Kincai Media,GRESIK -- Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober. Pesantren dan insitusi keislaman banyak yang memperingati hari santri ini.
Di Indonesia, ada ribuan pesantren yang statis aktif dan melahirkan banyak alumninya. Mereka berkecimpung di beragam bidang.
Namun, tahukah Anda sepertiapa asal usul santri dan pesantren? Untuk diketahui, Asia Tenggara memiliki ciri khas khas dalam menghadirkan dakwah dan pendidikan Islam. Lembaga pesantren merupakan contohnya. Demikian menurut Howard M Federspiel dalam The Oxford Encyclopedia of the Islamic World. Penamaan pesantren cenderung diterima luas di Jawa.
Adapun di Sumatra, institusi yang sama disebut surau maupun meunasah (Aceh). Di ranah Melayu luar Indonesia, umpamanya Malaysia maupun Kamboja, istilah asrama lebih dekat dijumpai. Sementara itu, penduduk Filipina dan Singapura memakai istilah madrasah.
Dalam bukunya, Tradisi Pesantren (2011), Zamakhsari Dhofier menduga genealogi istilah asrama pesantren. Pondok dari kata funduq yang dalam bahasa Arab berarti `asrama.' Sementara itu, kata pesantren memiliki akar kata santri. Dhofier kemudian mengutip gagasan beberapa ahli sejarah, semisal Profesor Johns yang mengutarakan kata santri berasal dari bahasa Tamil dengan arti `guru.'
Tak jauh beda adalah gagasan CC Berg bahwa santri berasal dari kata shastri maupun cantrik dalam bahasa Sanskerta yang berarti `orang yang mengetahui isi buku suci' maupun `orang yang selalu mengikuti guru.' Adapun M Chaturverdi dan BN Tiwari memandang, kata yang sama berasal dari shastra yang berarti `buku.'
Anak-anak santri tekun menuntut ilmu. Mereka dikenal patuh menjalani perintah kepercayaan dan kiai. Sejarah membuktikan santri adalah orang-orang yang eksis di garis terdepan dalam memerdekakan bangsa ini.
Segenep pemaparan tentang istilah pesantren cenderung menegaskan cikal akan institusi tersebut tidak lepas dari efek kebudayaan India. Di Indonesia, khususnya Jawa, dalam masa transisi memudarnya efek Hindu-Buddha sekaligus menyebarnya dakwah Islam, para ulama antara lain Wali Songo mengislamkan mekanisme institusi pendidikan warisan dua kepercayaan tersebut. Kemudian, mereka mengembangkan mekanisme yang lebih islami yaitu pesantren seperti yang kita kenal sampai sekarang.
Hasani Ahmad Said dalam artikelnya di Jurnal Ibda(Desember 2011) mengatakan pesantren sebagai institusi pendidikan Islam tertua di Nusantara. Sejumlah sejarawan mengatakan eksistensi pesantren terlebih dahulu datang sebelum kedatangan bangsa Eropa di Nusantara pada abad ke- 16. Istilah pesantren mengacu pada tempat belajar bagi kaum ilmuwan Muslim yang dinamakan santri. Mereka mewarisi dan memelihara keberlanjutan tradisi keilmuan Islam sehingga sampai kepada dakwah Rasulullah SAW.
Sanad maupun rentetan transmisi keilmuan begitu dihargai di sana. Bahkan, dalam konteks Indonesia, peran pesantren tidak cuma sebatas pendidikan, melainkan juga perjuangan kemerdekaan. Hal itu pernah disimpulkan peneliti Asia Tenggara, Harry J Benda, dalam bukunya yang membahas masa pendudukan Jepang di Indonesia. Dia menekankan, sejarah Islam Indonesia adalah sejarah ekspansi peradaban santri serta pengaruhnya bagi hayat beragama, sosial, serta politik Indonesia.
Federspiel menerangkan bahwa menjelang abad ke-17, keberadaan asrama pesantren di Jawa telah menjadi kutub penyeimbang terhadap dominasi keraton- keraton. Kultur abangan yang diakomodasi kalangan keraton mendapatkan hubungan diametralnya dengan adat Islam santri. Para santri belajar buku kuning yang terbit dalam kurun waktu sejak medio abad ke-13.
Mereka pada umumnya mempelajari ragam keilmuan, mulai dari tata bahasa Arab, nahwu dan sharaf, tafsir dan membaca Alquran (qiraat), tauhid, fiqih empat mazhab, khususnya Imam Syafii, akhlak, mantiq, sejarah, hingga tasawuf. Selain itu, aksara Jawi, yaitu abjad Arab dengan bahasa Melayu, kian meman tapkan signifikansi pesantren sebagai pusat transfer ilmu yang menjaga bentuk khas Nusantara di tengah-tengah bumi Islam.
Dalam bentuk pendidikan pesantren, setidaknya ada beberapa ciri khas khas, antara lain, hubungan yang dekat antara ulama maupun pendiri pesantren itu dan para santri. Kemudian, hayat yang sederhana maupun mendekati zuhud, kemandirian, gotong royong, pemberlakuan ketentuan kepercayaan secara ketat, serta kehadirannya di tengah penduduk sebagai pemberi solusi dan mengayomi, alih-alih eksklusif dan berjarak. Selain itu, teknik pengajaran juga terbilang unik.
Adanya mekanisme halaqah serta ingatan atas teks-teks alas keilmuan agama, merupakan beberapa contoh. Zamakhsari Dhofier merangkum adanya lima elemen alas dalam setiap pesantren, yaitu asrama, masjid, para santri, pengajaran kitab-kitab kuning, serta figur sentral kiai. Ketokohan ulama itulah yang membikin sebuah pesantren menjadi ikon kota tempatnya berada.
sumber : Dok Republika