Mengenal Nama Allah “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 15 menit 339x dilihat
Mengenal Nama Allah “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”

Bagikan Postingan

Di antara esensi paling agung yang menjadi poros ketenteraman batin manusia adalah kesadaran bahwa lingkungan semesta beserta seluruh isinya tunduk di bawah dominasi satu Pencipta. Fitrah manusia dirancang untuk menyembah satu sesembahan. Tatkala hati terpecah menyembah banyak tandingan maupun menggantungkan harapan kepada makhluk yang serba lemah, batin akan terombang-ambing dalam kegelisahan yang tiada berujung. Ketenangan sejati baru akan bersemi manakala seorang hamba menyerahkan ketundukan, cinta, dan rasa takutnya cuma kepada Zat yang Maha Tunggal lagi Maha Berdiri Sendiri. Keagungan tauhid ini berpijak kokoh pada dua nama Allah yang sangat mulia, yaitu Al-Waahid dan Al-Ahad.

Memahami arti dua nama yang agung ini merupakan kunci pembuka gerbang keikhlasan sekaligus pembebas batin dari belenggu kesyirikan. Di dalamnya terkandung penegasan bahwa Allah Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam kerajaan-Nya, tidak ada tandingan dalam kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan tidak ada yang berkuasa diibadahi kecuali Diri-Nya semata. Pada artikel ini, kita akan menelusuri dalil-dalil penetapan nama Al-Waahid dan Al-Ahad di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, membedah arti kebahasaan serta perbedaan halus di antara kedua lafaz tersebut, menyelami klarifikasi para ulama salaf mengenai esensi keesaan Allah, dan memetik buah amaliah yang seharusnya terpatri dalam sanubari seorang mukmin. Semoga Allah senantiasa membimbing dan melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.

Dalil nama Allah “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”

Nama Allah Al-Waahid termaktub di dalam Al-Qur’an pada beragam tempat, baik berdiri sendiri maupun digandengkan dengan nama-Nya yang lain, seperti Al-Qahhaar (Yang Maha Menundukkan). Di antaranya pada firman Allah Ta’ala,

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

“Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada sesembahan yang berkuasa disembah melainkan Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)

Allah juga berfirman tatkala mengabarkan seruan dakwah Nabi Yusuf ‘alaihis salaam di dalam penjara,

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang beragam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan?” (QS. Yusuf: 39)

Dan firman-Nya tatkala menegaskan dominasi mutlak-Nya di hari kiamat,

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“(Yaitu) pada hari ketika mereka keluar (dari kubur); tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Menundukkan.” (QS. Ghafir: 16) [1]

Serta firman-Nya,

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لا يَمْلِكُونَ لأَنْفُسِهِمْ نَفْعاً وَلا ضَرّاً قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Katakanlah: Siapakah Rabb langit dan bumi? Katakanlah: Allah. Katakanlah: Patutkah kalian memungut pelindung-pelindung kecuali Allah, padahal mereka tidak dapat mendatangkan kemanfaatan dan tidak pula menolak kemudaratan bagi diri mereka sendiri? Katakanlah: Samakah orang buta dengan orang yang melihat, maupun samakah kegelapan dengan cahaya? Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua buatan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ar-Ra’d: 16)

Adapun nama Allah Al-Ahad, disebutkan secara jelas dan berdikari di dalam surat yang paling agung dalam perkara pemurnian tauhid, yaitu surah Al-Ikhlas,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1) [2]

Di dalam As-Sunnah an-Nabawiyyah, nama Al-Ahad dan Al-Waahid termaktub dalam doa yang sangat agung. Buraidah bin al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang sahabat berdoa dengan mengucapkan,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkaulah Allah, tidak ada sesembahan yang berkuasa disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa, Yang bersandar kepada-Nya segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada seorang pun yang sederajat dengan-Nya.”

