Makin Canggih, AI Kelak Bisa Bantu Pemilihan Sperma dan Embrio untuk Sukseskan IVF

Aug 09, 2026 09:35 PM - 1 hari yang lalu 110

Jakarta -

Gangguan pada sperma dengan persoalan apa pun memang dapat mengganggu program kehamilan. Namun tak perlu khawatir, Bun, lantaran ke depannya kecanggihan teknologi semakin membantu hambatan tersebut. Makin canggih, AI kelak bisa bantu pemilihan sperma dan embrio untuk sukseskan IVF.

Peluang keberhasilan program bayi tabung alias Fertilisasi in Vitro (IVF) memang tidak aja agunan sukses 100 persen, sehingga celah-celah kegagalan terus diperbaiki semaksimal mungkin agar keberhasilannya semakin tinggi setiap waktu.

Seiring dengan kecanggihan teknologi, perusahaan-perusahaan yang bergerak di upaya kesuburan melibatkan artificial intelligence (AI) sebagai kepintaran buatan serta mendorong teknologi lainnya untuk meningkatkan kesempatan keberhasilan IVF.


IVF sendiri merupakan teknologi reproduksi yang revolusioner. Selama lebih dari 40 tahun, teknologi ini telah membantu jutaan orang yang mungkin tidak dapat mempunyai anak jadi mempunyai angan untuk menjadi orang tua. Melalui IVF, pada 2024 ada lebih dari 100 ribu bayi lahir di AS. Meskipun nomor tersebut cukup tinggi, namun beberapa mahir kesuburan percaya bahwa AI secara mutakhir dapat lebih meningkatkan kesempatan keberhasilan kehamilan.

Teknologi IVF dan AI

Secara keberhasilan, hasil IVF yang positif memang bervariasi dari orang ke orang. Pada 2022, persentase keberhasilan kelahiran yang dibantu teknologi reproduksi hanya 37.5 persen di semua golongan usia. Peluang keberhasilan juga condong menurun seiring bertambahnya usia, meski nomor pastinya berbeda tergantung kondisi pasien dan metode ART yang digunakan, mengutip pernyataan the U.S. Centers for Disease Control and Prevention.

Para pendukung AI beranggapan bahwa teknologi ini dapat membantu memprediksi keberhasilan kehamilan dengan lebih baik dan memindai embrio untuk kualitas dan kondisi genetik yang mungkin memengaruhi kesempatan keberhasilan kelahiran. Namun, tidak semua mahir begitu optimis mengenai perihal tersebut.

Beberapa peneliti beranggapan bahwa penyaringan embrio berbasis AI, terutama untuk sifat-sifat yang dapat diamati seperti tinggi badan alias warna mata, menimbulkan pertanyaan etis yang mendalam. Tidak jelas apakah perangkat AI membawa akibat yang lebih rendah daripada protokol pengetesan genetik yang ada, alias apakah perangkat tersebut apalagi dapat memperkenalkan akibat baru seperti ancaman terhadap privasi data.

"Sama seperti masyarakat luas yang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan ini tentang kerangka kerja untuk AI, saya pikir bahwa penyedia reproduksi berbantuan perlu melakukan perihal yang sama,” kata Mina Alikani, seorang mahir embriologi klinis dan mahir reproduksi.

Namun demikian, teknologi AI sudah memberikan pengaruh pada IVF, khususnya dalam langkah seleksi embrio berbasis morfologi dilakukan. Aplikasi klinis sebagai pembelajaran mendalam digunakan untuk menilai apakah morfologi gamet bakal berkontribusi pada keberhasilan pembuahan alias untuk menyaring embrio untuk penampilan spesifik dan sifat-sifat lainnya, termasuk disabilitas intelektual.

Biasanya, seorang mahir embriologi memeriksa embrio yang dihasilkan melalui IVF dan menilai kualitasnya berasas karakter morfologi. Namun, AI berpotensi membantu proses tersebut. Sebuah systematic review pada 2023 menemukan bahwa, ketika kajian gambar alias time-lapse embrio dikombinasikan dengan info klinis, model AI mempunyai median kecermatan 81,5 persen dalam memprediksi kemungkinan terjadinya kehamilan klinis, dibandingkan 51 persen pada mahir embriologi.

Namun, nomor tersebut merupakan hasil prediksi dalam penelitian dan belum menunjukkan bahwa AI terbukti meningkatkan nomor kelahiran hidup alias keberhasilan IVF dalam praktik klinis.

Dari sana, klinik kesuburan pun memperhatikan perihal tersebut. Beberapa platform AI, seperti Cercle, melatih model berasas informasi hormonal, fisiologis, dan motilitas sperma yang dikumpulkan dari prosedur IVF. Dan, program yang dilatih berasas informasi ini mungkin dapat memprediksi dengan lebih baik apakah sel telur dan sperma tertentu bakal menghasilkan kehamilan yang sukses.

