Jakarta -
Di tengah maraknya berita pemutusan hubungan kerja (PHK) di bagian teknologi, semakin banyak perusahaan mencari tenaga kerja yang bisa memanfaatkan teknologi kepintaran buatan (AI).
Perubahan ini juga berakibat pada para pekerja pemula dan mereka yang mau kembali bekerja setelah sempat vakum.
Tugas-tugas dasar yang sebelumnya mungkin banyak dikerjakan lulusan baru sekarang mulai dibantu oleh AI, sehingga perusahaan lebih mengutamakan kandidat yang bisa berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menggunakan teknologi sebagai perangkat pendukung kerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, bukan berfaedah AI menggantikan seluruh pekerjaan manusia. Justru di sejumlah bidang, seperti keamanan siber, pengelolaan data, hingga pengembangan aplikasi berbasis AI, kebutuhan tenaga kerja tetap terus meningkat.
Oleh lantaran itu, mempelajari keahlian digital dan memahami langkah memanfaatkan AI dapat menjadi bekal krusial untuk menghadapi bumi kerja yang terus berubah.
Keterampilan apa yang tetap dicari perusahaan teknologi?
Dilansir TECH TiMES, pasar kerja di industri teknologi pada 1 Juni 2026 menunjukkan dua kebenaran yang saling berkaitan.
Data dari TrueUp mencatat ada 148.092 pekerja yang kehilangan pekerjaan sejak 1 Januari 2026. Angka ini setara dengan rata-rata 981 PHK per hari, alias 46 persen lebih tinggi dibanding rata-rata tahun 2025.
Di sisi lain, laporan NACE Job Outlook 2026 menemukan bahwa permintaan terhadap keahlian AI untuk posisi entry-level nyaris tiga kali lipat dibanding musim gugur 2025. Kini, keahlian AI tercantum dalam 35 persen lowongan kerja bagi pekerja yang baru memulai karier.
Bagi mereka yang mau masuk alias kembali ke bumi kerja teknologi, dua nomor tersebut menggambarkan satu realita yang sama, ialah penjelasan pekerjaan telah berubah jauh lebih sigap dibanding kesiapan sebagian besar pelamar.
Dampak terbesar terlihat pada pekerja muda. Laporan AI Index 2026 dari Stanford menemukan bahwa jumlah pekerjaan untuk software developer berumur 22-25 tahun turun nyaris 20 persen sejak 2024.
Kelompok usia ini adalah generasi yang mulai bekerja saat perangkat AI generatif menjadi standar di perusahaan-perusahaan besar. Sebaliknya, jumlah pekerja berumur 30 tahun ke atas di perusahaan yang sama justru meningkat antara 6-12 persen.
AI tidak menghapus pekerjaan software engineer, tetapi mengurangi kebutuhan bakal tugas-tugas yang selama ini sering diberikan kepada programmer junior, seperti menulis kode dasar, melakukan pengetesan rutin, dan memperbaiki bug sederhana.
Skill AI yang paling menguntungkan saat ini
Menurut laporan PwC Global AI Jobs Barometer 2025, pekerja dengan keahlian AI memperoleh penghasilan rata-rata 56 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memilikinya, Bunda.
Namun, kenaikan ini tidak merata. Untuk pekerja pemula, tambahan gajinya relatif kecil, sekitar 6 persen, lampau meningkat seiring bertambahnya pengalaman.
Yang memberi nilai lebih bukan sekadar pengetahuan tentang AI, melainkan keahlian menggunakan perangkat AI yang didukung fondasi teknis yang kuat. Keterampilan yang paling banyak dicari pada 2026 antara lain:
- LangChain
- Retrieval-Augmented Generation (RAG)
- Vector Database
- Framework Multi-Agent
- PyTorch
- TensorFlow
Namun, bagi entry-level, langkah yang lebih realistis adalah menunjukkan keahlian menggunakan AI dalam bagian yang sudah dikuasai, seperti pengembangan perangkat lunak, keamanan siber, alias operasional IT, daripada langsung beranjak menjadi peneliti machine learning.
Nah, itulah penjelasan terkait skill yang mempunyai kesempatan pekerjaan di bagian teknologi 2026 yang tetap dicari. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·