Jakarta -
Artis Meisya Siregar sekarang kudu menerima realita mengenai kondisi kesehatan putranya, Muhammad Bambang Arr Ray Bach alias yang berkawan disapa Bambang, menderita penyakit yang cukup serius.
Kabar ini cukup mengejutkan bagi Meisya, lantaran awalnya kondisi sang anak tampak segar bugar, Bunda. Bahkan, Bambang tetap tetap aktif menjalani kegiatannya seperti biasanya.
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Bambang didiagnosis menderita penyakit autoimun alias biasa juga dikenal dengan Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baru-baru ini, Bunda tiga anak ini menceritakan kondisi Bambang yang sempat mengalami penurunan trombosit hingga berada di nomor yang sangat rendah.
"Apa itu autoimun ITP? Aku juga baru dengar kemarin dari master begitu mengetahui trombositnya, Bambang tuh sampai terjun ke nomor 3.000. Terus master bilang, 'Mbak, Bambang kayaknya kudu langsung dibawa ke rumah sakit untuk rawat inap lantaran sepertinya diagnosanya adalah ITP," ujar Meisya saat berbincang dalam kegiatan Pagi-Pagi Ambyar, dikutip dari akun YouTube @TRANSTVofficial, Jumat (24/2/2026).
Meisya ceritakan perjalanan sang anak hingga didiagnosis autoimun
Sebagai Bunda, Meisya mengaku sempat tak menyangka dengan kondisi yang dialami putranya. Meisya dan sang suami, Bebi Romeo, apalagi sempat menolak realita tersebut.
"Aku sama Bebi sih sebenarnya tetap denial untuk bilang, 'Enggak deh, Bambang nih belum autoimun, belum autoimun gitu, lho'. Karena kebanyakan kebanyakan ITP ini untuk anak-anak tetap dikategorikan akut. Kalau udah dewasa terdeteksinya udah kronis dan bakal dibawa seumur hidupnya. Tapi, jika usia Bambang tuh mudah-mudahan ini hanya akut," ungkap Meisya.
Meisya kembali mencoba menjelaskan lebih lanjut mengenai penyakit autoimun yang dialami Bambang. Meisya membagikan pemahamannya mengenai kondisi tersebut.
"ITP itu apa? Singkatnya kita punya trombosit di dalam tubuh di mana trombosit ini melindungi. Jadi, jika misalnya terjadinya pendarahan dia tuh enggak bakal terjadi pembekuan darah gitu," katanya.
Menurutnya, trombosit itu krusial dalam proses pembekuan darah di dalam tubuh. Jika jumlahnya menurun drastis, kondisi ini bisa berbahaya, Bunda.
"Nah, trombosit ini jika turun itu bakal menyebabkan pendarahan dahsyat di organ, di luar, di mana pun. Nah, Bambang trombositnya 3.000 yang normalnya adalah 400.000," ujarnya.
Hal yang membuatnya semakin terkejut adalah lantaran kondisi ini tidak menunjukkan indikasi yang jelas di awal. Bambang diketahui hanya mengalami batuk dan pilek berkepanjangan.
"Itu enggak ada indikasi sama sekali. Jadi, Bambang awal mulanya batuk pilek berkepanjangan sampai sebulan lebih terus saya mikirnya alergi, lantaran anak-anakku ini alergi. Aku menganggap enteng," jelasnya.
"Ini catatan penting. Kita jangan anggap enteng alergi. Karena autoimun itu adalah alergi yang disepelekan," lanjutnya.
Lebih lanjut, kondisi putra Meisya ini semakin terlihat saat lendirnya keluar dari area mata. Hal ini yang membikin Meisya mulai berprasangka dan segera memeriksakan sang anak ke dokter.
"Sampai akhirnya dibawa ke master lantaran lendirnya sampai keluar dari mata. Itu mirip seperti papanya yang punya sinus kronis. Di bawalah ke dokter, 'Dok, ini Bambang matanya sampai keluar lendir?'. Ketahuanlah Bambang genetik sinus kronis," kata Meisya.
Setelah itu, Bambang sempat menjalani pengobatan dengan obat-obatan yang diberikan dokter. Kondisinya pun sempat membaik setelah beberapa hari. Namun, kondisi tak terduga kembali muncul saat Bambang mulai menunjukkan tanda lain pada tubuhnya.
"Tiba-tiba ada memar di badan Bambang. Aku udah mulai panik. Waduh, kenapa nih Bambang biru-biru, memar segala macam. Dari situ, akhirnya saya udah merasa ada yang enggak beres," kata Meisya.
Rasa resah tersebut mendorongnya untuk berkonsultasi kembali dengan dokter. Meisya pun memutuskan membawa Bambang ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan.
"Sampai saya bicara sama master sinusnya Bambang, 'Dok, kenapa ya kok Bambang begini? Aku langsung bawa ke rumah sakit kita ambil darah. Di situ baru ketahuan Bambang menderita autoimun," tutur Meisya.
Meisya ungkap pengobatan anak setelah idap autoimun
Dengan kondisi trombosit yang rendah, penanganan medis pun kudu dilakukan. Meisya mengungkapkan bahwa tidak banyak pilihan pengobatan yang bisa diambil saat itu selain terapi.
"Jadi, waktu itu enggak ada opsi selain terapi Intravenous Immunoglobulin (IVIG). Jadi, terapi IVIG adalah plasma darah dari ribuan dermawan sehat bentuknya adalah imun. Imun-imun sehatnya dikumpulkan ribuan dalam satu botol itu isinya bentuknya plasma darah yang sudah diolah," kata Meisya.
Dalam prosesnya, terapi ini dilakukan dengan dosis tertentu setiap harinya. Penanganan tersebut juga disatukan dengan obat lain untuk hasil yang lebih maksimal.
"Nah, itu satu hari 3 botol, satu botolnya 5 ml. Jadi dalam sehari 15 ml, selama 3 hari total 9 botol dan dikombinasikan dengan obat antiradang serta antipendarahan," jelasnya.
Meisya menjelaskan bahwa kondisi sang anak saat itu sudah cukup serius. Karena itu, diperlukan terapi yang bisa bekerja sigap dibandingkan dengan obat biasa.
"Karena jika kita pakai obat-obatan itu bakal lama, lantaran Bambang itu udah termasuk agak berat. Pilihannya kudu yang instan, yaitu IVIG" kata Meisya.
Selama menjalani perawatan, Meisya menyampaikan bahwa sang anak tidak mempunyai larangan khusus. Hanya saja, Bambang tidak boleh terlalu lelah, Bunda.
"Enggak ada pantangan, hanya sementara belum stabil, Bambang memang tidak boleh terlalu lelah," jelasnya.
Sebagai orang tua, Meisya terus memberikan perhatian pada proses pemulihan sang anak. Maka dari itu, kita doakan ya agar Bambang bisa segera pulih dan kembali sehat seperti sediakala.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·