Kisah Hijrah Pertama, Raja Nasrani Menyambut Hangat Para Sahabat Nabi

Jun 17, 2026 09:00 AM - 2 minggu yang lalu 23247

ILUSTRASI Para sahabat Nabi menghadap Raja Najasyi di negeri Habasyah.

Kincai Media , JAKARTA -- Sekitar tahun 610 M, Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan rasul Allah SWT. Sejak saat itu, syiar Islam mulai menyebar di Makkah meski terus diadang kekuatan politik setempat. Sekira lima tahun kemudian, Rasulullah SAW membolehkan sebagian umat Islam untuk berhijrah ke Habasyah—sebutan Arab untuk Kerajaan Aksum--sebuah negeri di Benua Afrika.

"Sesungguhnya di Habasyah terdapat seorang raja yang tak seorang pun dizalimi di sisinya. Pergilah ke negerinya hingga Allah membukakan jalan keluar bagi kalian (Muslimin) dan penyelesaian atas apa yang menimpa kalian," sabda Nabi SAW (Fathul Bari VII:189).

Waktu itu, Aksum diperintah oleh seorang raja berjulukan Armah alias Ashhamah. Orang-orang Arab biasa menggelarinya an-Najasyi. Sebanyak 16 orang sahabat Rasulullah SAW yang berhijrah itu dipimpin Utsman bin Maz'un. Setelah mengarungi perjalanan yang tidak mudah, apalagi mengarungi Laut Merah, mereka akhirnya sampai di Aksum.

Raja an-Najasyi menerima Muslimin dengan ramah. Mereka bukan hanya memperoleh izin, melainkan juga perlindungan sehingga bisa menetap dengan kondusif di Aksum.

Tiga bulan kemudian, tersiar berita bahwa masyarakat Makkah sudah menerima Islam. Beberapa sahabat Nabi SAW yang memercayainya lantas kembali ke kampung halaman. Nyatanya berita itu bohong belaka. Kaum kafir Quraisy tetap saja semena-mena menekan umat Islam.

Para sahabat Nabi SAW pun hijrah lagi ke Aksum. Menurut Ibnu Ishaq, seorang sejarawan dari abad kedelapan, gelombang eksodus kedua itu diikuti sebanyak 80 orang Muslim.

Untuk mencegah mereka, kaum kafir Quraisy mengirimkan sejumlah delegasi yang dipimpin Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah kepada an-Najasyi. Sesampainya di Istana Aksum, keduanya meminta agar sang raja mengusir para pengikut Nabi Muhammad SAW dari negerinya.

Selengkapnya