Mendengar doa tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ

“Sungguh, dia telah memohon kepada Allah dengan Nama-Nya yang paling agung (Al-Ism Al-A’zham), yang jika Dia dimintai dengannya, niscaya Dia memberi; dan jika diseru dengannya, niscaya Dia mengabulkan.” (HR. Abu Daud no. 1493, At-Tirmidzi no. 3475, dan Ahmad no. 22965; dinilai sahih oleh Al-Albani) [3]

Demikian pula histori ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai seorang sahabat yang selalu menutup bahanbacaan salatnya dengan surah Al-Ikhlas. Ketika ditanya alasannya, sahabat tersebut menjawab, “Karena di dalamnya terdapat sifat Ar-Rahman, dan aku sangat mencintai membacanya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ

“Kabarkan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. Bukhari no. 7375 dan Muslim no. 813)

Rangkaian dalil di atas mempertegas bahwa sifat keesaan adalah inti dari seluruh risalah para Nabi dan Rasul, sekaligus pilar utama yang membedakan keagamaan dari kekafiran.

Kandungan arti nama Allah “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”

Untuk menangkap keagungan arti yang tersimpan di balik dua nama ini, kita perlu meninjau akar bahasanya terlebih dahulu, kemudian mengkaji perbedaan formasi lafaznya, serta menyelami jabaran para ulama salaf mengenai penetapan sifat keesaan bagi Allah Ta’ala.

Makna bahasa dari “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”

Kedua nama ini berakar dari abjad waw, haa’, dan dal (و – ح – د) yang memberitahu arti tunggal, menyendiri, dan tidak berbilang. Ibn Faaris memaparkan pokok asal kata ini,

الْوَاوُ وَالْحَاءُ وَالدَّالُ: أَصْلٌ وَاحِدٌ يَدُلُّ عَلَى الِانْفِرَادِ. مِنْ ذَلِكَ: الْوَحْدَةُ، وَهُوَ الِانْفِرَادُ. وَتَقُولُ: رَأَيْتُهُ وَحْدَهُ… وَالْوَاحِدُ: أَوَّلُ الْعَدَدِ، وَكَذَلِكَ الْأَحَدُ

“Huruf waw, haa’, dan dal adalah satu pokok arti yang memberitahu arti menyendiri (al-infiraad). Di antaranya adalah al-wahdah yang berarti keterasingan maupun kesendirian. Engkau mengatakan, ‘Aku melihatnya sendirian (wahdahu)…’ Dan Al-Waahid adalah pembuka bilangan, demikian pula Al-Ahad.” [4]

Al-Jauhari menguraikan kaidah bahasa mengenai kedua lafaz tersebut,

وَاحِدٌ: أَوَّلُ عَدَدِ الْحِسَابِ، وَتَقُولُ: وَاحِدٌ وَاثْنَانِ… وَالْأَحَدُ: بِمَعْنَى الْوَاحِدِ، وَهُوَ أَصْلُ الْبِنَاءِ، وَيُقَالُ: أَحَدٌ وَإِحْدَى

“Waahid adalah mula dari hitungan angka. Engkau mengucapkan: waahid, itsnan (satu, dua)… Dan Al-Ahad berarti sama dengan Al-Waahid, ia merupakan pondasi bangunan kata. Dikatakan pula untuk bentuk mudzakkar: ahad, dan bentuk muannats: ihda.” [5]

Ibn Manzhur merangkum pengertian ini dalam Lisan al-Arab,

فَاللَّهُ تَعَالَى هُوَ الْوَاحِدُ الْأَحَدُ الَّذِي لَا نَظِيرَ لَهُ وَلَا مِثْلَ، وَلَا شَرِيكَ لَهُ وَلَا صَاحِبَةَ وَلَا وَلَدَ

“Maka Allah Ta’ala, Dialah Al-Waahid Al-Ahad, Zat yang tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak ada yang semisal dengan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak memiliki istri, dan tidak pula memiliki anak.” [6]

Perbedaan bentuk lafaz dan gradasi arti antara “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”

Meskipun kedua nama ini berasal dari akar kata yang sama dan sama-sama memberitahu keesaan Allah Ta’ala, para ulama ahli bahasa dan kepercayaan merumuskan adanya perbedaan halus (furuq lughawiyyah wa ‘aqadiyyah) yang sangat mendalam di antara keduanya:

Penggunaan lafaz dalam kalimat positif (al-Itsbat) dan negatif (an-nafy)

Nama Al-Waahid dapat digunakan dalam formasi kalimat penetapan (itsbat) maupun peniadaan (nafy), serta lazim digunakan dalam hitungan bertingkat (al-‘adad), seperti: waahid, itsnan, tsalatsah (satu, dua, tiga). Adapun lafaz Al-Ahad, dalam kaidah bahasa Arab lazim tidak digunakan pada kalimat itsbat, melainkan cuma dalam kalimat nafy (peniadaan), seperti ungkapan, “Maa jaa-ani ahadun” (Tidak ada seorang pun yang datang kepadaku).

Namun, khusus bagi Allah Ta’ala, nama Al-Ahad digunakan dalam kalimat penetapan (itsbat), sebagaimana firman-Nya: Qul Huwallahu Ahad. Ini merupakan kekhususan absolut bagi Allah, yang memberitahu bahwa tidak ada sesuatu pun kecuali Dia yang berkuasa menyandang sifat tunggal secara berdikari dari segala sisi. [7]

Keesaan Zat berbanding dengan kesempurnaan sifat

Para ulama menerangkan bahwa Al-Waahid menonjolkan arti bahwa Allah itu Esa secara Zat dan bilangan, yaitu Zat-Nya satu, tidak terbagi-bagi, tidak tersusun dari bagian-bagian, dan tidak ada sekutu yang membantu-Nya dalam mencipta.

Sedangkan Al-Ahad mencakup arti yang lebih luas dan puncak, yaitu Allah Maha Esa dalam seluruh kesempurnaan sifat dan keagungan-Nya; tidak ada satu pun makhluk yang serupa, sebanding, maupun menyamai esensi sifat-sifat-Nya. [8]

Syekh Abdurrazzaq Al-Badr menerangkan kaitan elok antara kedua nama ini,

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ (الْوَاحِدَ) يُفِيدُ نَفْيَ الشَّرِيكِ وَالنَّظِيرِ، وَ(الْأَحَدَ) يُفِيدُ مَعَ ذَلِكَ نَفْيَ الْمِثْلِ وَالْكُفْءِ، فَلَا يُسْتَعْمَلُ (الْأَحَدُ) فِي الْإِثْبَاتِ إِلَّا لِلَّهِ تَعَالَى، لِأَنَّهُ لَا كُفْءَ لَهُ وَلَا نَظِيرَ لَهُ سُبْحَانَهُ

“Perbedaan antara keduanya adalah bahwa Al-Waahid memberikan faidah peniadaan sekutu dan tandingan; sedangkan Al-Ahad, di samping meniadakan sekutu, ia juga meniadakan segala bentuk permisalan dan kesetaraan. Maka nama Al-Ahad tidak pernah digunakan dalam kalimat itsbat (penetapan mutlak) kecuali cuma untuk Allah Ta’ala, karena tidak ada yang sederajat dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala.” [9]

Makna “Al-Waahid” dan “Al-Ahad” dalam konteks sifat Allah

Ketika sifat keesaan disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maknanya melingkupi kesempurnaan absolut yang menepis segala bentuk kekurangan yang biasa melekat pada konsep “satu” pada makhluk. Satu pada makhluk memberitahu kekurangan dan kelemahan; seorang manusia dikatakan sendirian karena ia tidak memiliki kawan pembantu. Adapun keesaan Allah adalah keesaan yang berhimpun dengan kemahaperkasaan, kemandirian, dan harta yang mutlak.

Abu Ja’far Ibn Jarir ath-Thabari menafsirkan firman Allah “Wa ilaahukum ilaahun waahid” dengan menyatakan,

وَإِلَهُكُمْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِلَهٌ وَاحِدٌ، يَقُولُ: مَعْبُودُكُمْ الَّذِي يَجِبُ عَلَيْكُمْ عِبَادَتُهُ، وَيَلْزَمُكُمْ طَاعَتُهُ، مَعْبُودٌ وَاحِدٌ، لَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ، فَلَا تُشْرِكُوا بِهِ غَيْرَهُ، وَلَا تَعْبُدُوا سِوَاهُ

“Dan Tuhan kalian, wahai sekalian manusia, adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maknanya: Sesembahan kalian yang wajib kalian ibadahi dan mesti kalian taati adalah sesembahan yang satu, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam uluhiyyah-Nya. Maka janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan janganlah kalian menyembah selain-Nya.” [10]

Az-Zajjaj merumuskan pengertian nama Al-Waahid secara ringkas dan padat,

الْوَاحِدُ هُوَ الَّذِي لَا ثَانِيَ لَهُ، وَلَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَا نَظِيرَ لَهُ، وَاللَّهُ تَعَالَى وَاحِدٌ فِي ذَاتِهِ، وَاحِدٌ فِي صِفَاتِهِ، وَاحِدٌ فِي أَفْعَالِهِ

“Al-Waahid adalah Zat yang tidak ada yang kedua bagi-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada tandingan bagi-Nya. Allah Ta’ala Maha Esa dalam Zat-Nya, Maha Esa dalam sifat-sifat-Nya, dan Maha Esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya.” [11]

Abu Sulaiman al-Khaththabi menerangkan esensi kedua nama ini dalam buku Sya’n ad-Du’aa’,

الْوَاحِدُ: هُوَ الْفَرْدُ الَّذِي لَمْ يَزَلْ وَحْدَهُ وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُ آخَرُ. وَالْأَحَدُ: هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِالْوَحْدَانِيَّةِ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ، فَلَا يُشَارِكُهُ فِي صِفَاتِهِ أَحَدٌ، وَلَا يُقَاسُ بِهِ شَيْءٌ مِنْ خَلْقِهِ

“Al-Waahid adalah Zat yang Maha Tunggal yang senantiasa menyendiri dan tidak ada sesuatu pun yang bersama-Nya. Dan Al-Ahad adalah Zat yang menyendiri dengan sifat keesaan pada Zat dan sifat-sifat-Nya, sehingga tidak ada seorang pun yang menyamai-Nya dalam sifat-sifat-Nya dan tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang dapat dianalogikan dengan-Nya.” [12]

Qiwamussunnah Al-Asbahani turut mempertegas pemaknaan ini dengan berkata,

الْأَحَدُ: هُوَ الَّذِي لَا شَبِيهَ لَهُ وَلَا مِثْلَ، وَالْوَاحِدُ: الَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي خَلْقِهِ وَلَا فِي مُلْكِهِ، فَالْوَاحِدُ مُنْفَرِدٌ بِالْمُلْكِ وَالْخَلْقِ، وَالْأَحَدُ مُنْفَرِدٌ بِالذَّاتِ وَالصِّفَاتِ

“Al-Ahad adalah Zat yang tidak ada penyerupa bagi-Nya dan tidak ada permisalan bagi-Nya. Dan Al-Waahid adalah Zat yang tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan-Nya dan tidak pula dalam kerajaan-Nya. Maka Al-Waahid adalah Zat yang menyendiri dalam dominasi dan penciptaan, sedangkan Al-Ahad adalah Zat yang menyendiri dalam Zat dan sifat-sifat-Nya.” [13]

Tatkala menafsirkan surah Al-Ikhlas, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan keagungan makna Al-Ahad,

أَيْ: الَّذِي لَا نَظِيرَ لَهُ وَلَا وَزِيرَ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيهَ وَلَا كُفْءَ، وَلَا يُطْلَقُ هَذَا اللَّفْظُ عَلَى أَحَدٍ فِي الْإِثْبَاتِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، لِأَنَّهُ الْكَامِلُ فِي جَمِيعِ صِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ

“Yaitu: Zat yang tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak ada pembantu bagi-Nya, tidak ada padanan, tidak ada penyerupa, dan tidak ada yang sederajat dengan-Nya. Dan lafaz ini tidak dimutlakkan kepada seorang pun dalam konteks penetapan (itsbat) kecuali cuma kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena Dialah Zat yang Maha Sempurna dalam seluruh sifat dan perbuatan-Nya.” [14]

