Siswi kelas 4 SD yang punya segudang prestasi ini, rupanya nggak pernah ikut pengarahan belajar meski Mandali Tanajiwa meraih predikat terbaik di sekolah.
Jujur, pas ibunya Mandali Tanajiwa, Dinda Gayathri menyebutkan daftar prestasinya, saya sempat tertegun. Amazed. Mandali baru berumur 10 tahun, tapi jika lihat deretan portfolio-nya, wah, rasanya waktu saya usia 17 tahun saja, nggak sebanyak dan nggak sekeren milik Mandali.
Mendengar dia bicara pun, seperti lagi nggak ngobrol sama anak kelas 4 SD. Keren banget pokoknya. Alur bicaranya runut, artikulasi jelas, dan betul-betul terstruktur. Rentetan cerita yang mengagumkan dengan lancar dia tuturkan.
Dari panggung teater musikal School of Rock, hingga panggung diplomasi budaya berbareng tokoh pendongeng nasional Paman Gery dan Kementerian Pendidikan Dasar & Menengah, Mandali yang sejak umur 1,5 tahun sudah punya kosa kata banyak ini, rupanya punya keberanian besar sejak usia dini.
Namun, di kembali daftar panjang portofolio Mandali Tanajiwa, ada cerita tentang eksplorasi yang alami, keberanian mengatasi rasa cemas, serta seni pengasuhan orang tua yang suportif tanpa membebani.
Menemukan panggilan di atas panggung

Bagi Mandali, panggung dan seni pagelaran bukan sekadar tentang meraih penghargaan, melainkan ruang untuk berjumpa dengan banyak orang. Ketertarikannya pada bumi storytelling, vokal, dan teater musikal berasal dari kecintaannya pada hubungan sosial.
“Cita-citaku memang mau menjadi seorang public speaker. Mungkin lantaran saya mencintai kegiatan yang membuatku bersosialisasi sama orang lain,” tutur anak kelas 4 SD ini dengan kepercayaan penuh.
Meski sering tampil percaya diri, Mandali tidak lepas dari rasa gugup. Momen ketika dia dipercaya mendongeng di kegiatan krusial yang dihadiri pejabat kementerian menjadi salah satu ujian keberaniannya. Untuk menenangkan diri, Mandali mempunyai formula sederhana, “Kalau gugup pasti pernah. Biasanya saya minum air putih dan mengingatkan diri sendiri jika saya bisa. Aku sudah latihan, melakukan yang terbaik, dan hari ini adalah waktunya,” ucapnya jujur. Saya saja sampai takjub, anak kelas 4 SD, lho, ini. Kontrol dirinya sudah luar biasa banget.
Baca juga: Inspiring Mom: Lanny, Ibu di Balik 2 Putri yang Diterima di ITB dan NUS
Eksplorasi yang terarah, bukan pemaksaan

