Jakarta -
Perjuangan menghadapi infertilitas tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga dapat menguras emosi. Selain menjalani pemeriksaan dan perawatan, Bunda juga krusial untuk menjaga kesehatan emosional. Salah satu langkah yang bisa dicoba adalah dengan mengucapkan kalimat-kalimat afirmasi positif setiap hari.
Afirmasi tidak dapat menghilangkan masalah infertilitas alias menjamin keberhasilan program mengandung (promil). Tapi, kalimat yang menenangkan dapat menjadi pengingat agar memperlakukan diri sendiri dengan lebih penuh kasih selama menghadapi masa yang tidak mudah.
Berjuang melawan infertilitas, coba 7 afirmasi ini setiap harinya
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), infertilitas dan proses perawatannya dapat menimbulkan stres, kecemasan, depresi, serta rasa kehilangan. Karena itu, support terhadap kesehatan mental juga menjadi bagian krusial dalam menghadapi perjalanan infertilitas.
Penelitian yang diterbitkan dalam Human Reproduction Update juga menunjukkan bahwa intervensi psikologis pada orang yang mengalami infertilitas dapat memberikan faedah terhadap tekanan psikologis, meski efeknya secara keseluruhan relatif mini dan kualitas bukti penelitian tetap perlu diperhatikan.
Berikut tujuh afirmasi yang bisa Bunda gunakan dan sesuaikan dengan kondisi masing-masing melansir Motherly.
1. "Saya boleh tetap berambisi meski sedang merasa sedih"
Perjalanan menghadapi infertilitas menghadirkan beragam emosi yang datang silih berganti. Bunda mungkin ikut senang ketika mengetahui kawan sukses hamil, tetapi pada saat yang sama merasa sedih lantaran tetap menantikan kehamilan sendiri.
Kedua emosi tersebut bisa datang bersamaan. Merasa sedih bukan berfaedah Bunda tidak ikut senang untuk orang lain alias sudah kehilangan harapan.
Afirmasi ini bisa menjadi pengingat bahwa Bunda tidak kudu memaksa diri untuk selalu berpikir positif. Ada kalanya berambisi dan merasa sedih bisa melangkah berdampingan.
2. "Nilai diri saya tidak ditentukan waktu, hasil tes, ataupun angan orang lain"
Perjalanan kesuburan sering kali dipenuhi tanggal pemeriksaan, hasil tes, agenda pengobatan, dan masa menunggu. Di luar itu, Bunda mungkin juga menghadapi pertanyaan dari family alias orang sekitar mengenai kapan bakal mempunyai anak.
Afirmasi ini bisa menjadi pengingat bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh hasil pemeriksaan kesuburan alias seberapa sigap Bunda hamil.
Jika merasa tidak nyaman dengan pertanyaan mengenai program hamil, Bunda juga berkuasa memberikan batasan. Misalnya dengan mengatakan, "Kami menjalaninya selangkah demi selangkah dan saat ini sedang konsentrasi pada kesehatan."
3. "Tubuh saya layak diperlakukan dengan baik setelah melalui begitu banyak hal"
Berbagai pemeriksaan dan perawatan bisa membikin Bunda merasa tubuh sendiri terus-menerus kudu diperbaiki. Padahal, tubuh Bunda tetap layak mendapatkan perhatian dan perlakuan yang baik.
Afirmasi ini dapat digunakan ketika muncul pikiran yang terlalu keras terhadap diri sendiri. Cobalah mengingat bahwa menjalani beragam pemeriksaan dan perawatan bukan berfaedah tubuh telah gagal.
ACOG juga menekankan bahwa beragam emosi seperti stres, kecemasan, depresi, dan duka dapat muncul selama menghadapi masalah kesuburan. Jika beban tersebut terasa semakin berat, Bunda dapat mencari support ahli kesehatan mental.
4. "Saya berkuasa beristirahat, mempertimbangkan kembali pilihan, alias meminta second opinion"
Menjalani perawatan kesuburan tidak selalu berfaedah kudu terus maju tanpa jeda. Ada kalanya seseorang memerlukan waktu untuk beristirahat, mempertimbangkan kembali pilihan yang tersedia, alias mencari pendapat dari tenaga kesehatan lain.
Afirmasi ini dapat menjadi pengingat bahwa Bunda mempunyai kewenangan untuk memahami pilihan perawatan dan menyampaikan apa yang paling krusial untuk diri sendiri.
Jika ada keputusan medis yang membikin ragu, Bunda dapat mendiskusikannya lagi dengan dokter. Meminta penjelasan tambahan alias pendapat kedua juga dapat menjadi pilihan ketika memang dibutuhkan.