Syekh Abdurrahman as-Sa’di memberikan jabaran yang sangat bening dan komprehensif mengenai kedua nama ini,

(الْوَاحِدُ الْأَحَدُ) وَهُوَ الَّذِي تَوَحَّدَ بِجَمِيعِ الْكَمَالَاتِ، بِحَيْثُ لَا يُشَارِكُهُ فِيهَا مُشَارِكٌ، وَيَجِبُ عَلَى الْعَبِيدِ تَوْحِيدُهُ عَقْلًا وَقَوْلًا وَعَمَلًا، بِأَنْ يَعْتَرِفُوا بِكَمَالِهِ الْمُطْلَقِ، وَتَفَرُّدِهِ بِالْوَحْدَانِيَّةِ، وَيُفْرِدُوهُ بِأَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ كُلِّهَا

“(Al-Waahid Al-Ahad) adalah Zat yang Maha Esa dalam seluruh sifat kesempurnaan, sekira tidak ada satu pun sekutu yang menyertai-Nya dalam kesempurnaan tersebut. Dan wajib bagi seluruh hamba untuk mentauhidkan-Nya secara akal, ucapan, dan perbuatan; yaitu dengan mengakui kesempurnaan absolut milik-Nya, pengesaan-Nya dengan sifat wahdaniyyah, serta memurnikan seluruh jenis peribadahan cuma untuk-Nya semata.” [15]

Imam Ibnul Qayyim dalam bait Al-Kafiyah asy-Syafiyah (An-Nuniyyah) melantunkan bait-bait elok tentang keesaan Allah,

وَكَذَاكَ رَبُّ الْعَرْشِ شَيْءٌ وَاحِدٌ … لَا كَالْأَنَامِ وَلَيْسَ ذَا نُقْصَانِ

سُبْحَانَهُ مَلِكًا عَظِيمًا شَأْنُهُ … فَرْدًا بِلَا مِثْلٍ وَلَا أَعْوَانِ

“Dan demikian pula Rabb pemilik Arsy adalah Zat yang Maha Esa, tidak serupa dengan makhluk dan tidak memiliki kekurangan.

Maha Suci Dia sebagai Raja yang Maha Agung urusan-Nya, Maha Tunggal tanpa ada permisalan dan tanpa butuh para penolong.” [16]

Hikmah penggabungan nama “Al-Waahid” dengan “Al-Qahhaar”

Di dalam Al-Qur’anul Karim, nama Al-Waahid disebutkan sebanyak enam kali berdampingan secara langsung dengan nama Allah Al-Qahhaar (Yang Maha Menundukkan dan Maha Mengalahkan), seperti dalam QS. Ar-Ra’d: 16, QS. Ibrahim: 48, QS. Shaad: 65, QS. Az-Zumar: 4, dan QS. Ghafir: 16. Penggabungan dua nama ini memiliki keterikatan arti yang sangat mendalam.

Sifat keesaan (al-wahdaniyyah) yang sejati tidak akan terwujud dengan sempurna kecuali jika pemiliknya memiliki dominasi absolut yang menundukkan seluruh makhluk (al-qahr). Betapa banyak raja maupun penguasa di bumi yang mau menjadi penguasa tunggal, namun kekuasaannya rapuh karena tidak sanggup menundukkan para kompetitor dan musuh-musuhnya. Adapun Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dialah Al-Waahid (Maha Esa) karena seluruh makhluk eksis di bawah genggaman, pengaturan, dan penundukan-Nya (Al-Qahhaar). Tidak ada satu pun makhluk yang dapat keluar dari kehendak-Nya, dan tidak ada yang bisa menolak takdir-Nya.

