Jakarta -
Bunda kebayang nggak sih pas mengandung dan berada dalam kondisi darurat, tapi tidak ada satu pun rumah sakit yang bisa menerima. Itulah yang dialami seorang ibu mengandung di Korea Selatan. Dalam kondisi memerlukan pertolongan medis, dia justru kudu berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain dan ditolak hingga 16 kali.
Kisah ini pertama kali dilaporkan oleh The Korea Times, dan langsung menyita perhatian publik lantaran begitu memilukan. Berikut kisahnya:
Berjuang mencari pertolongan di tengah kondisi darurat
Ibu tersebut diketahui tengah mengandung sekitar 20 minggu ketika mengalami kondisi darurat. Ia segera dilarikan menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan. Namun, angan untuk segera ditangani kudu pupus berkali-kali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah sakit yang didatangi satu per satu menolak dengan beragam alasan, termasuk tempat tidur penuh, tidak adanya master kandungan yang siaga, alias master yang sudah sibuk dengan prosedur darurat.
Dikutip dari The Korean Times, menurut Markas Besar Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Daegu, panggilan masuk pada pukul 2 pagi tanggal 25 Maret melaporkan bahwa wanita tersebut, yang tinggal di rumah mertuanya di Distrik Dong, Daegu, menderita sakit perut.
Petugas tanggap darurat meminta Pusat Pengendalian Medis Darurat untuk mengatur transportasi ke rumah sakit, tetapi 16 unit persalinan di rumah sakit di Daegu dan Provinsi Gyeongsang Utara menolak untuk menerimanya.
Pusat pengendalian akhirnya memutuskan untuk memindahkan wanita tersebut ke rumah sakit di Asan, tempat dia menerima perawatan prenatal. Transportasi dimulai pukul 03.14 dan berhujung pukul 05.14, ketika dia tiba di rumah sakit setelah perjalanan selama dua jam.
“Wanita itu dalam kondisi stabil dan tidak menunjukkan tanda-tanda persalinan segera,” kata pusat pengendalian, menjelaskan keputusan untuk mengatur transfer jarak jauh sembari menekankan bahwa petugas darurat bekerja untuk memindahkannya secepat mungkin.
Bukan kejadian pertama
Ternyata ini bukan kasus pertama di Korea lho Bunda. Sebelumnya, pada 28 Februari, seorang ibu yang mengandung bayi kembar dan mengalami persalinan prematur di Daegu ditolak oleh tujuh rumah sakit besar di daerah tersebut sebelum menjalani operasi caesar empat jam kemudian di Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul Bundang di Seongnam, Provinsi Gyeonggi. Salah satu bayi yang baru lahir meninggal, sementara yang lainnya berada dalam kondisi kritis dengan kerusakan otak.
Kasus ini sejalan dengan meningkatnya jumlah kejadian di Daegu dengan pasien dipindahkan jarak jauh lantaran tidak ada rumah sakit terdekat yang dapat menerima kasus darurat. Di Daegu, jumlah rujukan ke luar daerah yang menyantap waktu lebih dari dua jam sejak kehadiran petugas darurat di letak kejadian hingga pasien tiba di rumah sakit mencapai tujuh kasus pada 2024, meningkat menjadi 13 kasus tahun lalu.
Kasus kritis dan darurat yang melibatkan kondisi seperti penyakit serebrovaskular, kebidanan dan ginekologi, serta pediatri menyumbang sebagian besar rujukan ke luar wilayah, yang mencerminkan kekurangan perawatan medis krusial dan kurangnya prasarana untuk perawatan khusus. Kasus lain melibatkan spesialisasi seperti oftalmologi dan urologi.
Eom Jun-wook, kepala Markas Besar Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Daegu, mengatakan pihak berkuasa bakal memprioritaskan penugasan personel unik ke Pusat Pengendalian Medis Darurat, termasuk perawat yang berilmu dalam bagian kebidanan, pediatri, dan perawatan trauma, serta paramedis tingkat 1.
Kenapa ini bisa terjadi?
Korea Selatan saat ini sedang menghadapi krisis nomor kelahiran yang sangat rendah. Pemerintah apalagi mendorong masyarakat untuk mempunyai anak. Namun di sisi lain, sistem kesehatannya justru belum sepenuhnya siap melindungi ibu mengandung dan bayi.
Meski terdengar susah dipercaya, ada beberapa argumen di kembali kondisi ini:
1. Kekurangan master kandungan dan master bayi
Di Korea Selatan, jumlah master ahli seperti obstetri (kandungan) dan neonatologi (bayi baru lahir) semakin berkurang. Profesi ini dianggap berisiko tinggi lantaran menyangkut nyawa ibu dan bayi dengan tekanan kerja besar. Akibatnya, tidak banyak master yang memilih jalur ini. Ketika tenaga medis terbatas, rumah sakit jadi kewalahan menangani pasien darurat, termasuk ibu hamil.
2. Fasilitas NICU yang terbatas
Tidak semua rumah sakit mempunyai NICU (Neonatal Intensive Care Unit), ialah ruang unik untuk merawat bayi prematur alias dalam kondisi kritis. Kalau akomodasi ini penuh alias tidak tersedia, rumah sakit biasanya tidak berani menerima pasien dengan akibat tinggi demi keselamatan ibu dan bayi itu sendiri.
3. Rumah sakit penuh dan minim kapasitas
Beberapa rumah sakit menolak pasien bukan lantaran tidak mau membantu, tapi karena:
- Tempat tidur penuh
- Alat medis terbatas
- Tidak ada tim yang siap siaga
Dalam kondisi seperti ini, mereka terpaksa mengarahkan pasien ke rumah sakit lain.
4. Dampak krisis tenaga kesehatan nasional
Sejak beberapa waktu terakhir, Korea Selatan menghadapi krisis di sektor medis. Banyak master residen mengundurkan diri alias melakukan tindakan protes, yang dikenal sebagai 2024–2026 South Korean medical crisis. Hal ini membikin jasa di banyak rumah sakit jadi tidak optimal.
5. Sistem rujukan yang belum siap untuk kondisi darurat
Idealnya, pasien darurat langsung diarahkan ke rumah sakit yang siap. Namun dalam kasus ini, sistem rujukan tidak melangkah cepat. Akibatnya, pasien kudu “berpindah-pindah” sendiri hingga menemukan rumah sakit yang bisa menerima.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·