5. "Saya boleh memilih kepada siapa saya mau bercerita"
Infertilitas merupakan pengalaman pribadi. Bunda tidak mempunyai tanggungjawab untuk menceritakan seluruh perincian pemeriksaan alias perawatan kepada keluarga, teman, rekan kerja, maupun orang lain.
Bunda dapat memilih kepada siapa mau bercerita dan info apa yang mau dibagikan.
Misalnya, kepada orang yang dipercaya Bunda dapat mengatakan, "Saat ini saya lebih memerlukan support daripada saran". Sementara kepada orang lain, Bunda cukup memberikan jawaban singkat bahwa prosesnya tetap berjalan.
Menetapkan batas bukan berfaedah menutup diri. Hal tersebut dapat menjadi langkah untuk menjaga daya selama menjalani proses yang cukup menguras emosi.
6. "Perjalanan saya untuk menjadi orang tua tidak kudu sama dengan orang lain"
Setiap orang bisa mempunyai perjalanan yang berbeda untuk menjadi orang tua. Ada yang menjalani perawatan kesuburan, ada yang memilih jalan lain, dan ada pula yang mungkin memutuskan untuk berakhir setelah melalui beragam pertimbangan.
Afirmasi ini bisa menjadi pengingat bahwa Bunda tidak perlu membandingkan perjalanan sendiri dengan orang lain. Apa yang dipilih alias sukses bagi orang lain belum tentu menjadi pilihan yang sama untuk Bunda.
7. "Saya tetap boleh merasa senang sekarang, bukan hanya setelah memandang hasil tes positif"
Ketika sedang berupaya mendapatkan kehamilan, kebahagiaan terkadang terasa seperti sesuatu yang kudu ditunda sampai memandang hasil tes positif.
Padahal, Bunda tetap berkuasa menikmati hal-hal sederhana yang membikin hati terasa lebih ringan.
Tidak kudu sesuatu yang besar. Bertemu teman, memasak makanan favorit, melangkah santai, membaca buku, mendengarkan musik, alias melakukan kegiatan yang disukai dapat menjadi jarak dari rutinitas pemeriksaan dan masa penantian.
Penelitian mengenai intervensi psikologis pada wanita dengan infertilitas juga menunjukkan adanya faedah terhadap beberapa aspek kesehatan mental dan kesejahteraan. Karena itu, menjaga kondisi emosional bukan berfaedah mengabaikan proses medis, tetapi menjadi bagian dari upaya merawat diri selama perjalanan tersebut.
Tujuh afirmasi ini bisa Bunda simpan di aplikasi catatan ponsel, ditulis di kertas tempel (sticky note) dekat cermin, alias diingat dalam hati saat menjalani pengambilan darah dan pemeriksaan USG. Pilih kalimat yang paling sesuai dengan emosi Bunda, lampau sesuaikan kata-katanya agar terasa lebih individual dan nyaman diucapkan.
Afirmasi bukan pengganti perawatan infertilitas
Mengucapkan afirmasi dapat menjadi salah satu langkah untuk memberikan support kepada diri sendiri, tetapi bukan pengganti pemeriksaan maupun perawatan medis.
Saat pikiran Bunda terasa penuh di tengah malam, ketika komentar orang lain, meski bermaksud baik, terasa menyakitkan, alias saat menerima hasil pemeriksaan, Bunda bisa kembali pada kalimat-kalimat yang membantu menghargai diri sendiri sekaligus memberi ruang untuk merasakan beragam emosi.
Infertilitas mempunyai beragam penyebab sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan. Jika Bunda sedang menjalani program hamil, tetap ikuti pemeriksaan dan pengobatan yang diberikan dokter.
Bunda juga tidak perlu merasa bersalah jika afirmasi tertentu tidak langsung membikin emosi menjadi lebih baik. Perjalanan infertilitas memang dapat menghadirkan beragam emosi yang tidak selalu mudah untuk dihadapi.
Yang terpenting, Bunda tidak kudu menjalani semuanya seorang diri. Dukungan dari pasangan, keluarga, kawan yang dipercaya, tenaga kesehatan, maupun ahli kesehatan mental dapat membantu ketika perjalanan ini terasa terlalu berat.
Afirmasi sederhana mungkin tidak mengubah hasil pemeriksaan, tetapi bisa menjadi pengingat bahwa Bunda tetap layak mendapatkan kebaikan, dukungan, dan ruang untuk merasakan beragam emosi selama menjalani perjalanan infertilitas.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)