Menteri Pppa Usulkan Gerbong Krl Perempuan Dipindah Ke Tengah, Netizen Menolak Keras

Apr 29, 2026 09:50 AM - 1 jam yang lalu 44

Jakarta -

Tabrakan antara Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo dengan kereta alias KRL commuter line di Stasiun Bekasi Timur banyak menyantap korban perempuan. Hal ini lantaran gerbong terdampak paling parah terjadi di gerbong unik perempuan, Bunda.

Buntut tragedi ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan agar gerbong KRL wanita bisa dipindah. Arifah menyarankan gerbong bisa ditempatkan di tengah rangkaian kereta.

"Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan jika bisa yang wanita itu ditaruh di tengah," kata Arifah kepada wartawan setelah menjenguk korban di RSUD Bekasi, Selasa (28/4/26).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Arifah mengaku telah berkoordinasi dengan pihak KAI sekaligus menanyakan gerbong unik wanita ini. Ia juga sudah mendapat penjelasan dari KAI mengenai posisi gerbong wanita di posisi depan alias belakang kereta.

"Tadi jika tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, agar tidak terjadi rebutan," ujarnya.

Setelah terjadi kecelakaan fatal ini, Arifah mengusulkan perubahan. Ia meminta gerbong yang di ujung tak lagi dikhususkan untuk perempuan, melainkan menjadi gerbong laki-laki.

"Jadi yang laki-laki di ujung. Depan belakang itu laki-laki, jadi yang wanita di tengah gitu," ungkapnya.

Perlu diketahui, tabrakan antara KAJJ Argo Bromo dengan kereta commuter line di Stasiun Bekasi Timur menyantap korban meninggal bumi sebanyak 15 orang. Sementara itu, puluhan penumpang lainnya mengalami luka-luka.

Tragedi tabrakan ini terjadi pada Senin (27/4/26) malam, Bunda. Akibat tabrakan ini, kedua rangkaian kereta mengalami kerusakan parah. Bagian depan dari KAJJ apalagi sampai menembus gerbong wanita kereta commuter line.

Dalam keterangan kepada media, Kabasarnas Mayjen M Syafii, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pemindahan pada korban yang terjebak di dalam kereta. Menurutnya, kebanyakan korban adalah perempuan.

"100 persen yang kita pemindahan (korban) perempuan," kata M Syafii, Selasa (28/4/26).

Tuai kritikan netizen

Usulan ini pun menuai beragam reaksi dari netizen. Banyak yang berpendapat, usul tersebut bukan merupakan solusi tepat untuk mencegah musibah pada moda transportasi umum itu.

Pada akun Instagram @detiknewsofficial, beberapa netizen memberikan komentar dan kritik. "Maksudnya laki2 gapapa gitu kalo jd korban nya ? Bertanya dengan nada - nada cinta," tulis @allb***.

"Kok solusinya asing ya.. secara gak langsung mengorbankan kaum laki-laki ya.." tulis @popi***.

"Pokok masalahnya bukan itu Ibu. Kenapa bukan palang pintu yang diperketat alias komunikasi antar kereta yang diperbaiki," tulis @mkdr***.

"Solusi yang bukan solusi. Mau dipindah ke tengah pun jika terjadi kecelakaan tetap saja jumlah korbannya bakal tetap banyak. Solusi untuk kejadian ini ya perbaikan sistem keselamatan seperti pemasanganATS (Automatic Train Stop)," tulis akun @izza***.

Lantas, seperti apa proses pemindahan korban tabrakan kereta di Bekasi?

TERUSKAN MEMBACA DI SINI.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Selengkapnya