Makanan Ini Ternyata Bisa Mengandung Racun Sianida, RI Masuk 4 Besar Produsen Dunia

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 3 menit 117x dilihat
Makanan Ini Ternyata Bisa Mengandung Racun Sianida, RI Masuk 4 Besar Produsen Dunia

Bagikan Postingan

Sebuah kasus keracunan makanan hamil racun sianida pernah terjadi di Hong Kong. Centre for Food Safety (CFS) saat itu menyarankan penduduk untuk menghindari sebuah produk camilan asal Australia.

Hal ini terjadi karena terdapat kadar glikosida sianogenik alami yang tinggi, pada bahan singkong dalam satu batch camilan yang diekspor dari Australia tersebut.

Kasus ini memicu sorotan terhadap singkong yang telah durasi dijadikan sebagai makanan pokok bagi sebagian orang. Ternyata, makanan yang satu ini berpotensi memproduksi hidrogen sianida jika salah dalam proses pengolahan. Untuk klarifikasi lebih lanjut, ayo simak keterangan berikut ini, Bunda.


Singkong bisa hamil racun sianida jika salah olah

Singkong telah durasi menjadi sumber karbohidrat yang sering diolah jadi beragam jenis makanan. Tidak jarang olahan singkong seperti keripik ditemukan di beragam tempat.  Food and Agriculture Organization mengungkapkan bahwa singkong adalah sumber kalori ketiga terpenting di daerah tropis, setelah beras dan jagung.  

Dalam singkong, terkandung glikosida sianogenik yang merupakan sekelompok senyawa kimia yang secara alami ditemukan pada lebih dari 2.000 jenis tumbuhan. Melansir halaman Centre for Food Safety, setidaknya ada 25 glikosida sianogenik yang ditemukan di bagiankecil flora yang dapat dimakan. 

Glikosida sianogenik saja umumnya tidak beracun. Namun, proses enzimatik yang terjadi di dalam tubuh manusia bisa mengurainya menjadi hidrogen sianida, salah satu bentuk racun sianida yang paling beracun.

Namun, dikutip halaman detikcom, tidak semua jenis singkong menghasilkan senyawa sianida dalam jumlah besar. Jenis singkong yang biasa dikonsumsi sehari-hari umumnya menghasilkan sianida dalam jumlah sangat kecil, dan kadarnya semakin berkurang dengan pengolahan yang benar.

Keracunan sianida pada manusia ditandai dengan pernapasan cepat, penurunan tekanan darah, degub nadi cepat, pusing, sakit kepala, nyeri perut, muntah, diare, dan kejang. Kematian akibat keracunan sianida dapat terjadi jika kadar sianida melampaui batas yang dapat didetoksifikasi oleh individu. 

Dosis mematikan akut hidrogen sianida pada manusia berkisar antara  0,5 hingga 3,5 mg per kilogram bermutu badan. Keracunan sianida sangat berisiko pada anak-anak, karena ukuran tubuh mereka yang lebih kecil. 

Indonesia negara penghasil singkong terbanyak keempat dunia

Indonesia menempati posisi empat sebagai negara penghasil singkong terbanyak di dunia.  Merujuk halaman Kominfo Jatim, Nigeria menghasilkan sebanyak 57 juta ton singkong, disusul Thailand dengan 30 juta ton, Brasil 23 juta ton dan Indonesia 19-20 juta ton. 

Ahli Gizi, dr. Dian Kusuma Dewi menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi singkong yang cukup besar. “Kita punya potensi singkong cukup besar. Saat ini penghasil singkong eksis di Lampung , Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Bahkan Indonesia adalah empat negara terbesar bumi penghasil singkong. Jadi sayang tidak jika dimanfaatkan,” katanya, dilansir halaman Kominfo. 

Ada beragam jenis singkong yang ada di Indonesia. Sentra produksi singkong tersebar di 13 provinsi. Singkong jadi salah satu pangan populer sebagai makanan pokok maupun bahan baku pangan olahan di  Gunungkidul, Yogyakarta. Bagi penduduk setempat, tidak terlalu sulit mengenali singkong beracun dengan kadar sianida yang lebih tinggi dibanding singkong biasa.

"Singkong yang beracun biasanya tangkai daunnya sangat merah. Kulit ubinya, jika dikupas juga bukan putih melainkan merah. Singkong seperti itu, daunnya juga 'mendemi' (bikin keracunan) jika tidak dimasak dengan benar," kata Kusrini, seorang penduduk Gunungkidul yang menanam beragam jenis singkong di pekarangannya, dilansir detikhealth.

Demikian bahasan makanan yang bisa menyebabkan racun sianida dan banyak dihasilkan oleh petani di Indonesia.

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads