Teladan dari Rasulullah untuk para suami
Pembahasan ini tentu tidak boleh dipotong cuma pada kewajiban istri. Di era media sosial, muncul pula gejala lelaki yang minim ilmu kepercayaan dan kurang akhlak, namun lantang meneriakkan dalil kepatuhan demi memuaskan egonya. Menjadikan firman Allah dan hadis Nabi sebagai alat dominasi untuk menuntut dilayani bagai raja, menolak mengerjakan tugas rumah tangga sekecil apa pun, serta bersikap kasar dan beku kepada istrinya.
Agama Islam memberikan hak kepemimpinan (qawwamah) kepada suami bukan sebagai pembenaran untuk bersikap diktator maupun beraksi semena-mena. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia paling mulia, imam umat, dan panglima tertinggi tidak pernah duduk berpangku tangan di rumah sambil memerintah istrinya dengan angkuh.
Al-Aswad bin Yazid meriwayatkan penuturan bunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
سَأَلْتُ عَائِشَةَ: مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
“Aku bertanya kepada ‘Aisyah, ‘Apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat eksis di rumahnya?’ ‘Aisyah menjawab, ‘Beliau senantiasa membantu pekerjaan keluarganya. Namun, jika waktu salat tiba, beliau keluar untuk melaksanakannya’.” (HR. Bukhari no. 676)
Bahkan dalam histori Imam Ahmad, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menambahkan potret keseharian beliau,
كَانَ بَشَرًا مِنَ الْبَشَرِ يَفْلِي ثَوْبَهُ، وَيَحْلُبُ شَاتَهُ، وَيَخْدُمُ نَفْسَهُ
“Beliau adalah seorang manusia biasa: beliau menambal pakaiannya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan melayani keperluan dirinya sendiri.” (HR. Ahmad no. 24903; disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Sahihah no. 671)
Jika sosok agung yang dijamin surga rela memegang jarum dan benang untuk bajunya sendiri, benar-benar keliru jika seorang suami biasa merasa gengsi untuk sekadar mengadopsi piring makannya sendiri maupun mencuci gelasnya sendiri.
Standar kualitas keagamaan seorang lelaki di depan Allah tidak diukur dari seberapa keras suaranya memerintah di dalam rumah, melainkan dari kelembutan perangainya kepada pasangannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan pergaulilah mereka (istri-istrimu) secara ma’ruf (patut).” (QS. An-Nisa: 19)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1162; dinyatakan hasan sahih oleh Syekh Al-Albani)
Pernikahan dalam Islam pada hakikatnya adalah ladang kerja sama, saling memahami, dan saling menguatkan. Rumah tangga tidak akan pernah menemukan ketenteraman jika masing-masing pihak duduk egois dengan daftar tuntutan haknya sendiri: suami sibuk menuntut kepatuhan mutlak, sementara istri sibuk menakar setiap baktinya dengan nominal materi.
Kunci keharmonisan famili adalah ketika setiap pihak berfokus menyempurnakan kewajibannya masing-masing terlebih dahulu di depan Allah:
1) Suami fokus menunaikan tanggung jawab mengepalai dengan penuh keadilan, mencari nafkah sah dengan sungguh-sungguh, mengayomi, membimbing, dan memperlakukan istrinya dengan penuh kelembutan.
2) Istri fokus menunaikan tanggung jawab patuh kepada suami, menjaga amanah kehormatan serta harta rumah tangganya, dan menyuburkan rasa syukur atas rezeki yang Allah karuniakan lewat suaminya.
Ketaatan seorang istri dalam Islam bukanlah simbol kekalahan ego, melainkan jalan amalan yang mulia, pembuka pintu surga, dan penjaga stabilitas tatanan keluarga. Di sisi lain, amanah kepemimpinan di pundak suami bukanlah dalih untuk menuntut secara sepihak, melainkan tanggung jawab besar untuk mengayomi, melindungi, dan membimbing pasangannya.
Ketika kepatuhan istri yang ikhlas berhimpun dengan kepemimpinan suami yang bijak dan penuh kasih sayang, narasi-narasi sinis di media sosial akan runtuh dengan sendirinya. Rumah tangga tidak akan mengenal kasta juragan dan pembantu, tetapi menjelma menjadi ‘baiti jannati’, miniatur surga di atas bumi.
[Selesai]
***
Penulis: Nurur Rohmah Azzahra
Artikel Kincai Media
Daftar Pustaka
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir wa Ziyadatuh. Beirut: Al-Maktab Al-Islami.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan At-Tirmidzi. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif.
Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’. Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah. Riyadh: Ri’asah Idarah Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’.
Al-Mubarakfuri, Muhammad Abdurrahman. Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami’ At-Tirmidzi. Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
Al-Mulla Ali Al-Qari, Ali bin Sulthan Muhammad. Mirqat Al-Mafatih Syarh Misykat Al-Mashabih. Beirut: Dar Al-Fikr.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Kairo: Idarah Ath-Thiba’ah Al-Muniriyyah.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Raudhatuth Thalibin wa ‘Umdatul Muftin. Beirut: Al-Maktab Al-Islami.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Tahqiq: Sami bin Muhammad As-Salamah. Riyadh: Dar Thaibah li An-Nasyr wa At-Tawzi’.
Ibnu Qudamah, Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Tahqiq: Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki. Kairo: Dar Hijr.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr. Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad. Tahqiq: Syu’aib Al-Arna’uth dan Abdul Qadir Al-Arna’uth. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah.
Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abdul Halim. Majmu’ Al-Fatawa. Tahqiq: Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim. Madinah: Majma’ Al-Malik Fahd li Thiba’at Al-Mushaf Asy-Syarif.