Menurut perusahaan rintisan kesuburan Herasight, AI dapat membantu membikin ketidakpastian itu lebih mudah dipahami. Dengan menggabungkan kumpulan informasi besar dari sumber seperti HFEA, SART, dan literatur klinis, kita dapat memodelkan berapa banyak sel telur, blastokista, embrio euploid, dan akhirnya kelahiran hidup yang secara realistis mungkin didapatkan pasien.

Uji coba pemilihan sperma dan embrio oleh AI 

Sebuah uji coba terkontrol random mini dari tahun 2025 menemukan bahwa AI sama baiknya, daripada metode pemilihan embrio tradisional. Namun, berasas literatur terkini, “Sistem AI menunjukkan potensi dalam membantu seleksi sel telur, embrio, dan sperma, tetapi belum secara konsisten divalidasi untuk meningkatkan hasil klinis alias menggantikan penilaian mahir embriologi,” kata Alikani.

Namun realitanya saat ini, pengetahuan tentang keahlian AI dalam teknologi reproduksi berbantuan tetap terbatas. Hanya ada beberapa uji coba terkontrol random yang menguji efektivitasnya dalam meningkatkan hasil IVF. Karena prosedur pengumpulan informasi terus berubah dan bervariasi dari satu negara ke negara lain alias apalagi dari satu klinik ke klinik lain, maka sangat susah untuk mensintesis kumpulan informasi besar untuk membantu menstandarisasi sistem penilaian embrio berbasis AI.

“Ini seperti Menara Babel,” kata David Sable, seorang mahir endokrinologi reproduksi dan personil fakultas tambahan di Universitas Columbia.

Dalam sebuah makalah tahun 2025, Alikani dan rekannya menguraikan gimana standarisasi teknologi otomatisasi di seluruh laboratorium dan klinik dapat meningkatkan tingkat keberhasilan IVF.

Sementara itu, dalam tinjauan lain di 2025, sebuah tim intelektual beranggapan bahwa presisi kudu menjadi prinsip pedoman penggunaan AI dalam IVF.

“Personalisasi protokol stimulasi ovarium, seleksi gamet, dan catatan serta seleksi embrio adalah area kritis di mana AI dapat memberikan faedah yang signifikan,” tulis para penulis.

Meski demikian, mereka juga memperingatkan bahwa tetap terlalu awal untuk mengatakan apakah teknologi ini berhasil. “Integrasi AI ke dalam IVF menjanjikan kemajuan dalam perawatan pasien, tetapi potensi klinisnya memerlukan pertimbangan yang jeli dan penyempurnaan yang berkelanjutan.”

Tantangan selanjutnya

Tantangan lainnya bagi IVF yang dibantu AI adalah teknologi reproduksi ini tergolong tetap baru dibandingkan dengan praktik medis lain yang lebih mapan, seperti bakteriologi. "IVF merupakan prosedur yang belum sepenuhnya matang dan industrinya pun demikian; aksesnya biasanya terbatas pada segelintir orang saja," ujar Sable. Satu siklus IVF bisa menelan biaya hingga USD50 ribu. Hal ini pun pada akhirnya menentukan siapa yang dapat mengakses perawatan kesuburan dan prosedur apa yang mungkin mereka pilih.

Sable juga beranggapan bahwa jika peneliti menggunakan kumpulan informasi pasien untuk melatih program AI baru, informasi tersebut kudu dianonimkan agar tidak dapat disalahgunakan untuk tujuan yang tidak semestinya." Kebocoran informasi kesehatan dapat menakut-nakuti privasi pasien dan menyantap biaya miliaran bagi industri kesehatan untuk menanganinya. Selain itu, model AI juga bisa mengalami "halusinasi" yang membikin kesalahan alias apalagi menghasilkan informasi palsu.

Di sisi lain, teknologi lain yang sekarang digunakan dalam IVF mengisyaratkan bahwa AI mungkin bakal segera terintegrasi, meskipun dampaknya terhadap keberhasilan kehamilan dan kelahiran mungkin kecil.

Pada praktiknya, kurang lebih tingkat keberhasilan IVF paling tinggi hanya mencapai 50 persen, namun biasanya lebih rendah, apalagi dalam kondisi terbaik sekalipun, ujar Alikani. Itulah sebabnya banyak klinik kesuburan mulai beranjak ke AI untuk mencoba meningkatkan kesempatan keberhasilan tersebut seperti dikutip dari laman Scientificamerican.

"Ada kemungkinan kita bisa mencapai nomor di atas 50 persen dalam waktu yang lebih singkat dari yang kita duga alias bayangkan dengan menggunakan AI, katanya. Namun saat ini, bukti yang ada tidak menunjukkan bahwa penerapan algoritma AI memberikan hasil yang lebih unggul."

Wah, semoga ke depannya bisa lebih sempurna lagi penerapan kombinasi teknolgi AI dalam program IVF untuk meningkatkan kesempatan keberhasilan ya, Bun.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya