun, ada beberapa aspek akibat yang dikaitkan dengan komplikasi kehamilan ini, seperti:

  • Riwayat operasi caesar alias operasi rahim
  • Riwayat plasenta previa
  • Jumlah kelahiran yang pernah dijalani
  • Kondisi rahim tertentu, seperti fibroid rahim
  • Kebiasaan merokok
  • Faktor usia, lebih umum terjadi pada wanita 35 tahun ke atas
  • Menjalani prosedur infertilitas, seperti transfer embrio.

Penanganan kehamilan dengan plasenta akreta

Jika plasenta akreta terjadi, master mungkin bakal menjadwalkan operasi caesar, diikuti dengan pengangkatan rahim beserta plasenta yang tetap menempel. Tindakan itu disebut histerektomi caesar.

Plasenta akreta dapat menjadi masalah jika wanita mengalami persalinan prematur. Oleh lantaran itu, operasi caesar mungkin perlu dijadwalkan sedini mungkin, ialah pada minggu ke-34, untuk menghindari persalinan darurat yang tidak direncanakan.

Demikian kisah Bunda yang didiagnosis plasenta akreta dan sempat mengalami trauma menjalani kehamilan keduanya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Selengkapnya