Melihat perjalanan Mandali, yang pernah memenangkan lencana di perlombaan Kidpublish Storytelling Competition 3 tahun berturut-turut, membikin kitab “The Adventure of Cobini & Chamete”, tergabung dalam kids choir di Yura Yunita Bingah concert tahun 2025, belajar main ukulele serta ikut Ukuiki Ukulele (dan tetap banyak lagi prestasinya yang kayaknya jika saya tulis di sini bakal sangat panjang sekali), pasti Mommies sekalian membayangkan agenda latihan yang banget padat.
Namun, sang ibu, Dinda, meluruskan pandangan tersebut. Portofolio yang dimiliki Mandali adalah dinamika perjalanan eksplorasi sejak kecil, bukan beban yang kudu ditanggung sekaligus.
Awalnya, talenta Mandali terlihat dari kemampuannya berbincang yang cukup sigap di usia 1,5 tahun serta minatnya yang tinggi pada lagu dan cerita. “Karena kami adalah orang tua yang mempunyai latar belakang seni rupa dan menyukai musik, stimulasi awal diberikan secara alami lewat bernyanyi, mendongeng sebelum tidur, dan menonton movie musikal bersama.”
Kegiatan Mandali dari mini berbareng orang tuanya, adalah menggambar bersama, bernyanyi, main musik alias menceritakan cerita lewat kitab alias apalagi bersama-sama mengarang bebas cerita. Sering juga Dinda membujuk Mandali mendengarkan podcast dongeng, terkadang mengikuti kegiatanya-kegiatan yang bisa menarik perhatiannya, lewat gerak, nyanyian, berkreasi, dan kegiatan yang menarik untuk menstimulasi kognitif, sensori alias motoriknya.
“Kami juga suka nonton movie musikal sehingga beberapa kali memang memperdengarkan beberapa lagu dari movie musikal seperti the Sound of Music, Disney, Petualangan Sherina alias lagu2 anak berkata indonesia alias Inggris. Mungkin itu kurang lebih langkah kami memfasilitasi kesukaan dia bakal bumi seni, musik dan teater,”ungkap Dinda lagi.
“Sederet prestasi Mandali di portofolio itu adalah proses eksplorasi sejak kecil. Sekarang kami melangkah lebih pelan dan hanya berfokus pada apa yang betul-betul menjadi minat utamanya, seperti les piano, teater musikal, ekskul sekolah, mengaji, dan vokal,” jelas Dinda.
Menariknya, di tengah pencapaian akademik dan non-akademiknya, Mandali tidak pernah didaftarkan ke tempat pengarahan belajar unik pelajaran sekolah. Orang tuanya percaya bahwa pemahaman di sekolah sudah cukup, dan yang paling utama adalah menjaga rasa mau tahu anak. Prestasi akademik yang didapatkan Mandali, seperti meraih predikat terbaik di pelajaran matematika dan art, dianggap sebagai bingkisan dari rasa sukanya terhadap proses belajar.
Baca juga: Mikaela Mischa Laetitia Evers: Lewat Menari, Aku Terus Tertantang dan Termovitasi untuk Menjadi Lebih Baik dan Terus Belajar Hal Baru
Tetap menjadi anak-anak
Di kembali latihan teater dan kompetisi, Mandali tetaplah anak 10 tahun yang menikmati masa kecilnya. Orang tuanya tetap mengatur agenda mingguan agar Mandali selalu mempunyai day off namalain hari bebas di mana dia tidak mempunyai kegiatan les sama sekali.
Di waktu senggang tersebut, Mandali biasa bermain boneka Barbie, main rumah-rumahan, menonton kegiatan favoritnya, bermain game digital, hingga mengarang permainan berbareng orang tuanya. Mandali juga senang menggambar untuk melepaskan penat. “Kalau lagi capek alias jenuh setelah kegiatan, saya biasanya gambar-gambar alias ngobrol sama kawan biar rasanya lebih tenang,” ujar Mandali.
Kalau cerita ibunya, “Seringkali dia juga meminta saya menemani bermain, alias membujuk kami main sekolah-sekolahan. Saya dan ayahnya jadi siswa lampau dia jadi gurunya. Main pentas-pentasan juga sering, dia suka membikin seolah-olah kudu membeli tiket untuk menonton pertunjukannya, dan lain sebagainya. Jadi waktu Mandali untuk bermain tetap seperti anak mini pada umumnya saja, kok. Apalagi dengan kehadiran adik yang tetap berumur batita, tak jarang dia menemani bermain si adik, di playground misalnya. Pokoknya, sebisa mungkin kami mau Mandali berkembang sesuai usianya.”
Belajar legowo dan rendah hati

Salah satu tantangan terbesar dalam mendampingi anak berprestasi seperti Mandali Tanajiwa, adalah gimana mengelola ekspektasi dan rasa kecewa saat kegagalan menghampiri. Dinda selalu menanamkan nilai bahwa kekalahan alias kegagalan adalah bagian dari proses belajar.
“Kami selalu ingatkan bahwa talenta itu hanya 1%, sisanya adalah 99% usaha. Semua orang punya kesempatan yang sama jika mau berusaha,” kata Dinda. Ia mengapresiasi sifat Mandali yang sigap beradaptasi dan legowo ketika hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan.
Bagi orang tua yang mau mendukung potensi anak, Dinda membagikan pesan berbobot agar tidak terburu-buru dan tidak membandingkan anak dengan orang lain. “Coba beri ruang eksplorasi, dengarkan keluh kesah anak sebagai kawan ngobrol yang sepadan, dan pengesahan setiap emosi anak adalah kunci agar potensi anak terpancar tanpa merenggut kebahagiaan masa kecilnya. Sebab pada akhirnya, setiap anak mempunyai waktunya masing-masing untuk bersinar,” tutupnya.