Syekh Abdurrazzaq al-Badr menerangkan hikmah ini dengan sangat indah,

وَاقْتِرَانُ اسْمِ اللَّهِ (الْوَاحِدِ) بِاسْمِهِ (الْقَهَّارِ) فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّهُ لَا يَكُونُ وَاحِدًا عَلَى الْإِطْلَاقِ إِلَّا مَنْ كَانَ قَهَّارًا لِكُلِّ شَيْءٍ، وَلَا يَكُونُ قَهَّارًا إِلَّا مَنْ كَانَ وَاحِدًا لَا شَرِيكَ لَهُ، فَالْقَهْرُ يَسْتَلْزِمُ الْوَحْدَانِيَّةَ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ تَسْتَلْزِمُ الْقَهْرَ

“Penyandingan nama Allah Al-Waahid dengan nama-Nya Al-Qahhaar memberitahu dalil bahwa tidak ada yang berkuasa menjadi Zat yang Maha Esa secara absolut kecuali Zat yang menundukkan segala sesuatu. Dan tidaklah menjadi Zat yang Maha Menundukkan kecuali Dia yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Maka sifat al-qahr mengharuskan adanya al-wahdaniyyah, dan al-wahdaniyyah mengharuskan adanya al-qahr.” [17]

Konsekuensi keagamaan terhadap nama Allah “Al-Waahid” dan “Al-Ahad” bagi seorang hamba

Mengenal dan mengimani bahwa Allah adalah Al-Waahid dan Al-Ahad bukan sekadar wawasan teoritis di dalam benak, melainkan mesti membuahkan efek nyata dalam akidah, ibadah, dan adab seorang mukmin:

Pertama, memurnikan amalan cuma untuk Allah semata (ikhlas ad-din)

Konsekuensi paling mendasar dari keagamaan kepada Al-Waahid dan Al-Ahad adalah memurnikan seluruh amalan lahir maupun batin cuma kepada-Nya, serta meninggalkan segala bentuk kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil (riya’ dan sum’ah). Karena Allah adalah satu-satunya Pencipta yang Maha Esa dalam memberi rezeki dan mengatur lingkungan semesta (tauhid rububiyyah), maka pikiran sehat dan fitrah yang lurus menuntut agar Dia pula satu-satunya Zat yang disembah, dimintai pertolongan, ditakuti, dan dicintai dengan puncak ketundukan (tauhid uluhiyyah). Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan kebaikan yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Kedua, menyatukan ketergantungan hati (tauhid al-qashd wal-iradah)

Hamba yang meyakini bahwa Tuhannya adalah Al-Ahad, dia tidak akan membiarkan hatinya terbelah kepada banyak tumpuan harapan. Ia tidak akan meminta pertolongan kepada kuburan keramat, tidak meminta berkah kepada jimat dan dukun, serta tidak menggantungkan masa depannya kepada makhluk yang sama-sama lemah. Hatinya bergabung (jami’ul qalb) cuma tertuju kepada Allah dalam setiap keinginan dan kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan hakikat ini kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa,

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah; dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Ketiga, meruntuhkan rasa takut dan mengharapkan kepada kecuali Allah

Keyakinan bahwa Allah adalah Al-Waahid Al-Qahhaar menumbuhkan keberanian dan keteguhan kepercayaan dalam menghadapi intimidasi manusia. Seorang mukmin sadar bahwa seluruh makhluk eksis di bawah takdir dan dominasi Allah yang Maha Tunggal. Tidak ada satu pun manusia yang bisa mendatangkan khasiat maupun menimpakan mara ancaman melainkan atas persetujuan Allah. Hatinya merdeka dari rasa takut yang menghinakan kepada sesama makhluk, dan ia cuma takut kepada kemurkaan Zat yang Maha Menguasai ubun-ubun seluruh hamba.

Keempat, mengesakan Allah dalam kepatuhan hukum dan hukum

Konsekuensi dari nama Al-Waahid adalah menetapkan bahwa hak membikin hukum dan aturan tertinggi hanyalah milik Allah semata. Seorang mukmin tidak menjadikan hawa nafsu, kebiasaan istiadat yang menyimpang, maupun perkataan figur mana pun eksis di atas firman Allah dan hadis Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menerima seluruh ketetapan aturan hukum dengan lapang dada dan kepasrahan yang utuh.

Semoga Allah Ta’ala meneguhkan keagamaan kita di atas tauhid yang murni, membersihkan hati kita dari noda-noda syirik yang samar, mengaruniai kita kecintaan membaca dan mentadabburi surah Al-Ikhlas, serta mengumpulkan kita di akhirat kelak berbareng para hamba-Nya yang mengesakan Al-Waahid Al-Ahad. Aamiin.

***

Penulis: Muhammad Insan Fatin

Artikel Kincai Media

Catatan Kaki:

[1] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 131; Dr. Nawal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 108.

[2] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 131.

[3] HR. Abu Daud (no. 1493), At-Tirmidzi (no. 3475), dan Ahmad (5: 350, no. 22965). Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud, 1: 415.

[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 6: 90.

[5] Al-Jauhari, Ash-Shahah taaj al-Lughah wa Shahaah al-’Arabiyyah, 2: 552.

[6] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 3: 447.

[7] Lihat klarifikasi rinci kaidah bahasa ini oleh Al-Khaththabi dalam Sya’n ad-Du’aa’, hal. 91–92, dan Ibnul Atsir dalam An-Nihayah fi Gharib al-Hadits, 1: 35.

[8] Muhammad bin Hamud an-Najdi, An-Nahj al-Asma fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 148–149.

[9] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 132.

[10] Ath-Thabari, Jami’ al-Bayaan ‘an Ta’wiil Aayi al-Qur’an, 3: 264.

[11] Az-Zajjaj, Tafsiir Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 58.

[12] Al-Khaththabi, Sya’n ad-Du’aa’, hal. 90–91.

[13] Qiwamussunnah al-Asbahani, Al-Hujjah fi Bayaan al-Mahajjah, 1: 153.

[14] Ibn Katsir, Tafsiir al-Qur’an al-‘Azhiim, 8: 527.

[15] Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di, Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan fi Tafsiir Kalaam al-Mannaan, hal. 948.

[16] Ibnul Qayyim, Al-Kaafiyah asy-Syaafiyah fi al-Intishaar lil-Firqah an-Naajiyah, hal. 198.

[17] Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 133.

Daftar Pustaka

Al-Asbahani, Qiwamussunnah Abu al-Qasim Ismail bin Muhammad. 1991. Al-Hujjah fi Bayaan al-Mahajjah wa Syarh ‘Aqidah Ahlis Sunnah. Riyadh: Dar ar-Rayyah.

Al-Badr, Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin. 2015. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.

Al-‘Ied, Nawal binti Abdul Aziz. 2019. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. Riyadh: Dar al-Hadits.

Al-Jauhari, Abu Nasr Ismail bin Hammad. 1987. Ash-Shahah taaj al-Lughah wa Shahaah al-’Arabiyyah. Beirut: Dar al-’Ilm lil-Malayin.

Al-Khaththabi, Abu Sulaiman Hamad bin Muhammad. 1984. Sya’n ad-Du’aa’. Damaskus: Dar al-Ma’mun.

An-Najdi, Muhammad bin Hamud. 2020. An-Nahj al-Asma fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah al-Imam adz-Dzahabi.

As-Sa’di, Abdurrahman bin Nasir. 2000. Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan fi Tafsiir Kalaam al-Mannaan. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah.

Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. 1980. Jami’ al-Bayaan ‘an Ta’wiil Aayi al-Qur’an. Makkah: Dar at-Tarbiyah.

Az-Zajjaj, Abu Ishaq Ibrahim bin as-Sari. 1975. Tafsiir Asmaa’ Allah al-Husna. Kairo: Dar al-Ma’mun.

Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. 1979. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah. Kairo: Dar al-Fikr.

Ibn Katsir, Abu al-Fida’ Ismail bin Umar. 1999. Tafsiir al-Qur’an al-‘Azhiim. Riyadh: Dar Thaibah.

Ibn Manzhur, Muhammad bin Mukarram. 1994. Lisan al-Arab. Beirut: Dar Shadir.

Ibnul Atsir, Majduddin Abu as-Sa’adat al-Mubarak. 1979. An-Nihayah fi Gharib al-Hadits wal-Atsar. Beirut: Al-Maktabah al-’Ilmiyyah.

Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abi Bakr. 2007. Al-Kaafiyah asy-Syaafiyah fi al-Intishaar lil-Firqah an-Naajiyah (An-Nuuniyyah). Makkah: Dar ‘Alam al-Fawa’id.

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads